#3

56 8 0
                                    


Terdengar kicauan burung yang begitu nyaring dari luar jendela. Pancaran matahari mulai menembus kaca yang sejak pagi buta gordennya telah terbuka. Selepas mengerjakan kewajiban, Annasya tak melanjutkan tidurnya. Ia langsung duduk di depan meja belajarnya seraya melanjutkan bacaannya pada sebuah buku bersampul merah dengan judul "Kamu Cantik jika Taat sama Allah", yang seminggu lalu belum ia tuntaskan.

Tepat pukul setengah tujuh pagi, ia menyudahi aktifitas membacanya, kemudian mengambil pakaian kotor satu per satu dari gantungan pakaian di balik pintu. Dengan seember cucian di tangannya, ia memandangi Mamanya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.

"Selamat pagi Ma, Pa" Sapa Annasya

"Selamat pagi, Sayang. Gak kepagian tuh kamu nyucinya, Sya?" Tanya Anita dengan selembar roti di tangan kirinya.

"Ya gak lah, Ma. Kak Alvin mana? Belum bangun?" Tanyanya sambil menyimpan ember pakaian kotornya di lantai.

"Lagi jogging keliling kompleks nak. Katanya biar ganteng. Yah kali aja bisa nurunin kegantengan Papa. Itu sih katanya dia." Sontak tawa Papanya pecah sambil membalikkan lembar koran yang baru saja ia terima di depan pagar.

"Haha.. Papa gak usah nyebut-nyebut juga, udah ganteng kok. Kan, udah laku. Lah, Kak Alvin? Ganteng dari mananya Pa? Gebetan aja gak ada, jomblo iya." Annasya terbahak-bahak sambil menutup mulutnya, "udah ya, mau nyuci dulu." Annasya mendorong kursinya ke belakang sekalian mengambil ember di samping kursinya. Tapi seketika kursinya tertahan dan tidak juga mundur.

"Kamu bilang apa? Jomblo? Kamu ngatain aku jomblo ya?" Tukas Alvin yang berada di belakang kursi Annasya, dan seketika menautupi wajah Annasya dengan handuk bekas lap keringatnya.

Annasya terkejut dengan kemunculan kakaknya, tapi sepertinya kali ini ia harus menunjukkan senyum lebarnya seraya menyembunyikan rasa takutnya yang mulai tergambar di wajahnya itu. Sambil tersenyum lebar, perlahan ia mengambil ember pakaian kotornya dan berlari ke ruang cuci demi menghindari gangguan kakaknya sambil mengulurkan lidah.

Pak Dika dan Ibu Anita tersenyum bahkan sempat mentertawai anak sulungnya itu, yang sudah seperti kucing dan tikus. Terlebih Annasya yang begitu usil pada kakaknya. Tidak ada ketenangan baginya, jika ia dalam sehari saja tak mengganggu kakaknya.

***

Setelah menjemur cuciannya yang setengah basah akibat bantuan pengering, kemudian ia mengambil handuk di jemuran samping kamar mandi. Setelah itu, sambil mengeringkan rambut ia kembali mengingatkan seseorang dengan janjinya.

"Mau kemana siang-siang gini, Sya?" tanya Papa

"Eh... Papa. Mau ke rumah Sally. Kita berdua kemarin habis janjian mau ke toko buku. Berhubung whatsappku gak di bales jadi aku mau langsung ke rumahnya aja." Jawab Annasya sambil mengenakan sepatunya.

"Oh begitu. Naik apa nak? Naik motor?"

"Iya, Pa. Papa gak usah nganterin. Kan, aku uda gede. Hehehe"

"Iiiihhh... yang mau anterin siapa. Papa cuma nanya doang." Pak Dika seketika tertawa lepas menjauhi anak bungsunya itu menuju ke sofa ruang tamu.

Mengetahui sedang di usili oleh Papanya, Annasya memanyunkan bibirnya dan kembali menunduk memperbaiki tali sepatu yang mulai longgar nyaris terlepas. Dengan rasa kesal masih tergambar di wajahnya, ia mencium punggung tangan papanya dan menghilang di balik pintu rumahnya.

***

Siang itu langit terlihat begitu cerah, ia yakin bahwa tak ada hujan yang turun. Hanya saja ia harus tetap menggunakan masker hidung agar menghindari asap dan debu di jalanan. Demi keselamatannya di jalan, ia mengambil helm di garasi mobil, dan Annasya pun mengendari sepeda motornya ke arah rumah Sally.

He Is MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang