Mungkin tak sepatutnya berbicara seperti ini
Untuk menguntai kata yang beralasan rindu
Yang semakin hari kian memenuhi lorong hati
Hendak menyapa sosoknya
Namun tak tahu lagi kehadirannya
Panjatan doa telah tersirat
Menatap kaca jendela di balik hujan
Memanjat harap demi bersua
Bersamamu, pemiliki hati
-Annasya-
"teng...teng..teng"
Suara lonceng panjang berbunyi nyaring, semua siswa mulai bergegas merapikan buku-buku pelajaran yang berada di atas meja masing-masing ke dalam tasnya. Annasya mulai menutup buku merahnya yang sedari tadi telah kosong setelah istirahat, ia menghabiskan jam pelajaran yang kosong dengan menulis puisi. Saat Sally mulai beranjak dari kursinya dan menuju ke luar ruang kelas, Annasya pun mengikutinya dari belakang bersama beberapa teman kelasnya.
"Sal, kamu puluan duluan aja ya. Aku masih ada urusan di Ruang UKS." Annasya menepuk bahu kanan Sally. "Kamu bawa motor kan?" tanyanya lagi.
Sally mengangguk. Lalu melambaikan tangannya pada Annasya yang mulai menjauh dari teras kelas menuju ke Ruang UKS.
"Selamat Siang Bu" Annasya memberi salam pada salah satu penjaga Ruang UKS-Aliya-yang baru saja lulus sekolah Keperawatan di Jakarta.
"Siang. Silahkan duduk atuh, jangan berdiri aja disitu." Annasya dipersilahkan duduk di depan mejanya. "Kamu Annasya,?" sambungnya sambil mencari kertas catatan miliknya.
"Iya bu. Kalau boleh saya tahu, ada apa ibu manggil saya?"
"Oh ini ada keperluan sedikit. Ibu mau minta tolong ngajak kamu ke Jakarta. Sekalian nemenin ibu sebagai anggota tim medis perwakilan sekolah untuk pertandingan Taekwondo antar Sekolah. Kira-kira kamu bisa gak ya?"
"Maaf bu, emangnya di dalam perlombaan disana gak ada tim medisnya?"
"ada sih, tapi Kepala Sekolah maunya gitu. Supaya gak ribet buat nunggu jika teman-teman kamu ada yang terluka. Waspada aja katanya. Kamu mau gak?"
Annasya terdiam sejenak, "Iya deh bu. Sehari doing kan bu?" tanya Annasya
Aliya mengangguk. Annasya pun pamit pada Ibu Aliya keluar dari Ruang UKS menuju ke tempat parkiran motor yang mulai sepi dan hanya tersisa motor maticnya yang masih setia di parkiran khusus para murid. Ia pun mulai mengstater motornya dan mulai membelah Jalan Nasution, di bawah matahari yang mulai redup.
"Bruk.."
Segerombolan manusia mulai berkerumun di tepi jalan, memenuhi pengendara dua sepeda motor yang berjatuhan. Annasya dengan perasaan yang tak karuan melihat langsung kejadian tabrakan itu beberapa meter dari posisinya. Seketika ia mengerem mendadak motor maticnya dan mencoba mendekati para korban tabrakan tersebut. Si pengendara motor ninja duduk di trotoar jalan dengan mengenakan seragam putih abu-abu dengan lambang sekolah yang sama dengan lambang sekolah milik Annasya. Tak sempat melihat wajahnya yang tertutupi oleh punggung laki-laki tua, ia mulai menyelinap menembus segerombolan itu. Korban lainnya di larikan di Rumah Sakit terdekat.
Pandangan Annasya tertuju pada wajah si korban yang sedikit terluka di bagin pipi dan dagu yang memakai seragam putih abu-abu sepertinya. Ia merogoh isi tasnya mencari beberapa cairan alkohol dan tisu basah juga beberapa obat merah dan plaster luka, yang sering ia bawa di dalam tasnya. Ia menatap wajah yang lecet itu lagi dengan mengeduskan nafas beratnya, mengetahui si korban adalah Kakak Kelas yang mati-matian ia hindari agak tak merusak moodnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
He Is Mine
Teen Fiction[MAAF. Beberapa part sudah di unpublish. Banyak revisi cerita.] Seorang gadis remaja ini, bernama Annasya. Memiliki seorang sahabat yang pintar, bernama Sally. Sejak perjumpaannya saat itu, menjadikan mereka lebih dekat dan menjadi akrab. Namun, di...