7💕

2.6K 195 2
                                        


Sebenernya ubby lagi asyik nonton bola nih, tapi ubby sempetin nulis FIRST. Chapter ini juga panjang gaes, so jangan lupa vote&komennya oke:)
Happy Reading!
-
-
-
-

Zita melihat perkarangan rumah Wikan yang tergolong mewah nan luas. Nuansa klasik namun menarik. Berbagai macam tanaman menghiasi taman yang terdapat di halaman rumahnya. Tetapi, ia mengingat sesuatu; ibu Wikan sudah meninggal dunia, dan ayahnya? Aish. Ia belum tahu banyak tentang Wikan, bahkan belum tahu apa-apa.

Seakan tahu apa yang dipikirkan Zita mengenai dirinya dan rumahnya, Wikan pun memberitahunya.

"Gue tinggal sendiri." ucap Wikan.

Zita menoleh, "Di rumah sebesar ini?" tanyanya tak percaya.

Wikan mengangguk, "Masuk!"

Zita menggeleng, "Kamu tinggal sendiri, terus kita rame-rame ke rumah kamu. Sedangkan kalian banyakan cowok, dan aku cewek, apa kata tetangga nantinya. Lagipula gak pantas dilihatnya." jelas Zita.

Wikan mendengus, "Ada bibi di dalam, santai aja kenapa sih." ketusnya.

Tanpa menunggu jawaban Zita, Wikan menarik paksa lengan gadis itu. Keenam temannya sudah masuk, sedangkan pemiliknya malah baru mau masuk. Tamu tak sopan.

Wikan membawa Zita menaiki satu persatu tangga, enam orang yang sedang duduk santai di sofa empuk menatap penuh tanya ke arah mereka. Tepatnya, ke arah Wikan.

"Lo aneh gak sih sama si Wikan? Ini padahal baru hari pertama mereka ketemu, tapi kok kayak udah akrab banget ya." bisik Randi.

"Yang paling aneh, baru ini Wikan mau duduk sama murid lain, cewek lagi. Ya kalian taulah dari kelas sepuluh dia maunya duduk sendiri terus." ujar Tiara.

"Kayaknya mereka ada sesuatu, backstreet mungkin." tambah Rivan.

Alvin berpikir keras, "Tapi tadi gue godain Zita dia gak cemburu sama sekali. Cuek aja."

"Di luarnya aja kali cuek, dalemnya mah kebakaran tuh hati. Saha nu nyaho kan." balas Dandi dengan logat sundanya

"Wikan susah ditebak anjir, greget sendiri gue." keluh Dafa.

"Nyaho ah abdi lieur, kumaha Wikan wéh." pasrah Dandi.

"Kalo mau gibah jangan di rumah gue." sindir Wikan yang sudah di lantai 2.

Mereka berenam hanya menyengir lebar.

Wikan menarik tangan Zita untuk ikut masuk ke dalam kamarnya.

"WOI! LO MAU BAWA TEMEN GUE KEMANA?! WAH TIATI KHILAF, KAN!" teriak Tiara.

Wikan tak menjawab teriakan Tiara.

"A-aku bisa tunggu di luar kok. Maksudnya di bawah." gugup Zita. Mengapa Wikan selalu melakukan sesuatu yang menjadi pertama kalinya untuk Zita.

Wikan menatap sekilas ke arah Zita, "Diem disitu, gue gak akan ngapa-ngapain lo." ucapnya lalu pergi ke kamar mandi.

Zita hanya mendesah pasrah, ia menatap sekelilingnya. Kamar Wikan tertata rapi, nuansa biru laut. Warna kesukaannya!

Walaupun rumah ini luas, tetapi ia bisa merasakan kehampaan suasana rumah ini. Sunyi. Sepi. Ia merasa iba pada nasib Wikan yang masih muda tetapi sudah ditinggalkan orang terkasihnya, orang yang melahirkannya. Pasti berat untuknya menerima kenyataan pahit itu.

Tak lama, Wikan keluar dari kamar mandi, ia memakai pakaian casualnya. Rambutnya masih basah, wajahnya terlihat lebih fresh. Zita meneguk salivanya susah payah menatap ciptaan Tuhan yang sempurna ini.

FIRST (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang