Hanna melangkahkan kaki nya di lorong kampus, pukul 7 pagi. Hari ini Hanna berangkat lebih pagi dari biasanya.
"Hanna?" seseorang tiba-tiba menepuk bahu Hanna
"Eh, elo? ngapain kesini?"
"Terserah gue lah mau ngapain. Eh, ngomong-ngomong kok lo tumben dateng pagi?"
"Gak papa, tadi gue bangun lebih pagi dari biasanya."
"Oh. oiya, lo pacarnya Rian?"
"Gue?"
"Emang gue lagi ngomong sama siapa lagi selain lo?"
"Engga, lo salah orang. Kenapa?"
"Serius?"
"Apa gue keliatan lagi bercanda? seriuslah, gue bukan pacarnya. Emang kenapa?"
"Katanya dia punya pacar yang katanya sih cantik banget, terus se kelas juga sama dia"
"Terus kenapa bisa lo berpikir kalo pacarnya Rian itu gue?"
"Waktu itu gue pernah liat dia duduk sendirian di taman deket kampus, pas gue deketin ternyata dia lagi ngeliatin foto cewe. Dan itu foto lo. Jadi gue ngambil kesimpulan bahwa lo pacarnya Rian."
"Jangan ngambil keputusan sebodoh itu. Udah ya gue mau ke kelas."
Hanna langsung meninggalkan Kevin yang masih terbengong menatap kepergian Hanna.
'Jangan ngambil keputusan sebodoh itu. Apa gue sebodoh itu?' batin Kevin
Brak
Hanna membating tas punggungnya di meja kayu berwarna putih dihadapannya hingga menimbulkan suara yang mengagetkan orang yang berada di kelas.
"Wesss, santai mba. Pagi-pagi udah ngamuk aja" kata Vannia sahabat Hanna
"Ck, gue lagi kesel nih."
"kesel kenapa lagi sih? by the way, kok tumben lo dateng pagi?"
"Kesel gue pokoknya. Iya gue tadi bangun lebih pagi, emang kenapa sih? salah kalo gue dateng pagi?"
"Ya gak papa sih. Lebih bagus malah."
Hanna memutar bola matanya malas.
"Oiya, lo kenal sama Kevin?" tanya Vannia lagi
"Kenapa?" jawab Hanna malas
"Tadi dia kesini nyariin lo, gue bilang aja kalo lo dateng agak siangan biasanya"
"Mau ngapain dia nyariin gue?"
"Gak tau. Lo beneran kenal sama dia?"
"Iya Vannia, gue kenal sama dia."
"Lo beruntung banget sumpah Han"
"beruntung apaan sih?"
"Kevin itu anak basket, nah lo tau kan basket kampus kita sering menang kejuaraan? terus dia juga ganteng, dia itu termasuk cowo populer di kampus."
"Oh ya? terus? apa urusannya sama gue?"
"Dalam waktu dekat lo bakalan jadi terkenal juga di kampus. Dan bakalan banyak cewe yang benci sama lo terutama fans fanatiknya Kevin"
"Apa itu termasuk lo? kalo iya, gue bakalan jauhin Kevin sekarang juga."
"Enggak lah Han. Gue bukan salah satu dari fans nya Kevin. Gue kan udah punya Daffa."
"Baguslah."
"Oiya, lo tau gak kabar terbaru tentang Rian?"
"Enggak." jawab Hanna acuh
"Kata anak-anak sih dia mau berhenti kuliah. Dia disuruh nerusin bisnis ayahnya. Jadi abis dia tunangan dia bakalan kerja. Kasian ya"
"Oh ya? bagus kalo gitu, jadi gue gak bakal ketemu dia lagi."
"Tapi kan,"
"Ssst.. tuh dosen udah dateng. Gosip mulu lu"
****
Seorang perempuan berambut coklat membuka gorden kamar itu sehingga cahaya matahari memasuki kamar bernuansa putih tersebut dan membuat orang yang sedang meringkuk di ranjangnya sedikit terusik.
