Chapter 13

1.5K 43 2
                                    

"Darimana saja kamu Hera?" tanya laki-laki itu

"A-aku habis ngerjain tugas, terus kebetulan ketemu sama dia waktu mau pulang" suara Hera terdengar ketakutan

"Saya temannya Hera, dan tadi kebetulan saya ketemu dia waktu saya mau pulang"

"Siapa yang menyuruhmu berbicara?" kata laki-laki itu dengan mata yang menatap tajam Jason

"Jason, lebih baik kamu pulang,  terima kasih sudah mengantarku pulang"

"Baiklah, selamat malam"

Jason menyalakan mesin motor nya lalu melaju menuju apartemen nya

****

Hanna merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya.

'menyebalkan. Kenapa Rian sibuk terus? kapan dia ada waktu buat aku' batin Hanna

Hanna menyamankan posisi tidur nya lalu terlelap ke dunia mimpi nya.

Pagi yang cerah. Sinar mentari perlahan masuk menembus sela-sela gorden, namun sang pemilik tidak merasa terganggu dengan sinar matahari yang menyilaukan mata.

Hingga,

Drrtt... Drtt.. Drtt

Ponsel putih yang terletak di meja nakas bergetar menimbulkan suara yang cukup untuk membangunkan sang pemilik.

Dengan terpaksa Hanna membuka matanya dan mengangkat panggilan di ponselnya

"Ya ... Hallo?"

"Hanna, kamu sudah bangun?"

"Kamu hanya ingin menanyakan itu?"

"Tidak, aku sebenarnya ..."

"Jangan bertele-tele Jason"

"Baiklah, aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini. Ya, aku tahu kamu sudah memiliki kekasih, tapi bolehkan?"

"Apa?"

"Rian melarangmu pergi dengan sahabatmu sendiri?"

"Tidak. Baiklah, jemput aku ya"

"Okey, aku jemput jam 9 ya"

"Baiklah. bye"

"bye"

Hanna bergegas menuju kamar mandi.

Setelah selesai mandi dan berpakaian Hanna membuat roti selai dan teh untuk sarapannya hari ini.

Drrt... Drrt.. Drrtt

"Ya, Hallo"

"Aku sudah didepan pintu apartemen mu"

"Ck, tunggu sebentar"

Hanna mematikan sambungan telfon dari Jason dan berlari menuju pintu apartemen nya.

"Haiii" sapa Jason

"Kamu bisa menekan bel itu kan?"

"hehe, maaf"

"Mau berangkat sekarang atau sarapan dulu?" tanya Hanna

"Kamu masak apa?"

"Aku hanya membuat roti selai. Ayo masuk"

"Kamu membuat roti selai coklat?"

"Ya, kamu mau?"

"Boleh" kata Jason

"Bagaimana hubunganmu dengan Rian?"

"Berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa" kata Hanna sambil mengoleskan selai coklat diselembar roti

"Maksudmu?"

"Entahlah, dia belum pernah memberi kejutan atau apapun itu. Yaaa, semuanya berjalan sama seperti saat dia masih menjadi sahabatku"

"Ohh"

'Apa Rian belum memberitahu Hanna tentang perjodohan itu? ' batin Jason

Hanna melambaikan tangannya didepan wajah Jason

"Jason? kamu melamun?" tanya Hanna

"A-apa? engga kok"

"Kalau engga kenapa rotinya ga dimakan?"

"Oh iya heheh"

Jason menggigit roti selai nya. Ia masih membayangkan bagaimana jadinya nanti jika Hanna mengetahui kalau Rian akan dijodohkan dengan Hera?

"Jason kamu melamun lagi?" suara Hanna menyadarkan Jason

"Apa?" jawab Jason

"Ck ... kamu ini mikirin apa sih?"

"Aku gak mikirin apa-apa"

"Kamu melamun kan tadi? itu buktinya makan roti aja kaya anak kecil gitu" kata Hanna sambil menunjuk sudut bibir Jason

"Maksud mu?"

"Itu ada selai dibibirmu."

"Dimana?" tanya Jason sambil mencoba membersihkan selai yang ada dibibirnya

"Bukan disitu"

Hanna menarik selembar tisu lalu memajukan tubuhnya agar bisa membersihkan selai di bibir Jason

Jason membeku ditempat nya. Ia memandangi wajah Hanna. Mata coklat yang indah, alis yang tebal, hidung yang mancung dan bibir yang berwarna pink. Mata Jason tidak berkedip memandangi mata indah Hanna

"Selesai" Hanna memundurkan badannya dan kembali duduk dikursinya

"Terima kasih"

"sama sama. Sudah cepat habiskan rotinya"

"Kamu mau pergi kemana hari ini?" tanya Jason

"eumm .... aku ingin pergi ke kedai es krim yang baru buka di dekat ExO Cafè"

"Ada kedai es krim disana?"

"Baru buka kemarin.  Tadi nya aku ingin mengajak Rian kesana, tapi dia sedang sibuk"

"Baiklah, kita akan kesana sekarang. Aku yang traktir"

"Benarkah? kamu yang traktir?" tanya Hanna bersemangat

Jason hanya menganggukan kepalanya. Melihat itu, Hanna sangat senang dan melupakan kekesalannya terhadap Rian yang akhir-akhir ini sangat sibuk dan mengabaikannya.

"Kita berangkat sekarang ya" kata Hanna

"Semangat banget"

"Ayolah, kita berangkat sekarang. Nanti kalau terlambat kita gak kebagian"

"Baiklah baiklah"

Jason menggandeng Hanna sampai ke tempat parkir motor

"Pakailah helm mu Hanna"

"Iya" Hanna memakai helm nya lalu naik kemotor hitam milik Jason

"Pegangan"

"Iya iya, ayo cepat jalan"

See you in next Chapter . . .

Don't GoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang