Aku melihat banyak wanita berbaris rapi mengantre di depan sebuah pintu yang tertutup.
Mereka secara bergiliran memasuki ruang dibalik pintu itu dengan berseri. Bergelora penuh asmara.
Mereka memenuhi dinding hatimu dengan kenangan yang dilukis.
Lukisan kenangan itu bermacam-macam. Manis dan lucu seperti hari-harimu bersamanya.
Namun, semakin lama semakin tak berbentuk dan abstrak. Yang melukisnya mulai kehilangan kendali, amarah dan tangis tumpah ruah.
Segala kenangan yang terlukis mendadak sirna. Berganti menjadi putih dan kosong seperti sedia kala.
Dan wanita sebelumnya mulai meninggalkan ruang hatimu. Masih menyisakan derita pun nestapa.
Dia susah payah merangkak meninggalkanmu.
Sementara itu, wanita yang mendapat giliran selanjutnya masuk. Dengan wajah berseri, bergelora penuh asmara.
Kemudian kembali terulang hal yang sama.
Kembali terulang.
Dan kamu tidak menghentikannya.
