PROLOG

219 8 0
                                        

"Mundur... nggak... mundur... nggak... mund—"

"Ngapain lo, Bang?"

Cowok yang mengenakan jersey merah bata itu mendengus kesal ketika kegiatannya diganggu dengan pertanyaan tidak berfaedah. "Berisik! Hush... husssh!"

"Yee, sewot! Ya udah, gue makan siang duluan. Baik-baik lo di hall sendirian, entar jatah makan siangnya habis bodo amat ya, gue ogah kalau lo minta anterin ke—"

"Duh, iya terserah lo! Pergi sana!"

Setelah manusia yang cowok itu anggap sebagai penggangu, ia pun memulai aksinya lagi. Posisinya tetap bersila sambil bersandar di bangku panjang sisi salah satu court. Kedua tangannya memegang raket; satu di gagang, satu lagi menunjuk lubang raketnya yang kecil-kecil.

Tetapi, ia kemudian mengerang kesal.

"Duh, sampai mana sih tadi ngitungnya? Sialan Sabda, ganggu konsentrasi gue aja!"

Cowok itu membanting raket yang tadi ia gunakan untuk 'menghitung' keputusannya. Jika orang lain biasanya memakai kancing sebagai metode penghitung untung-untungan, ia memafaatkan lubang raket yang tentu saja jumlahnya banyak.

Mundur dari Pelatnas PBSI...

Atau, bertahan saja?

***

REMATCHWhere stories live. Discover now