Bagaimana Jadinya Kalau Kita Benar-Benar Saling Mencintai?

114 30 3
                                        

Saat itu.

Keretaku belum terlalu jauh meninggalkan kotaku. Namun sudah mulai ku sibuk sendiri melamunkan mana-mana yang kan terlebih dulu kuberitahukan padamu sesampainya aku di tujuan dan dengan cara apa aku memulainya. Sengaja kumatikan ponselku untuk saat ini. Kupikir kita akan punya lebih banyak hal untuk diperbincangkan nanti. Antara antusiasku menunjukkan temuan baruku padamu setibanya di sana dan kamu yang juga ingin tahu, keduanya sama-sama dibalut rindu yang terbit terlalu awal.

Silih berganti warna-warni dalam pandang mataku dari balik jendela. Hamparan padi yang menguning sejauh mata memandang hingga menyentuh garis cakrawala lalu berganti menjadi deretan rumah-rumah penduduk yang lengang kemudian semakin lama kian berhimpit. Stasiun demi stasiun pun terlewati, tak dapat lagi kuhitung beberapa kali mataku bertemu dengan mata pengendara yang berhenti di simpangan jalan sementara keretaku terus melaju dengan cepat.

Pemberhentian yang kumaksud masih sangat jauh, di ujung jarak. Ketimbang terus kosong, kuisi kepalaku dengan ulasan balik Senin hingga Jumat yang sejak lama selalu kita lalui bersama dengan cerita yang berbeda di setiap harinya. Di mulai dari ingatan paling awal yang bisa kukenang, ketika semua hanyalah sebatas anganku sendiri tentang bagaimana jadinya kalau kita benar-benar saling mencintai?

Random Short StoriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang