Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jin berlari menuju lorong ICU, tidak peduli ada yang mengenalinya atau tidak. Lalu, dia berhenti tepat di depan Chae, sahabatnya Seoji. Chae menggeleng lalu menghampiri Jin. Mengajaknya untuk melihat kondisi Seoji.
"Seokjin-oppa.." lirih Seori, lalu memeluk erat Jin.
"maukah kau menjadi wali kami...?" tanya Seori, sambil terisak-isak.
Seoji dan Seori adalah dua kakak beradik yatim piatu. Jin menyukai Seoji, bukan karena simpati, tapi karena pertemuan pertama mereka, yang membuat Jin bisa bertahan sampai sekarang.
Semua itu berkat Seoji. Sekarang perempuan itu terbaring lemas, entah dimana dia berada, Jin yakin dia pasti akan kembali.
"gwenchana. Chae, ajak Seori keluar untuk makan malam. Kamu belum makan kan?"
Seori menggeleng, lalu mengikuti apa yang Jin suruh.
"setelah makan, pulanglah ke apartemen, Chae-noona akan menemani kamu, okey."
"baik, aku akan mendengarkan semua perkataan Oppa, tapi tolong... jangan tinggalkan kakak ku."
"iya, kalau kamu menurut, kakak mu pasti akan senang."
"terima kasih sebelumnya Oppa..." kata Seori, sambil memeluk Jin.
"sama-sama, besok kalian bisa kembali kesini lagi. Chae, ambil ini." kata Jin, sambil mengeluarkan kartu kredit.
"buat apa? Aku masih ada kok, simpan itu. Besok kami kesini, thank's Jin~"
Jin hanya mengangguk sambil tersenyum. Ketika melihat mereka sudah jauh, Jin langsung menemui perawat jaga.
"aku walinya, Kim Seok Jin. Bisakah aku melihat rekam medisnya?" pinta Jin, sambil mengeluarkan kartu dari dompet nya.
Perawat yang melihatnya langsung membungkuk memberi salam pada Jin, lalu memberikan catatan rekam medis Seoji.
"Dr. Kang Byul Na?" tanya Jin.
"iya."
"jangan beritahu soal ini, aku akan mengingat namamu."
"baik." jawab perawat itu.
. . .
"Jin-hyung!!!" teriak Jhope.
"hey, jangan teriak-teriak di rumah sakit." bisik Sejin.
"sorry... tadi aku lihat Jin-hyung disana."
"ngawur." sela Sejin. "Jin gak disini tahu, ayo!"
"aku serius, Hyung!"
Jhope tanpa di suruh langsung berlari mengejar Jin, tapi terlambat.
Dia hanya melihat lorong yang kosong. Tapi Jhope masih berjalan mengitari lorong sepi itu.
Di ujung lorong, dia melihat seorang perempuan yang terbaring sendiri tanpa siapapun.
Jhope melihat nama pasien itu. Kim Seo Ji, wali Kim Seok Jin.
Jhope benar. Apa yang dia lihat barusan tadi memang benar adalah Jin.
"ada apa?" tanya seseorang yang berada di belakang Jhope.
Spontan Jhope kaget, lalu melihat Jin yang sudah ada di depannya.
"ini apa?" Jhope menunjuk papan nama pasien tadi.
"kalau aku cerita, kamu siap?"
"ada apa Hyung?" tanya Jhope, bingung, lalu Jin menyuruhnya untuk mengobrol di luar.
"di atap gedung rumah sakit ini, aku bertemu untuk pertama kalinya dengan perempuan yang tadi kamu lihat. Kim Seo Ji, umur 12 tahun, sudah menjadi yatim piatu karena ulah keluarga ku. Kedua orangtuanya, meninggal karena kecelakaan. Ketika aku tahu kebenarannya, semua kecelakaan itu disengaja oleh keluargaku. Dunia politik, bisnis bahkan dunia seni seperti kita pun juga menggunakan cara kotor. Aku muak. Dan di hari yang sama, Kakek ku juga meninggal. Semua konspirasi menyatu. Makanya aku keluar memberanikan diri, mengambil jalan lain, sebagai seorang artis. Dan malam ini, kamu tahu... dia lagi mengendari sepedanya setelah pulang part time, lalu SUV putih milik Yeojin melaju cepat, menghantam dia sampai seperti itu~"
"Hyuuung..." Jhope menangis. "ini gak adil..."
"memang, memang gak adil. Tapi, siapa yang bisa tahu kejadian di masa depan? Aku sudah membaca rekam medis Yeojin, itu memang gak adil kalau di bandingkan dengan Seoji. Tapi aku harus bagaimana? Aku hanya bisa berharap dan berdoa..."
Jin mengeluarkan air mata setelah sekian lama dia tidak menangis untuk seseorang. Jhope memeluk erat Jin, menangis karena keadaan yang tidak adil bagi sepihak.
"Seoji pasti berpikir... aku seperti ini, bukan karena hukuman, tapi karena memang kehendak-Nya."
Jhope semakin menangis, setelah mendengar perkataan Jin tadi.
"aku ingin menemuinya... Hyung... tapi, mungkin, aku akan tiba-tiba menangis di depannya setelah melihatnya."
"someday, aku akan mempertemukan kalian..." jawab Jin, sambil mengusap air matanya.
"Suga masih diam, dia menjadi dirinya 'lagi', aku harus kuat untuk kalian. AKU HARUS KUAT!" seru Jhope, sambil menghela nafas panjang, lalu tersenyum seperti biasa.
"bagaimana dengan V? Aku rasa dia yang lebih terpukul."
"kenapa bisa begitu?"
"karena V, lebih tulus mencintai Suga. Aku... bisa melihat itu di matanya. Kamu kembalilah ke Suga, jangan biarkan dia sendiri dan jangan beritahu hal ini kepada dia. Aku tidak mau dia semakin stress."
"apa kamu bakal diam aja, Hyung?"
"soal kasus ini, jangan beritahu member lain ataupun Sejin-hyung. Aku gak mau semuanya rumit. Aku akan berusaha mengurus sisanya."
"oke Hyuung... Kamu juga harus kembali."
"ya."
...
Bukan tidak adil atau adil baginya atau bagi dia. Semua sama. Rata. Tidak berat sebelah, atau berbanding sekian. Semua sama. Rata. Jadi, bersyukurlah untuk setiap nafas yang keluar dari hidung-mu, karena itu lebih berharga daripada kekuasaan, materi dan lainnya.
-Jin.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.