Dia pergi mengunjungi pasar malam yang penuh kesuraman. Tak ada mainan anak-anak, kaset dangdut, ataupun gula kapas.
Tapi dia membawa banyak uang dalam kantong. Dia berniat membeli kebahagiaan pada wanita dengan sepasang mata yang indah. Sayangnya wanita itu hanya menjual pisau dengan berbagai ukuran. Akhirnya dia pun pulang dengan membawa sebilah kecil pisau yang dia kira kebahagiaan. Maka kulitnya tersayat-sayat oleh kebahagiaan itu.
Esok malam dia datang lagi. Berhenti di depan sebuah lapak dan bertanya kepada wanita berambut panjang penjual korek api apakah dia menjual kebahagiaan. Dia pun menerima sekotak korek api darinya untuk dia bawa pulang dan dia nyalakan. Maka kebahagiaan itu pun membakar segalanya.
Esok malamnya lagi dia tetap pergi ke sana, ke pasar malam itu. Menemui wanita-wanita lain dengan berbagai jenis kecantikan entah itu mempunyai lesung pipi atau berdagu terbelah yang berjualan. Tak berhenti mencari kebahagiaan dan membawa pulang banyak benda yang pada akhirnya membuatnya selalu sakit dan menderita.
.
Kisah pilu lelaki mencari kebahagiaan di pasar malam itu akhirnya sampai di telingaku. Jauh. Sangat jauh.
Teringat olehku kata-kata Ibu sebelum pergi meninggalkan dunia.
"Suatu saat akan ada seorang lelaki hendak membeli kebahagiaan di sebuah pasar malam yang kelam. Dia banyak menemui wanita dan menerima macam-macam bentuk kebahagiaan yang justru akan selalu membuatnya sengsara," Ibu menatapku dengan kedua mata berbinar, "Ibulah yang memiliki kebahagiaan yang dia butuhkan."
Aku terkejut, 'Dapatkah aku melihat seperti apa kebahagiaan bagi lelaki itu, Bu?'
Ibu tersenyum. Dimintanya aku untuk melihat kolam ikan kecil di halaman rumah. Kala itu hari telah malam dan aku tak dapat lagi melihat ke dasarnya. Yang kulihat hanyalah air tenang dan memantulkan wajahku sendiri yang disinari cahaya bulan. Aku berpikir mungkin kebahagiaan untuk lelaki itu hanya dapat dilihat saat siang. Besok pagi aku akan kembali.
