Happy reading 😊
Maaf jika typo bertebaran ✌🏻
Ethan tersenyum lembut kearah pacarnya. Digna berjalan ke ranjang rumah sakit tempat Ethan berbaring.
"Udah mendingan?" Tanya Digna ketika sudah duduk di samping ranjangnya.
"Sedikit. Kenapa nggak bisa dihubungi?" Ethan memegang tangan pacarnya sesekali mengelus-elus
"Kamu kan hebat. Kenapa bisa celaka?" Digna balik bertanya, terdengar nada kekesalan didalamnya.
"Karena nggak ada kamu makanya aku nggak fokus," Ethan mengacak rambut pacarnya.
"Kamu tuh kenapa sih keras kepala banget. Ingat ya, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga dan itu terjadi sama kamu sekarang" ucap Digna sambil mencubit lengan pacarnya karena saking kesal
"Auww...jahat banget," Ethan meringis sambil mengelus-elus lengannya " Jadi selama ini aku tupai buat kamu? Aku bukan manusia?"
"Ck..jangan bercanda deh..aku serius." Balas Digna
"Jangan serius mulu nanti berat. Biar aku aja" Ethan tersenyum sambil mengedipkan mata.
"Apaan sih. Nggak jelas deh. Udah ah..aku mau pulang."
"Jahat banget jadi pacar. Ini belum sampe semenit sayang." Ucap Ethan diikuti kedua tangannya yang mencubit pipi pacarnya. Digna melotot dan menggigit tangan Ethan hingga ia meringis kesakitan.
"Udahlah..kamu tuh stop balap-balapan lagi. Kamu nggak kasian sama diri kamu? Aku tahu aku nggak berhak atas hidup kamu, tapi seenggaknya kamu juga mikirlah kalo kesenangan kamu resikonya tinggi, kenapa masih terus dilakuin? Aku ngomong gini karena aku sayang kamu. Ini bukan rasa sayang sebagai pacar. Ini lebih dari pacar. Kamu udah kayak kakakku sendiri. Coba deh sesekali nurutin apa yang aku bilang. Kamu nggak tahu kan betapa khawatirnya orang-orang terdekatmu saat kamu ngalamin ini..hiks..hiks.." Digna terseduh dengan wajah menunduk seolah tak mau menunjukan air matanya.
"Hey... Kamu nangis? Aku baik-baik aja" Ethan memegang dagu Digna agar menatap padanya dan kemudian menghapus air mata Digna
Digna masih terus menangis. Tidak mempedulikan tatapan pacarnya.
"Kamu nggak baik-baik aja. Kalo kamu baik-baik aja, aku nggak bakal sekhawatir ini. AKU NGGAK PERLU JENGUK KAMU," teriak Digna sambil menghapus kasar air matanya
Ethan sediki terkejut. Ini kali pertama dalam hidupnya ada seseorang yang mengkhawatirkan dia hingga seperti saat ini. Ia bahagia? Tentu saja. Tapi ada rasa bersalah dalam dirinya karena tak pernah mendengar pacarnya hingga kejadian ini menimpahnya. Rasa bersalah karena membuat Digna khawatir. Ya..walaupun ada perasaan bahagia juga karena jika Digna sampai seperti ini artinya dia benar-benar menyayangi Ethan.
"Maaf," ucap Digna menunduk malu
"Aku yang salah. Aku yang harusnya minta maaf. Kamu selalu benar. Aku akan coba untuk merubah kesenanganku ini tapi nggak janji tapi bakal dicoba kok tapi nggak janji lagi," Ethan menggenggam tangan pacarnya sambil tersenyum.
"Apaan sih...Jangan bikin lucu deh. Aku lagi serius sekarang" Ucap Digna sambil tertawa kecil disela-sela tangisannya karena ucapan Ethan yang tadi.
"Nah gitu dong. Ketawa. Aku sayang kamu, Na. Jangan pernah nangis lagi. Kalo mau nangis, biar itu jadi tangisan bahagia kamu. Tapi kalo kamu nangisnya karena sedih biar sama aku aja. Biar aku satu-satunya yang menghibur kamu, ya..setelah Tuhan tentunya."
"Kok jadi berbau puitis gini sih?" Digna tertawa kecil
"Tuh kan...kamu tuh emang nggak bisa diajak ngomong serius. Kesel aku. ," Ethan memasang wajah cemberut. Kebiasaan Digna yang selalu mengganggap lucu ketika ia sedang serius. Memang pacar kampret. Ya..seperti itulah..
***
Seminggu berlalu akhirnya Ethan bisa keluar dari rumah sakit setelah dinyatakan keadaannya sudah cukup pulih. Dia hanya perlu mengurangi aktifitas-aktifitas agar lekas sembuh.
"Bagaimana kehidupan anda selama di rumah sakit? Apakah anda menikmatinya?" Tanya Andy ketika berkunjung ke rumah Ethan
"Menurut lo?" Balas Ethan ketus
Dari luar kamar terdengar suara mama Ethan yang memanggil-manggil namanya. Panggilan itu semakin dekat kearah kamar Ethan. Di pintu kamarnya, berdirilah sang mama dengan seorang gadis yang berseragam SMA.
"Nih...kurang baik apalagi anak mantu mama. Udah capek-capek belajar, pulangnya langsung jengukin kamu" ucap mama Ethan sambil mengelus Digna, si gadis berseragam SMA itu. Digna hanya tersenyum manis.
"Udah yah. Mama tinggal dulu. Mau minta tolong Bik Inem buatin minum untuk kalian."
Setelah itu mama Ethan langsung berlalu pergi. Tinggallah Ethan, Andy dan Digna yang masih setia berdiri di pintu kamar Ethan.
"Ngapain berdiri disitu, mau jadi satpam?" celetuk Ethan disertai ketawa ringan
"Ya kamu belum nyuruh masuk. Kan nggak baik kalo bertamu tapi nggak diizinin masuk" balas Digna sedikit ketus.
"Yaelah..lebay banget lo jadi cewek, biasa aja mbak," ucap Andy sambil melemparkan bantal yang ia pegang ke arah Digna.
"Apaan sih" Digna balik melemparkan bantal itu ke Andy kemudian berjalan ke arah Ethan.
"Lho kok masuk? Belum disuruh masuk lho sama yang punya kamar" Celetuk Andy.
"Terserah gue dong. Nyebelin banget sih lo jadi temen" Balas Digna sinis.
Ethan hanya tertawa kecil melihat tingkah dua orang ini.
***
"Hei, kamu udah mendingan?" tanya Digna sedikit kaget ketika melihat Ethan sudah berada di depan rumahnya.
"Sedikit. Ke sekolah bareng yuk." Ajak Ethan
Digna menatapnya sedikit takut. Takut terjadi apa-apa mungkin di perjalanan nanti.
"Tenang aja. Kita bakal sampai di tujuan dengan selamat kok. Parno banget" Ucap Ethan yang telah menangkap maksud dari mimik wajah Digna walaupun Digna belum mengeluarkna sepatah kata pun juga
"Emm..oke. Let's go"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy? Serius?
Fiksi RemajaDigna Angelista, si cewek kaku pencinta novel romantis yang selalu memimpikan memiliki kekasih dengan karakter bad boy, posesif dan terkadang romantis seperti yang sering ia temukan dalam novel romantis, apakah akan sanggup jika hal yang ia impikan...
