Bab 8

32 10 5
                                    

"Karena rindu itu semakin meruah setelah bertemu"


"Ma, aku pergi dulu ya" Annasya yang sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah mulai mengikat tali sepatunya dan ia bergegas mencium punggung tangan mamanya.

Sebelum mengstater motor matiknya, suara ponsel dari saku rok span abu-abunya berbunyi. Ia mengambil dan menatap layar ponselnya, terdapat satu nama yang teramat membuatnya kesal akan sikapnya yang sok akrab itu.

"Jangan lupa jemput." hanya ada suara yang nyaring sedang menanti kehadirannya. Setelah Ardi menutup telponnya dengan cepat, Annasya berdecak kesal dalam hati memaki Kakak Kelasnya itu. Akhirnya, Annasya mengstater motornya dan mulai melintasi kompleks perumahannya ke rumah Ardi.

Dari kejauhan, sosok laki-laki yang akan bersamanya menuju ke sekolah tengah berdiri tepat di depan parkiran rumahnya dengan mengenakan seragam layaknya anak SMA. Dengan baju putih di masukkan ke dalam celana, dengan ransel jeans di pundak kanan, dan tata rambut yang rapi menggunakan pomade. Ardi berdiri menunduk menatap layar, tengah mengscroll notifikasi sosial medianya dan ternyata ia diam-diam mengcari-cari nama pemilik akun instagram bernama Annasya. Tiba-tiba jempol tangan kanan Ardi berhenti, saat sepeda motor milik Annasya sudah berada tepat di depannya.

"Heh.. Cepat amat bawa motornya. Balap ya?" goda Ardi pada Annasya yang masih menutup wajahnya dengan kaca helm.

"Mau naik atau aku tinggal?" Annasya mematikan mesin motornya dan menoleh pada Ardi yang masih menaruh ponselnya ke dalam saku celananya.

"Iya Sya. Aku yang bawa motor ya"

Seperti yang di katakan oleh Ardi, Annasya sering kali menggunakan mode bisunya saat berpapasan atau bertemu dengan Kakak kelasnya itu. Akan tetapi, berbanding terbalik jika ia bertemu dengan teman sebayanya yang mendadak menjadi mode ramah dengan senyum manis melekat di wajahnya. Benar saja, ARdi selalu mencuri pandang pada sosok Annasya semenjak pertemuannya di Toko Buku waktu itu.

Selama perjalanan ke sekolah, Annasya hanya terdiam di belakang tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Kegelisahan Annasya sepertinya di rasakan oleh Ardi yang sedari tadi hanya fokus pada jalanan menuju ke sekolah. Sesekali Ardi menanyakan hal-hal tentang dirinya, tapi selalu direspon yang hanya dengan modal kata "Oh iya" , "Terus?".

"Sya, kamu pake mode bisu lagi ya?"

"Hah.. kenapa?" jawab Annasya sedikit kaget karena sedari tadi ia hanya melamun

"Kamu tidur apa ngelamun sih?"

"Oh ndak kenapa-kenapa." Annasya mulai memikirkan wajah Ardi saat kecelakaan Ardi kemarin. Sejak mengobati pipinya waktu itu, ia mendapati tahi lalat kecil di atas bibir Ardi dan sejak saat itu mengingatkan dirinya pada sosok yang membuatnya menjadi perempuan bodoh seperti saat ini. "Eh, kamu turunnya jangan di depan sekolah ya. " sambung Annasya.

Ardi hanya mengangguk dan kembali melintasi Jalan Rumah sakit dan berhenti tepat di depan pagar sekolahnya yang masih sepi. Annasya yang masih setia menutup wajah merahnya di balik kaca helmnya, dan dengan cepatnya ia berganti posisi dari Ardi yang turun dari sepeda motornya. Setelah meyakinkan diri bahwa Ardi mulai masuk ke area sekolah, ia pun mengikuti Ardi dan memparkir motornya di area parkiran murid.

***

"Sya, Kamu tahu ndak? Kak Ardi habis kecelakaan kemarin. Aku baru tahunya tadi pagi, pas aku liat dia di pinggir lapangan. Sya, kasih solusi dong?" Sally menoleh pada Annasya yang sibuk mendengarkan lagu melalui ponselnya menggunakan earphone merah mudahnya. Menyadari tak dihiraukan, Sally menarik earphone Annasya dari telinga kanannya.

"Kenapa, Sal? Denger deh lagu barunya Mbak Ghea" Annasya menyodorkan salah satu earphonenya pada daun telinga sahabatnya.

"Iya bagus, tapi alangkah bagusnya kalo kamu ngasih aku solusi, Sya. Kak Ardi habis kecelakaan kemarin, aku mau kasih dia sesuatu. Tapi apa?" Sally mengembalikan earphone Annasya di atas meja.

"ohhh... Ngapain? Emang uda tanya orangnya langsung kalo mau ngasih sesuatu? Ndak takut di tolak kaya mereka-mereka itu?"