Hera menyibakkan selimut tersebut, dan terlihatlah laki-laki berkulit putih dengan rambut yang sedikit berantakan sedang meringkuk diranjang tersebut. "Hey, bangun" panggil Hera lembut
"Hey, apa ini yang dilakukan seorang calon penerus perusahaan besar hmm?"
Karena merasa terganggu Rian membuka matanya dan mendapati Hera yang sedang berdiri dengan melipat tangannya di sebelah ranjangnya.
"Ngapain kamu masuk kekamar orang lain sembarangan?" tanya Rian dingin
"Orang lain? kamu bukan orang lain bagi ku, lagi pula tadi ibu mu yang nyuruh aku bangunin kamu,"
"Ibu ku? dia udah pulang?"
"Ya, dia baru sampai tadi pagi. Dan dia menyuruhmu mandi dan berpakaian rapih, setelah itu temui beliau di bawah. Cepatlah."
"Ck, yaudah keluar sana."
"Jangan lama-lama"
"Keluar"
Setelah Hera keluar dari kamarnya, Rian bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
10 menit ia habiskan untuk mandi, setelah itu Rian menggunakan kemeja putih lalu menggulung lengannya hingga siku, dan celana denim hitam.
"Hey, sudah selesai belum?" tanya seseorang diluar
"Bentar"
Setelah selesai Rian membuka pintu kamarnya dan mendapati Hera yang sedang menunggunya didepan pintu.
"Kamu nungguin disitu dari tadi?" tanya Rian
"Enggaklah, aku baru dateng 5menit yang lalu, tadi aku pulang dulu."
"Oh"
Rian menatap Hera dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Hera menggunakan Dress selutut berwarna krem dan sepatu flat shoes dengan warna yang senada.
"Memperhatikanku hmm? apa ada yang salah? aku cantik kan?"
"Akan lebih cantik jika Hanna yang menggunakan Dress itu." kata Rian sambil berlalu meninggalkan Hera
Rian berjalan menuju ruang keluarga, dan ternyata disana ada seorang wanita paruh baya yang biasa dipanggil ibu.
"Ibu udah pulang?" tanya Rian
"Hai." sapa wanita paruh baya itu
"Ibu kapan sampai? kenapa gak telfon aku biar aku yang jemput ke bandara"
"Ibu sengaja gak ngasih tau kamu, ibu mau bikin kejutan. Jadi ibu dijemput sama Hera."
"Hera?"
"Ya, tadi pagi aku yang jemput ibu ke bandara" kata Hera
"Ya, dia anak yang baik dan lembut. Dia juga cantik, iya kan Rian?"
"Lebih cantik ibu dari pada dia" jawab Rian
"Jangan berbicara seperti itu. Kaliankan sebentar lagi tunangan dan menikah,"
"Tapi,"
"Tidak ada tapi tapi-an. Oiya, ngomong-ngomong tentang pertunangan, ibu belum sempat memesan pakaian dan membeli cincin nya. Kalian bisakan hari ini juga memesan pakaian dan membeli cincin itu?"
"Kita? berdua?"
"Iya, memang sama siapa lagi?. Hera kamu bisa kan?"
"Bisa kok."
"Yasudah, itu mobil sudah disiapkan didepan. Pergilah"
"Tapi bu,"
Hooo, part 22 selesai. Terima kasih ya buat yang udah ngevote dan komentarin cerita ini. Jangan pernah bosan buat baca, dan ngevote cerita ini.
See You In Next Chapter . . . .

KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Go
Novela Juvenil"Aku membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu untuk menjagaku. Aku membutuhkanmu untuk menenangkanku. Aku membutuhkanmu lebih dari apapun." -Hanna "Aku menyayangimu, aku mencintaimu. Apapun yang terjadi akan tetap begitu" -Jason Don't Go © 2014 Putrinabila_h