Jika seumpama kau sabar menatap langit, akan banyak kau temukan makna dari keindahannya. Tentang anggunnya ia sepanjang hari, tentang hilir mudik burung-burung kecil, yang begitu kecilnya kau anggap bintang gelap, bercerita sembari tertawa penuh bahagia. Hari itu kau katakan bahwa langitmu hanya diriku, hanya kepadaku matamu menatap. Lucu ya kita, masih saja mengingat tentang sebuah rahasia yang kita langitkan hari itu, menyembunyikannnya dari awan, dan berharap bumi tau.
Juga tentang jarak ribuan mil yang terbentang nyata ditengah kita, tapi ku yakin dalam lamunanmu matamu masih menatap langit yang sama denganku, duduk diteras rumahmu sembari mengingat pertemuan pertama waktu itu. Tapi tenang, doaku masih mampu menembus jarak ribuan mil itu, mampu mendekapmu dengan caraku, semoga langit malam ini memberimu isyarat bahwa ditempat berbeda ada yang sedang memikirkanmu.
Pada kanvas besar ciptaan Tuhan, aku ingin melukis, melukismu dalam dua dimensi yang menjadi pengantar tidurmu dan memasangnya didinding kamarmu, sayangnya diriku ini tidak diberi bakat melukis. Lukisanku hanya sebentuk kata-kata yang bisa kau gambarkan sendiri dilangit-langit malammu. Apa kah kau sudah tenang? Dan sudah merasa senang? Bagimu mungkin warna langit sama. Tanpa keindahan yang berarti. Sekalipun itu senja, tak akan membuatmu terkagum. Tapi, di sini, aku yang mengagumimu, akan berusaha agar kau mau dan mampu mengagumi senja. Duduk, hanya duduk untuk melepas lelah dan menghapuskan gundah. Perlahan aku yakin, kau akan mengerti.
Yah😶
KAMU SEDANG MEMBACA
MONOCHROME [LENGKAP]
Poetrykita hanya hitam dan putih, tidak usah lagi mengadopsi warna lain, berdua pun kita bisa memikat hati. -- Maros, 2017. -5 Maret 2019 - #11 in prosa #1 ceritabahagia -25 Maret 2019- #4 in poetry #6 in curhatan
![MONOCHROME [LENGKAP]](https://img.wattpad.com/cover/125503929-64-k894184.jpg)