10. Boy Meets Evil

1K 123 3
                                        

Di mana?

Di mana orang yang menjanjikan diriku selamat dari segala marabahaya? Di mana Jimin yang memberi aku harapan tentang keselamatan? Dia bilang, jika dirinya tidak akan membiarkan aku disentuh dengan lelaki yang sekarang sudah menarikku kesebuah ruangan besar dengan cahaya yang minim.

"S-sunbaenim! Hentikan! Bukankah ini tak adil?!" Pekikku padanya.

"-aku sama sekali tidak membicarakan apapun tentang kalian pada siapapun, tapi kenapa kau benar-benar seperti ini?!" Racauku benar-benar geram.

"Bukan hanya itu, memang ini yang ku mau. Kebetulan sudah hampir setahun lamanya aku tidak melakukan ini." Tutur Jungkook lalu membanting tubuhku kesebuah kasur lapuk didalam ruangan itu.

Aku sudah benar-benar lelah dengan kenyataan, rasanya ingin pasrah saja, walaupun memang aku tak ingin, toh bukannya aku sangat beruntung kan jika harus bersetubuh dengannya? Banyak yang menginginkan tubuh itu, bisa dibilang ini suatu keuntungan.

Air mata sudah mengalir deras diekor mataku, bahkan dia sekarang sudah mengikat kedua tanganku dengan sebuah tali kamah bewarna putih yang berada disana. Dia mengikatnya dengan sangat kencang pada sisi kasur, bisa dibilang tanganku sudah panas karena goresan yang aku dapat dari tali itu. Tanganku sudah terluka karenanya.

"SUNBAENIM!! HENTIKAN! KUMOHON!!"

"Aku akan menghentikannya setelah kau mendesahkan namaku."

Siapapun tolong aku, aku berharap seseorang datang, siapapun! Kim Taehyung atau Min Yoongi tolong pukuli Jungkook seperti kau memukul Jimin, tolong aku untuk kali ini saja aku mohon.

Taehyung Sunbaenim, aku benar-benar menarik semua kata-kataku, jelas aku membutuhkanmu, pertolonganmu, bantu aku dalam urusanku, kau boleh mencampuri urusanku setelah ini.

Tanpa disangka Taehyung datang, dan dia memang terkejut dengan apa yang Jungkook lakukan terlebih lagi adalah ketika itu aku yang ada dikasur ini. Dia mengeraskan genggamannya pada camilan yang dipegangnya. Namun dia hanya duduk disebuah sofa seolah tak peduli, bahkan dia tak ingin menatap kearahku. Mungkin karena dia sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusanku lagi.

Aku menoleh ke sekeliling ruangan ini, ini terlihat seperti sebuah studio rekaman lusuh tak terpakai. Banyak coretan dari pilok dan spidol.

BTS akan debut

Kami bertujuh tentu normal

Kami tidak gila, semua tahu itu!

Lepaskan kami PD-nim yang terhormat

Bang Shihyuk kau terlalu keparat

Sampai kapan kami berada di sini

BTS ada tujuh

Semua tampan

Kami menyukai sesuatu yang normal

Percayalah kami tidak gila sepertimu

Tempat apa ini? Tolong keluarkan aku.

Aku mengerang kuat saat Jungkook sudah menyumpalkan sebuah kain didalam mulutku dengan penuh. Kakiku bahkan sudah terikat tanpa sadarku. Ada apa dengan Taehyung, dia sama sekali tak peduli padaku, dia terus berkutik dengan ponselnya dan menutup telinganya dengan earphone. Tentu dia tidak akan bisa mendengar jeritanku meminta tolong.

Gila, dia benar-benar seperti ini padaku. Membuka kaos tipis yang aku kenakan, tatapan liar dan sensual yang aku lihat dari sorot mata Jeon Jungkook benar-benar membuatku pasrah. Aku tahu Taehyung sesekali melirik kearahku, kenapa Taehyung hanya diam saja? Dia seperti sudah terbiasa akan hal sekeji ini, seolah temannya sudah terbiasa melakukan ini.

Disorder✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang