Ada yang bilang, kalau kamu punya paras yang cantik atau tampan, hidupmu bukan dimulai dari 0 persen melainkan 50 persen. Benar atau salah?
Kalau Halinka disuruh menjawab, ia tanpa ragu pasti bilang, "ya, itu benar. Sangat-sangat benar. Karena orang yang jelek seperti saya ini yang dapat merasakannya."
Karena orang-orang yang mempunyai beauty privilege selalu mendapatkan sesuatu lebih mudah. Mau buktinya? banyak. Dalam hal apa? pekerjaan? lingkungan sosial? pasangan? apalagi.
Bagi Halinka, 'Don't judge a book by the cover' cuma kalimat penghibur semata. Semua itu tidak ada artinya ketika lagi-lagi kamu, yang tidak mempunyai paras rupawan ini kalah langkah dengan temanmu yang cantik, tidak di ajak ngobrol karena tidak cantik dan langsing, dan seringkali mereka tidak mau menatapmu karena hanya terfokus dengan teman cantik yang ada disampingmu.
Merasa tidak adil? tentu saja. Tapi mau protes juga bagaimana dan ke siapa? ke Yang Maha Kuasa? Bisa di blacklist dia dari surga.
Lalu, apa yang dia lakukan?
Merenung? Separuh hidupnya sudah dihabiskan untuk merenung. Merasa insecure pun sudah biasa alias sudah terlalu sering hingga dia sudah terlalu muak dengan rasa itu. Berusaha memperbaiki diri? tentu saja. Itu cita-cita 'sampingannya' selain menjadi komikus terkenal. Berbagai macam diet sudah dilakukannya, walaupun endingnya semua gagal total. Memakai skincare biar wajah lebih enak dipandang juga sudah. Malah sekarang ia menjadi kecanduan! segala produk baru bagaikan racun baginya yang membuat dompetnya menjerit dengan keras. Yah, walaupun wajahnya juga masih begini-begini saja.
Dan segala hal yang dilakukan Halinka saat ini sebenarnya tujuannya cuma satu. Apalagi kalau bukan melanjutkan hidup. Toh, orang yang tidak rupawan sepertinya juga masih pantas hidup kan? hehe.
Tapi, apa yang Halinka lihat dan dengar saat ini? orang seperti Arzito tiba-tiba bilang ingin mengakhiri hidupnya?
Iya, teman-teman. Kalian tidak salah membaca. Arzito yang punya segalanya. Arzito yang tampan, kaya, dan disukai banyak orang. Arzito yang selalu ceria-terbukti karena dia sering tertawa tidak jelas-. Arzito yang... ah pokoknya hidupnya jelas sangat baik dimata Halinka.
Arzito memang belum pulang dari apartemennya. Mereka masih duduk santai sambil mengobrol hingga beberapa menit lalu ada panggilan di ponsel pria itu. Dan Arzito pun permisi untuk menelpon di kamar mandi. Halinka mengerti dan berpikir mungkin itu obrolan yang sangat private sehingga pria itu harus mengambil jarak yang lumayan jauh. Tapi sejauh-jauhnya kamar mandi yang dihalangi tembok itu dari tempat mereka duduk tidak lebih dari empat meter. Tentu saja Halinka masih bisa mendengar ketika Arzito berteriak marah.
"JANGAN MINTA DI KASIHANI KALAU TIDAK TAU CARANYA MENGHARGAI ORANG LAIN!"
"IYA. AKU PUN (..….......) . AKU PUN SAMA. SAMA-SAMA PINGIN MATI. KALAU BUKAN KARENA (............) AKU SUDAH TIDAK ADA DARI DULU."
Sayangnya Halinka tidak bisa mendengar dengan jelas. Sehingga ada beberapa kata yang ia tidak dengar. Tapi meskipun begitu, ia cukup tahu arti dari ucapan Arzito.
Beberapa saat kemudian, Arzito keluar kamar mandi dengan raut muka yang berbeda. Matanya memerah. Halinka gelisah dalam duduknya, karena suasana mendadak canggung.
"Mmm- aku yakin kamu pasti dengar."
Arzito membuka suara.
"Maaf-"
"Nggak papa. Aku sadar tadi kayaknya ngomongnya terlalu keras."
"Maaf," ucap Halinka sekali lagi.
"Iya, nggak apa-apa, Linka."
Entah keberanian dari mana, tiba-tiba Halinka memegang punggung tangan Arzito dan mengelusnya pelan.
"Aku beneran nggak apa-apa," Nada suara Arzito bergetar.
"Yap. You're stronger than you know."
"Shit." umpat Arzito sebelum menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Lalu Halinka melihat bahu pria itu begetar. Arzito menangis. Pria yang dipikirnya punya segalanya dan nyaris sempurna dimata orang itu ternyata juga punya masalah, kesedihan, kekecewaan yang sama seperti dirinya. Mungkin ini yang dimaksud Arzito kepada Halinka dulu. Bahwa mereka sama. Mereka tidak ada bedanya sebagai manusia. Mereka yang berparas bagus atau tidak, mempunyai problem sendiri dalam hidup.
Yah, walaupun jika berkaca pada teori beauty privilege yang dia eluh-eluhkan bertahun-tahun itu memang benar adanya. Jalan hidup Halinka mungkin memang tidak semudah mereka. Tapi ia juga tidak punya hak untuk memandang hidup mereka sebagaimana ia melihat orang memandang rendah fisiknya.
[].

KAMU SEDANG MEMBACA
ONLY HUMAN
ChickLitDianggap 'berbeda' karena tak sesuai standar kecantikan yang ada di masyarakat, membuat Halinka menerima banyak tekanan dan hinaan. Binyok, babon, gajah, hingga Bombom_tokoh anak gendut di Ronaldo Wati_ mereka sematkan dibelakang namanya. Hal itu me...