Ibu jari Halinka bergerak lincah menyentuh layar ponselnya. Sekarang, wanita itu tengah mengikuti survey online dari salah satu situs. Walaupun ia harus mengumpulkan poin dikit demi sedikit hingga akhirnya bisa ia tukarkan dalam bentuk uang, ia punya tambahan pemasukan dari sana. Uangnya bisa dibuat untuk membeli sekardus mie instan. Yang penting intinya harus sabar. Daripada cuma rebahan tidak jelas dikasur, 'kan?
Setelah hampir setengah jam Halinka berkutat dengan ponselnya, ia beranjak dari kasur dan berjalan menuju balkon apartemennya. Ia butuh udara segar.
Halinka berpikir, apa ia mengajak Indah pergi keluar saja? Tapi ia agak khawatir juga. Kan temannya itu sedang hamil besar. Kalau kecapekan gara-gara Halinka bagimana? Lagian sudah tiga hari Indah tidak muncul dihadapan Halinka sejak malam itu. Malam dimana Dewa mencari keberadaan istrinya itu di apartemen Halinka. Lalu akhirnya Halinka ikut Dewa mencari Indah, dan ternyata sahabatnya itu sedang berada dirumah orangtuanya.
Dan satu lagi, malam dimana ia harus menyuruh Arzito pulang tanpa menjelaskan apapun yang terjadi pada pria itu. Toh akhirnya pasti dia mengerti juga, 'kan? Atau kalau Arzito berpikir terlalu berlebihan ya bodo amat lah nanti saja kalau mereka bertemu lagi dan Arzito bertanya baru Halinka akan jelaskan. Walaupun sebenarnya Halinka tidak mempunyai kewajiban untuk menjelaskan keadaan atau bisa disebut juga rahasianya kepada tetangga baru yang masih terasa asing untuknya.
Tapi jujur saja. Urat malu Halinka sepertinya kian menyusut dihadapan lelaki itu. Kenapa Tuhan selalu mengijinkan Arzito melihat kebodohan yang ada didalam dirinya sih?
Tapi Halinka bersyukur juga sampai hari ini ia belum bertemu dengan lelaki itu lagi. Entah kemana lelaki itu pergi. Seperti sekarang, unit apartemen disebelahnya itu tampak sepi tak berpenghuni. Pintu balkonnya tertutup rapat, begitu pula dengan jendela kaca yang tertutup tirai berwarna abu-abu itu.
Mungkin saja pria itu sedang sibuk. Namanya juga artis. Begitu pikir Halinka. Walaupun Halinka sendiri tidak mengerti bagaimana jadwal kerja seorang publik figur.
Drrrtttt drrtttt
Ponsel yang dipegang Halinka bergetar. Tanda ada pesan masuk.
Arzito :
Lin?Halinka memang sudah menyimpan nomor ponsel pria itu beberapa saat setelah ia tiba di apartemennya sepulang dari restoran bersama Arzito waktu itu. Tapi terakhir Arzito chat dia ya untuk menyuruh Halinka menyimpan nomornya, itu saja. Makanya Halinka agak heran saat ini. Ada keperluan apa Arzito tiba-tiba mengirim pesan tanpa keterangan yang jelas seperti ini? Mau mengungkit masalah tiga hari lalu? Tentang foto pemuda yang Halinka simpan dan kenyataan siapa orang sebenarnya yang ada di foto itu? Dih, kurang kerjaan banget kan?
Halinka :
Apa?Arzito :
Cuma mau mastiin kamu masih hidup apa ga?Halinka :
Kayanya ak udh di alam barzah nihArzito :
Wah, titip salam dong kalo gituHalinka :
Sma?Arzito :
Sama antis.
Bilangin, tolong bacotnya dikurangi dikit.
GituHalinka :
Maap sekali. Orang kaya gitu ga ada digolongankuArzito :
Emang kamu di alam barzah level berapa sih?Halinka :
Lvl 5. Ini lidah udh kebakar kepedesan gila.Arzito :
Dikira seblak :(Halinka :
Kan ak pecinta makananArzito :
Kalau aku pecinta wanitaHalinka :
Dih. NjsEntah kenapa, dibayangan Halinka saat ini ia melihat seorang pria tengah tertawa sambil memegang perutnya atau sedang menepuk sesuatu yang ada disekitarnya. Astaga.
Arzito :
Aku lagi syuting jadi bintang tamu program travelling di luar kota.Ya terus? Harus laporan sama Halinka gitu? Indah saja teman dekatnya jarang seperti ini. Sebenarnya Arzito mau apa sih sama Halinka? Kan Halinka jadi pusing.
Halinka :
Oh.Arzito :
Gitu aja? :"Halinka :
Mau apa lagi?Arzito :
Nggak ada sih.
Mau minta oleh-oleh ga?Halinka :
GaArzito :
Enak-enak loh makanan disiniHalinka :
Emang dmn?Arzito :
Kan kepancing kalo sama makanan :vHalinka :
Dih ngeselin emotnyArzito :
Wkwk sori sori
Eh, soal tadi serius
Mau oleh-oleh apa?Halinka :
Ga usah. Beneran. Ga enak aku.Arzito :
Nggak apa-apalah.
Sama teman ini.Halinka :
Sejak kpn kita temanan?Arzito :
Kamu nggak mau jadi temanku?
Padahal aku siap sedia loh jadi tempat curhat :)Halinka :
Nyindir nih?Arzito :
Merasa?Tuh, 'kan. Ujung-ujungnya Arzito dimata Halinka pasti nyebelin.
Arzito :
Beneran ga mau temenan?
Di read dong nih?
Ok
Asal ga di blockTemenan ya? Bukannya apa, sejak dulu circle pertemanan Halinka sempit sekali. Temannya sedikit, itu-itu saja. Bahkan teman lelakinya yang benar-benar dekat cuma Dewa. Itupun hubungan mereka sangat susah dijelaskan. Mungkin bagi Dewa, Halinka hanyalah seorang teman. Tapi baginya, Dewa lebih dari itu. Dan karena itu ia menyesal. Jadi, ia tak mau berada diposisi seperti itu lagi. Karena untuk sembuh, Halinka harus melewati proses panjang yang sangat melelahkan, sendirian.
[].
05/06/2019
Kalau nggak salah. Dulu part 10 aku update waktu Hari Raya Idul Fitri juga. Udah setahun dan masih sampai sini aja. Harap sabar ya readers sayang :))
Aku juga sedih kalau nggak bisa update 😭Makasih juga buat animusokifah19 yang sudah menjadi inspirasi atas chat gblk diatas huahahahaha 💜
Oh iya, Mohon maaf lahir batin juga ya 💜💜💜
Jangan lupa vote dan komen juga biar nambah semangat hehe

KAMU SEDANG MEMBACA
ONLY HUMAN
ChickLitDianggap 'berbeda' karena tak sesuai standar kecantikan yang ada di masyarakat, membuat Halinka menerima banyak tekanan dan hinaan. Binyok, babon, gajah, hingga Bombom_tokoh anak gendut di Ronaldo Wati_ mereka sematkan dibelakang namanya. Hal itu me...