"kamu jadi mau liburan ke busan? emang badan kamu udah enakan?" tanya felix khawatir saat yona memutuskan untuk liburan disaat kondisi badannya yang kurang fit itu.
yona natap felix penuh semangat. "jadi dong, aku emang udah pengen banget liburan kesana. toh, juga aku udah sehat." ucapnya
"tapi aku nggak yakin sama kamu ay, mending kapan-kapan aja yuk? aku khawatir."
yona menggeleng." nggak mau! aku udah mesen tiket, terus udah mesen hotel buat kita, masa iya aku batalin. kamu aneh-aneh aja."
"iya sih tapi kan--."
"stt! denger lee felixeu, aku udah sehat, jadi kamu jangan khawatir cukup ikut dan seneng-seneng, bisa kan? lagipula rumah kakek ku deket sana, jadi nggak perlu khawatir." ujar yona
"kakek? seriusan?" tanya felix nggak percaya. "jadi penasaran deh."
"kamu penasaran? nih aku kasih liat."
yona membuka ponselnya lalu memperlihatkan foto suho kepada felix.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"nih liat." tunjuk yona ke felix
"seriusan ini kakek kamu?" ucap felix nggak percaya. "iya, kenapa?"
"nggak, gila umurnya berapa? keliatan masih kaya perjaka ting-ting." felix
"ayu kali ting-ting. ya kamu nebaknya berapa? "
"42 palingan." jawabnya sambil minum cola yang ada di tangannya. "salah."
"lah? terus berapa dong? nggak mungkin lah lebih dari itu."
yona tertawa, kemudian nyubit pipi felix. "haha kamu ya. yang ada papi aku yang umurnya 42, kakek mah umurnya 67 tahun."
felix hampir aja menyemburkan cola yang ia minum."s..seriusan? 67? nggak salah?"
"nggak kok. emang segitu, awet muda kan? kakek sama nenek perawatan mulu, makannya masig keliatan kaya abg, padahal udah punya cucu."
"pantes aja cucunya cantik. kakeknya ganteng gini." goda felix sambil ngusap rambut yona.
"ih apaan sih, gombal deh."
yona nyubit pipi felix lagi.
"gimana? kita jadi pergi kan? sekalian nanti aku mau ngenalin kamu sama kakek, mau kan lix?"
felix yang tadinya merasa malas, tiba-tiba langsung bersemangat kala sebuah kalimat. ..nanti aku kenalin kamu sama kakek.
menggelora di telinganya, itu sama saja seperti sebuah lampu hijau, untuk mendekatkan diri kepada keluarga yona.
felix senyum. "yaudah deh. tapi, inget jangan over ya jalan-jalannya, aku batesin loh."
yona ngangguk. "iya..iya, bawel banget cih burik ku ini." ucap yona manja.
"burik? emang aku burik ya? ganteng gini."
"itu panggilan sayang, bego banget sih kamu ay." yona
"kamu lebih bego."
"kamu!"yona
"kamu!"felix
"ngapain ke busan? ada urusan?" tanya jeongin ke sanha. mereka sedang menghabiskan waktu berdua untuk berkencan. atensi jeongin terganggu kala sanha mengatakan jika ia akan pergi ke busan.
"iya, mau liburan aja. kan liburan sekolah juga udah deket, ya sekalian aja." ucap sanha
"sendiri? ngajak temen?" tanya jeongin lagi. sanha yang lagi minum ice tea kepunyaannya langsung noleh. "sama kamu. mau kan? aku males sendiri, lagian kan kita udah mau liburan semester. jadi kan, bisa jalan-jalan gitu. mau kan?"
tawar sanha ke jeongin. "hmm..gimana ya? aku pikir-pikir dulu deh. " ucapnya sambil berfikir.
tiba-tiba pikirannya teralihkan pada sesuatu.
"jauhi cucu saya. saya akan kasih saham yang kamu dan keluarga kamu incer, tapi tolong. jauhi yona, saya nggak mau liat cucu gadis dipermainkan kaya gini."
larang suho sambil natap jeongin tajam. tidak ada sautan dari jeongin dia hanya diam tak menjawab.
SRET
sebuah amplop warna coklat kini sudah berada di hadapan jeongin, matanya melirik ke arah amplop itu.
"apa ini? " tanya jeongin bingung. tanpa menyentuh amplop itu.
"saham perusahaan yang kamu incer, dan juga ini.."
sekarang suho menyerahkan amplop berwarna putih kepada jeongin.
"ini uang. bilang aja jika kamu kurang saya akan kasih kamu lagi berapa pun kamu butuh, tapi dengan satu catatan. JAUHI CUCU SAYA TITIK."
jeongin yang sedari tadi hanya diam kini menaikkan sudut bibirnya. "anda kira saya bisa dibayar dengan uang dan juga saham?"
"kan memang itu yang kamu mau. dengar ya, jeon. ayah kamu itu memang sedari dulu mengincar aset-aset keluarga saya, terutama saham yang ada di sekitar kota Gwangju. "
"..kalian memang pintar, menjadikan sebuah perjodohan sebagai lahan untuk merampas aset saya? haha..maaf keluarga saya tidak sebodoh itu. terlebih lagi jika ini tentang cucu-cucu saya, saya tidak bisa tinggal diam."
"sebegitu hebatnya kamu sampai tega menduakan cucu saya? kamu kira seganteng apa diri kamu? saya bisa nyariin cucu saya calon suami yang lebih pantas untuk dia, dibandingkan dengan kamu yang tega menduakan cucu saya, dan tega membiarkan dia nangis dipinggir jalan, karena kamu usir."
jeongin menengguk ludah kasar,
"gimana anda bisa tau kalo saya-"
"jangan kira saya bodoh. bahkan saya punya ratusan mata-mata untuk mengawasi setiap gerak-gerik kAMU! awalnya saya kira kamu bakal memperlakukan cucu saya dengan baik tapi ternyata.."
"kamu sama saja seperti ayahmu."
"Maafkan saya. tuan kim, saya memang salah, tapi saya tidak ingin menjauh dari yona, saya cinta sama dia, saya mohon. kasig saya kesempatan."
mohon jeongin pada suho. "saya tidak butuh saham dan uang ini, saya butuhnya yona, saya tidak bisa hidup tanpa dia."
kini suho terkekeh. "kenapa baru sekarang kamu ngomong kaya gitu? kemarin-kemarin kemana aja? maaf ya, saya bukan yona. dan saya tidak bisa menentukan perasaan seseorang. jika cucu saya sekarang sudah nyaman dan cinta sama orang lain. ya, itu keputusan dia. saya tidak bisa memaksakan kehendak saya. tapi, jika ada seseorang yang berani menyakiti dia, saya adalah orang yang paling pertama tahu."
"jadi maaf, saya rasa kesempatan kamu sudah habis."
"Dan satu lagi, sebentar lagi. yona akan saya jodohkan dengan seseorang. selamat siang."
"ARGHHH! SIALAN!!" teriak jeongin dan hal itu membuat sanha yang sedang duduk disampingnya terlonjak kaget.
"kamu kenapa? ngapain teriak?"
jeongin natap sanha kemudian memalingkan wajahnya.