Beberapa detik sebelum Putri menarik pelatuk pistolnya, seorang polisi lebih dulu melepaskan tembakannya membuat Putri terkejut sehingga pistol miliknya terlepas begitu saja.
Putri berusaha menggapai pistol yang terjatuh, namun Sisi segera menghalanginya. Karena tidak hati-hati Sisi kehilangan keseimbangan dan terperosok ke dalam jurang, beruntung Putri refleks memegangi tangan Sisi.
"Arghhhhh"
"SISI" teriak Digo, Randy dan Sarah berbarengan. Mereka terkejut dengan kejadian yang serba cepat di depannya.
"Pegang kuat-kuat tangan gue Si" ucap Putri mengencangkan pegangannya di tangan Sisi. Keadaan sekarang membuat ia seperti de javu. Dulu saat kekasihnya tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya, ia pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari balkon apartemen orang tua Digo. Beruntung Digo datang dan menggagalkan aksinya kala itu. Hal itu pula yang membuatnya jatuh cinta pada Digo dan berambisi untuk memiliki Digo.
Digo mengulurkan tangannya pada Sisi, sementara Randy dan Sarah kompak memegangi Putri yang hampir saja ikut jatuh karena dibawah sana Sisi terus bergerak. Kekasih Digo itu ketakutan setengah mati.
"Diigoooo,,,, tolongin aku, aku ngga mau mati sekarang,, aku takuuut"
"Sayang, kamu jangan panik. Sekarang pegang tangan aku dan kamu akan baik-baik saja"
Berkat kerjasama yang baik dan bantuan polisi yang ada disana, Sisi bisa di selamatkan dengan cepat.
"A,, a,, ku ta,, kut Digo,,, a,, ku ta,,kut,, hampir,, aja aku,,," ucap Sisi terbata. Tubuh Sisi gemetar dan menangis sesenggukan.
"Sssttt, kamu ngga usah takut. Ada aku,, ada aku. Kamu aman sama aku" Digo memeluk Sisi dan mengecup kepala gadis itu berulang kali.
Tubuh Sisi melemas di pelukan Digo, gadis itu tak sadarkan diri membuat Digo panik bukan main.
"Sisi,,, bangun sayang,,, Si,,,, Sisi!!!" Digo mengguncangkan tubuh Sisi berulang kali dan lelaki itu mulai menangis.
"Bawa Sisi ke mobil bro, dia harus segera di bawa ke RS" ucap Randy khawatir.
Digo segera mengendong Sisi dan membawanya ke mobil. Namun ia sempat berhenti saat melewati Putri yang sedang di amankan polisi.
"Klo Sisi sampai kenapa-kenapa, gue ngga akan pernah maafin lo" ucap Digo tanpa ekspresi. Matanya menyiratkan kemarahan.
****
"Lo ngga usah khawatir, Sisi baik-baik aja. Dia hanya terlalu syok dengan kejadian hari ini, sebentar lagi juga siuman" Randy menepuk bahu Digo yang sedari tadi tidak pernah mengalihkan pandangannya dari pintu UGD yang masih tertutup rapat.
"Oia Dig, sorry soal pukulan gue yang tiba-tiba. Gue tadi berusaha mengalihkan perhatian Putri dan sengaja mengulur waktu sampe polisi datang" jelas Randy merasa tak enak pada kekasih Sisi itu.
"Ngga apa-apa, gue paham kok. Makanya tadi gue ngga bales" Digo menganggukan kepala dan tersenyum tipis.
Sarah yang mendengar obrolan Randy dan Digo diam-diam tersenyum samar. Ia mengerti sekarang, Randy hanya ingin mengecoh Putri. Tidak lebih dari itu. Sesuai janji Randy tempo hari, ia akan menjadikan Sarah satu-satunya perempuan yang ia cinta setelah ibunya.
Pintu UGD terbuka, seorang dokter paruh baya keluar.
"Dokter, gimana keadaan Sisi?, dia baik-baik aja kan?, calon istri saya ngga kenapa-kenapa kan, dok?, terus kapan saya bisa masuk ke dalam?, saya mau liat calon istri saya" Digo memberondong dokter Alfha dengan banyak pertanyaan, membuat dokter yang menangani Sisi itu menggelengkan kepala dan terkekeh pelan.

KAMU SEDANG MEMBACA
-DESTINY-
FanfictionPercaya pada jodoh dan taqdir??!! Bagaimana takdir membuat gadis modis seperti Sisiliana berjodoh dengan cwo misterius dan pendiam bernama Digo Andrean