"Iyah juga, Sya. Jadi ndak usah nih aku kasih Kak Ardi apa-apa?"

"Iyaaaaaa Sally" Annasya menjawab dengan cepatnya sambil menggeser bangkunya ke belakang. "Ke kantin yuk, aku laper, hehe." Annasya menarik lengan kiri sahabatnya yang membalas ajakannya dengan mengangguk sembari tersenyum padanya. Sally memang mempunyai hobi yang unik, yaitu makan. Tapi beruntungnya, ia tak harus pusing dengan kenaikan berat badannya. Meski makannya melebihi rata-rata, tapi badannya tetap seperti itu. Terlihat langsing dengan tinggi di atas tiga senti dari Annasya.

Tidak hanya Annasya dan Sally, tapi beberapa teman kelasnya mengikutinya menuju ke kantin. Saat mereka berlima sudah sampai di area kantin, mata Annasya mencari sosok kakak kelas yang menyebalkan itu. Bukan karena ingin bertemu melainkan ingin bersembunyi dari gayanya yang sok akrab padanya. Yakin tak mendapati sosok yang ia cari sejak tadi, Annasya mengambil sepiring batagor dengan sambal di pinggir piringnya dan bergegas bergabung bersama teman-teman sekelasnya di meja panjang di sudut ruang kantin. Saat tubuhnya berbalik kearah sebelah kanan, Annasya sontak kaget dengan tubuh seseorang yang berada di depan matanya. Nyaris saja piring yang ia pegang itu terjatuh ke lantai, saking kagetnya yang tidak memperhatikan sekitarnya.

"Maaf" ucap Annasya sambil menunduk tanpa mengangkat kepalanya untuk menatap wajah seseorang di depannya itu.

"Ngapain minta maaf, Sya?"

Mendengar suara itu, mengingatkannya kembali pada suara nyaring yang sejak pagi mengganggunya via telepon untuk tidak meninggalkan dirinya agar bisa berangkat ke sekolah bersama-sama. Lalu, Annasya mendongak ke atas dengan wajah Ardi mulai mendekati wajah Annasya yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Ardi kembali tersenyum pada Annasya yang hanya diam dengan wajah datar tanpa ekspresi itu.

Ardi mengacak rambut Annasya sambil tersenyum kembali, "Jangan pakai earphone ini kalo lagi di jalan, Ntar kamu ke sandung, Sya." Ucap Ardi sambil melepas earphone di kedua daun telinga Annasya dan berlalu meninggalkan Annasya ke luar kantin bersama teman-temannya yang sesekali memerhatikan reaksi sahabatnya yang tak biasa pada wanita. Lain hal dengan Annasya, Tubuhnya mendadak mematung di tempatnya, tangannya mulai melemas tapi masih sadar akan piring di tangannya yang berisi batagor miliknya. Degap jantung Annasya seperti itu lagi, ia berdegub dengan kencangnya. Annasya menoleh kearah punggung Kakak kelasnya itu yang sudah mulai menghilang dari balik gedung ruangan kelas sepuluh.

"Kamu siapa sih, berani-beraninya buat hatiku tidak karuan seperti ini?" Gumamnya dalam hati.

***

Sementara itu, Ardi dan sahabatnya berada di pinggir lapangan basket yang bergantian memantulkan bola ke lantai dan mencoba memasukkan bola ke ring basket.

"Di, sampai kapan kamu begini?" tanya Dika pada sahabatnya yang sedang berusaha memasukkan bola ke dalam ring.
"Aku kenapa, Dika?"

"Sampai kapan kamu mau bersembunyi dari Annasya."

Ardi menoleh pada sahabatnya, Dika. Ia menatap wajah serius Dika yang tengah memandangnya juga. Dika tahu betul bagaimana dirinya mengenal Annasya, dan kelakuannya jika tak sehari melihat wajah Annasya. Sebab, Dika adalah sahabat sejak Ardi duduk di bangku SMP yang pertemuannya dengan Dika tak sengaja di tengah lapangan dikarenakan mengikuti upacara bendera namun lupa mengenakan dasi, sehingga mereka berdua di beri hukuman untuk berdiri di saat matahari mulai naik.

Kemudian Ardi menghampiri sahabatnya yang tengah duduk bersila di pinggir lapangan dengan memegang sebotol air mineral setengah dingin. Lalu, Ardi mengambil paksa botol minum Dika dan meneguknya.

"Aku ragu, Ka. Dia mau maafin aku atau gimana? Jangankan maafin, dia ingat aku aja, uda syukur" Jawabnya. Ia pun merangkul pundak sahabatnya itu, lalu berdiri sedikit berlari bergabung bersama teman-temannya yang masih asik mengdrible bola basket.

***

Happy Reading kalongers ^_^


Jangan lupa Follow Ig : ika.mw297

Mari kita bahas kelanjutan mereka berdua di Snapgramku nanti :)

He Is MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang