Part 17

85 4 2
                                        

Happy reading😊
Maaf jika typo bertebaran✌

"Nih" Ucap Ethan sambil menyodorkan segelas teh hangat pada Digna. Setelah selesai kegiatan bersih-bersih ala Ethan akibat lengannya yang terkena bekas muntahan Digna, ia pergi ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk Digna. Walaupun ada bibi, ia tidak mau merepotkan bibi karena sudah bekerja seharian dan pasti kelelahan. Sungguh lelaki yang baik hati.

Digna yang sedang memainkan gitar secara tak beraturan memalingkan wajahnya pada Ethan kemudian menautkan kedua alisnya, bingung.

"Haa? Buat aku? Aku kan nggak minta dibikinin teh." Digna mengambil mug dari tangan Ethan kemudian menyesap teh itu.

"Nggak minta tapi diminum. Dasar. Kamu kan baru abis muntah jadi aku pikir teh hangat cocok buat kamu. Biar agak mendingan dikitlah.." Ethan kemudian duduk dilantai disamping pacarnya dengan punggung yang menyandar pada sofa.

"Ughhh...kamu co cwittt banget...bikin aku tambah nggak tega buat mutusin kamu" ucap Digna sok dramatis dan menatap Ethan dengan pandangan memuja.

Ethan yang mendengar kata "mutusin" dari mulut pacarnya seketika langsung mendelik tajam ke arah pacarnya.

"Ha? Mutusin aku? Emang aku salah apa, hm?" Ethan mengambil mug dari tangan dan berlagak menatap tajam ke arah pacarnya meminta penjelasan.

"Iya Sergio. Aku ingin memutuskan hubungan kita. Ini semua karena kau. Kau terlalu baik untukku. Marimar tak cocok bersanding denganmu, Sergio" Ucap Digna dengan nada sendu yang dibuat-buat dan kepala yang menunduk.

."Hahaha...Marimar auww..coste nita soy, conmis abuelos creci yo.." Ethan menyenandungkan lagu Marimar disela-sela tawanya.

"Wuahahaha...kamu juga tahu serial telenovela? Hahahaha" Digna terbahak mendengar pacarnya menyanyikan lagu dari salah satu serial telenovela yang terkenal, Marimar.

"Gimana nggak tahu, sampai sekarang aja mama masih nonton serial itu..aku sampai bosan dengar lagunya" Jawab Ethan sambil sesekali tertawa Kecil kemudian mengambil gitar dan memetik senar-senarnya perlahan.

"Oh ya? Ya ampun...tapi lucu tau."

"Aku nggak nyangka kalo pacaran sama kamu bisa sekacau ini. Aku pikir kamu tuh cewek kaku yang kaku banget ternyata kaku-nya kamu tuh cuma selimut aja. Dalamnya tuh gila plus jorok. Hahaha" Ucap Ethan tersenyum sambil menatap Digna kemudian kembali memainkan gitar itu

"Kalo gila dan jorok kenapa nggak diputusin aja?" Tanya Digna sengaja memancing.

Ethan yang sedang fokus pada gitarnya kemudian mendekatkan kepalanya di telinga Digna dan berbisik "Gimana mau putusin kamu kalo aku udah terlanjur cinta" kemudian tanpa izin dari Digna, ia mengecup pipi pacarnya. Dan ini kali pertama ia mencium pacarnya. Walau kata orang ciuman pertama itu di bibir namun bagi Digna, itulah ciuman pertamanya.

Digna terdiam, kaku. Ini kali pertamanya. Walau menurutmu berlebihan, namun ini yang ia rasakan. Perasaan seorang gadis kaku, antara bahagia, kesal, bingung semuanya bercampur.

Ethan yang melihat reaksi pacarnya seperti itu, merasa bersalah karena ia sudah lancang. Ia tahu Digna tak menyukai hal itu. Ini bukan kali pertama bagi Ethan, namun berulang kali dengan para mantannya. Bahkan ciuman-ciuman sebelumnya lebih dari ini, lebih bergairah, lebih menuntut dan ia menikmatinya. Tapi kali ini adalah yang paling tulus.

"Na, aku minta maaf. Aku nggak ada maksud apa-apa, Na. Ini tulus, Na. Maafin ak..." Ucapannya terputus karena Digna tiba-tiba mencium pipinya kemudian tersenyum.

"Ciuman kakak-adek. Aku sayang kamu." Ucap Digna sambil tersenyum.

Ethan masih terdiam, speechless. Ia pernah berciuman bahkan berkali-kali tapi ia tak pernah merasakan apa yang saat ini ia rasakan. Susah dijelaskan. Kemudian ia tersenyum " Aku juga sayang kamu." ucapnya sedikit berbisik.

Bad Boy? Serius?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang