-Happy Reading. ♡
Beri komentar sebanyak-banyaknya. Karena chapter ini panjang sepanjang jalan tol yang lagi macet paraaahh.
Ubby nulis ini ditengah kemacetan demi kalian, demi update FIRST. So, vote and comment yeah.
-
-
-
Sebulan telah berlalu, tahun ajaran baru-pun segera di mulai. Zita sangat bersemangat hari ini, karena ia akan memulai hidupnya yang baru di Indonesia. Zita berharap teman-teman disana tidak berpura-pura baik padanya. Ia lebih baik hanya memiliki satu teman dibandingkan seribu teman yang tidak tulus padanya.
Zita sudah rapi dengan seragam sekolah saat di Amerika. Karena kata Daffi, seluruh seragamnya akan diberikan saat Zita ke ruangan Guru disana. Mengapa seperti itu? Pihak sekolah menghindari ketidaksesuaian ukuran tubuh siswa. Bisa dibilang, pihak sekolah tak mau rugi.
Zita melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga. Senyumnya tak pernah luntur dari bibir pinknya. Ia menggendong ransel berwarna biru, warna kesukaan Zita sama dengan Qian.
"Pagi, Bunda." sapa Zita saat melihat Qian ada di dapur sedang memasak sesuatu.
Qian menoleh dan sedikit terkejut, "Kamu mau kemana?"
Zita menganga, "Ya ke sekolah, Bun. Masa ke hutan. Ish Bunda gimana sih."
"Sepagi ini?"
Zita mengangguk, lalu duduk.
"Kamu liat deh, ini masih jam 5. Gak kepagian emang?"
"Aku takut terlambat Bun, lagipula aku harus ke ruang guru dulu kan?"
"Iya sih. Ya udah kamu makan dulu, nanti ayah yang nganter."
Zita mengangguk, ia pun mulai menyuapi mulutnya dengan nasi serta lauk yang sudah disiapkan oleh Qian. Tak lama, Daffi datang dengan pakaian casualnya.
Qian tak menyadari jika sedari tadi Daffi sudah di belakangnya. Sampai akhirnya Daffi memeluknya dari belakang.
Zita yang melihat pemandangan itu hanya diam saja, sudah biasa.
"Ayah gak ke kantor?" tanya Qian.
Daffi menggeleng, "Libur, Bun."
"Libur atau emang kamu yang sengaja meliburkan diri?"
"Ehehehe....meliburkan diri sih."
Qian memutar badannya, ia menatap suaminya dalam. Wajahnya masih tampan, tak ada yang berubah. Daffi mengecup bibir istrinya yang menjadi candu setiap detiknya.
"Ayah, aku ada disini. Kalo mau mesra-mesraan nanti aja pas aku lagi sekolah." sinis Zita.
Daffi menoleh, ia baru sadar jika ada Zita yang sedang makan. Ia menyengir lebar.
"Aduh ayah gak tau kalo ada kamu." kekeh Daffi seraya mendaratkan bokongnya di kursi.
Zita mendengus sebal.
"Udah makan dulu, abis itu Ayah antar Zita ya." ucap Qian.
Mereka berdua mengangguk patuh.
*******
Daffi dan Zita sudah sampai di depan sekolah baru Zita. Sekolah ini adalah sekolah yang sama saat Daffi dan Qian SMA dulu. Yap! SMA TELADAN. Sekolah berjuta kenangan orang tua Zita.
"Kamu baik-baik ya di sekolah. Kalo ada yang jahatin kamu, lawan aja. Kalo dibully ya bales. Pokoknya jangan pernah diem aja kalo ditindas. Jakarta itu keras." jelas Daffi sebelum Zita keluar mobil.
