CHAPTER III: The Secret Love Song

111 17 12
                                    

Somewhere in downtown alley. Exact location unknown....

"Sparrow kau yakin ini tempatnya? Tempat ini membuatku merinding!" Ethan mengeluh pada Sparrow karena ia dibawa ke tempat entah berantah yang mengerikan; jauh di dalam lorong-lorong kota.

"Ya, cukup yakin." Sparrow mengangguk sambil mengelus-elus dagunya. Ia memastikan informasi yang diperolahnya dari sosok "Wolf" itu dengan ponselnya, "berjaga-jagalah! Kalau ini perangkap kita harus siap untuk menyerang balik. Siapkan senjatamu!"

Angin bertiup sangat kencang; menimbulkan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.

"Haachoo! Argh! bisa-bisa aku membeku di sini." hidung Ethan mulai memerah. Ia mengeluarkan sebuah Hip Flask (tempat menyimpan minuman beralkohol) dari sakunya. Ketika hendak menegak tequila-nya untuk menghangatkan badan, Sparrow mencegahnya.

"Jangan, nanti kamu mabuk!"

"Ayolah! Sedikit saja. Di sini dingin sekali!" Bantah Ethan.

Sparrow menghela nafasnya gemas "Satu teguk! Hanya satu teguk, okay?" Sparrow melepaskan tangan Ethan memperbolehkannya untuk minum.

Ethan dengan sengaja minum sampai mulutnya penuh dahulu. Ketika pipinya sudah mengembung, baru ia meneguknya. Yang seharusnya satu teguk menjadi empat teguk.

"Kau mau sedikit?" Ethan menawarkan minumannya kepada Sparrow. Sparrow menatapnya dengan kesal sejenak, namun ia menerimanya hanya saja ia tidak meminumnya, melainkan memasukkannya dalam saku, "Akan kuminum nanti." Jawab Sparrow dingin.

"Setelah kupikir-pikir aku saja yang memegangnya."

"Ssst...." Sparrow menyuruh Ethan untuk diam dengan memasang jari telunjuknya di depan mulut Ethan. "Dia sudah datang...." Tiba-tiba, angin bertiup semakin kencang. Empat teguk alkohol yang diminum Ethan tidak mampu menahan dinginnya.

Seseorang datang, Ethan dan Sparrow bisa merasakan keberadaannya. Angin seolah-olah memberitakan kedatangannya dan dingin mengisyaratkan kehadirannya.

"Kau masih belum berubah, Sebastian Sparrow...." Ada suara tiada rupa. Bahkan suaranya pun terdengar berat dan mencekam.

Ethan tidak hanya merinding karena kedinginan; sekarang ia juga ketakutan.

"Kau selalu siaga. Kukagumi kegigihanmu...." Ucap suara misterius itu.

"Perlihatkan dirimu!" Sparrow mengacungkan pistolnya ke sana ke mari; mencari-cari di mana asal suara itu, "Di mana kau?!"

"Kau bahkan menyadari kalau aku sudah datang..... padahal aku sudah meninggalkan ponselku.... as expected from one of The Four lieutenant."

"Gawai bukan satu-satunya yang bisa kuretas."Balas Sparrow dengan sedikit nada angkuh.

"Oh ya? Mungkin ini yang menjadi masalahnya?" Tiba-tiba, sebuah Smart Watch (jam tangan HP) jatuh di hadapan Sparrow.

"Sial! aku kehilangan kontak!" Sparrow tidak lagi bisa mendeteksi keberadaan Wolf.

"Ha...ha...ha...ha..." Tawa Wolf memenuhi seluruh lorong itu; seperti seekor serigala yang melolong karena mangsanya terperangkap. Sparrow tetap tenang dan waspada, tetapi Ethan sudah mulai keringat dingin. Tanpa sadar, ia melangkah mundur karena takut. Pistol yang diacungkannya gemetar.

[HIATUS]Deus Caritas Est (DCE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang