"Jangan berbohong, saya tahu kamu pasti sedang memikirkan sesuatu. Ceritalah pada saya, siapa tahu saya bisa membantu." bagaimana Zahra bisa cerita pada Ziqri, sedangkan yang di cemaskan itu adalah dirinya.
Tapi ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara pada Ziqri. Memintanya untuk menjelaskan semua ini, Jika Zahra hanya berdiam diri menyimpan keresahannya sendiri semua ini tak akan selesai.
"Dek." Ziqri menggoyangkan bahu Zahra pelan, karena Zahra sudah kalut lagi dengan Pikirannya.
"Eh iya mas."
"Ya Allah, kamu sedang mikirin apa sih? Ada masalah? Ayo cerita." Ziqri mulai cemas dengan keadaan Zahra.
Zahra menggigit bibir bawahnya.
Kepalanya ia tundukkan dalam-dalam.
Zahra ingin sekali bertanya kepada Ziqri tentang wanita itu, tapi ia tidak sanggup. Ia tidak sanggup jika harus mendengar bahwa Suaminya itu mencintai Orang lain. Walaupun rasa Cinta belum tumbuh dalam hatinya, tapi ia tidak mau jika suaminya itu mencintai orang lain. Karena Wanita mana yang rela, jika laki-lakinya itu menyimpan hati pada wanita lain. Sungguh ia tidak sanggup.
"Mas, a-aaku." Zahra tak bisa melanjutkan Ucapannya. Sungguh, mendadak lidah Zahra kelu kerongkongannya tercekat.
"Lihat saya, Zahra!" kata Ziqri.
Zahra masih enggan mendongakkan kepalanya untuk menengok Ziqri. Ziqri gemas melihat tingkah Zahra.
Zahra kaget, ketika tiba-tiba tangan Ziqri menyentuh dagunya lalu mengangkatnya pelan-pelan. Kini mata mereka saling bertemu. Ziqri melihat ada sorot kegelisahan di manik mata Zahra.
Zahra tidak nyaman di pandang lekat-lekat seperti itu, karena membuat jantungnya berdetak lebih kencang tidak karuan. Di tepisnya tangan Ziqri, dan ia memalingkan wajahnya dari Ziqri.
"Hei, lihatlah sini." bukannya, menuruti perintah Ziqri. Zahra bangun dari tempat tidurnya dan pergi mencari sesuatu di dompetnya. Ziqri mengerutkan keningnya, apa yang sedang dicari Istrinya itu. Ia menatap tajam ke tangan Zahra, saat Zahra mengambil sesuatu dari dompetnya itu.
"Apa yang di genggam itu?." ucapnya dalam hati.
"Apa itu?" tanya Ziqri.
Zahra tidak menjawab ia malah menyodorkan sesuatu yang di genggamnya itu kepada Ziqri. Ziqri tersentak kaget melihatnya.
Ziqri menepuk jidatnya, ia teledor. Sudah tahu orang yang dimaksud di memo stick itu sekamar dengannya. Kenapa ia lupa mencopotnya. Ziqri merutuki keteledorannya di dalam hatinya.
"Kamu kapan baca dek?." ia mengambil memo stick miliknya itu.
"Sebelumnya aku minta maaf karena telah lancang mengambil itu, tapi demi Allah aku tidak sengaja membacanya." Zahra duduk kembali di hadapan Ziqri.
"Dan sekarang aku ingin tahu siapa orang yang di maksud itu mas."
"ka-kamu ingin tahu?." ujar Ziqri gugup, Zahra langsung mengangguk mantap. Ziqri meneguk salivanya kasar, ia tidak percaya jika yang meresahkan pikiran Zahra tadi adalah ini. Seharusnya ia senang karena ini adalah waktu yang tepat, waktu yang ia tunggu-tunggu dari bertahun-tahun lamanya.
"ini di tulis sudah lama dek, ga usah kamu risaukan." Ziqri meremas memo sticknya itu.
"Aku tahu kak, tapi aku berhak tahu tentang itu."
"jika ia hanya masa lalumu, seharusnya mas tidak keberatan untuk menceritakannya kan." lanjut Zahra, membuat tubuh Ziqri menegang seketika.
Ziqripun heran pada dirinya sendiri, kenapa ia sangat sulit sekali berbicara sebenarnya. Padahal dari dulu ia menanti waktu ini. Waktu dimana ia bisa mengungkapkan cinta yang tumbuh di hatinya ini, pada Zahra.
Zahra menyentuh tangan Ziqri, Sontak Ziqri kaget, ini kali pertamanya Zahra berani menyentuhnya.
"Mas, ku mohon jawab lah." ujar Zahra dengan nada memelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
JOFISA (Revisi)
Spiritual⚠️ Part Awal-awal emang aga Absurd, tapi ke bawah In syaa Allah bagus ko? Aku Difhalia Azahra Putri, biasa dipanggil Zahra. Gadis berusia 21 Tahun. Aku mempunyai Prinsip tidak akan Pacaran kecuali setelah menikah. Ya, Pacaran di zaman sekarang ada...
