"Believe me, if Kavi's Spell is working you will not be able to avoid it." ~Kavi Devara Janendra
----------------------------------------------------------
Kavi bilang dia adalah penyihir ganteng yang memiliki banyak mantra untuk membuat Nafeesha ja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Holla guys 🙋🙋 Jumpa lagi Selamat membaca aja buat kalian & semoga suka ya Jangan lupa kritik + saran + vote ya Thanks
Playlist : Kiss Me - Sixpence None The Richer
🎼 happy reading 🎼
Kamu siapanya Romy Rafael? Kenapa kamu bisa menghipnotisku dengan tatapanmu?
— your admirer —
Kiss me, out of the bearded barley Nightly, beside the green green grass Swing, swing, swing the spinning step You wear those shoes and I will wear that dress
"Wah, apik tenan suarane yo, Bro!" celetuk Joko, sahabatku tiba-tiba yang membuatku langsung menoleh menatapnya.
"Bisa nggak sih ngomongnya pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar, Jo?!" kesalku sambil menatap Joko tajam.
Cowok berdarah Jawa-Spanyol itu menyengir. Membuatku ingin sekali menimpuk wajahnya dengan steak yang saat ini ada di hadapanku. Namun, aku mengurungkan niatku begitu mengingat harganya yang mahal.
Walaupun hanya tersisa setengah, tetapi tetap saja akan lebih berguna jika steak itu masuk ke perutku, bukan? Aku pun melahap potongan steak yang lumayan besar itu dalam satu suapan. Biarkan saja jika terlihat ganas, namanya juga sedang kesal.
"Hehe... peace, Brother. Jangan marah, nanti cepet tua lho...," ujarnya yang kali ini sudah dapat kumengerti. Tetapi, tetap saja dengan aksen yang medok luar biasa!
Padahal Joko memiliki wajah yang seratus persen bule. Tubuhnya tinggi seperti tiang listrik. Dia juga memiliki kulit berwarna sedikit kemerahan dan mata berwarna cokelat terang mendekati kuning. Wajahnya juga lumayan tampan, waupun tidak setampan aku. Akan tetapi, saat dia bersuara, hilang sudah semua kadar ketampanannya itu. Hancur lebur tak bersisa.
"Sialan!" umpatku kesal. Joko tergelak mendengarnya.
"Udah... udah... Ayo ke sana, Kav! Lihat yang nyanyi... siapa tahu aja cakep, jadi aku bisa move on dari adekmu, si Aeera." Joko mengalihkan pandangannya ke depan. Tepat di belakangku.
Aku berbalik, mengikuti arah pandang Joko. Ternyata di ujung sana ada panggung mini. Namun, aku tidak dapat melihat wajah dari penyanyi tersebut karena banyaknya pengunjung dari cafe ini yang berkerumun di sana.
Segitu baguskah? pikirku.
Kutajamkan pendengaranku karena memang sedari tadi aku memang tidak terlalu mendengarkan suara itu. Bahkan menyadari jika ada panggung mini di sini pun tidak. Setelah kudengar baik-baik, aku pun langsung berbalik lagi menatap Joko. "Ayo!"