Enam puluh enam hari setelah peristiwa ledakan misterius di kediaman Brownsville. Kepolisian menduga penyebab kebakaran itu adalah kebocoran gas, namun tidak ada bukti yang cukup kuat. Tidak banyak yang bisa diselamatkan dari amukan jago merah itu. Hanya beberapa perabotan sederhana yang masih dapat berdiri tegak, meja keramik dengan cermin yang pecah, wastafel biru di ruang dapur, dan beberapa bangku taman. Menyedihkam! Benda-benda mati seperti itu, yang bahkan tidak berusaha untuk menyelamatkan dirinya, lolos dari lalapan api, sedangkan dua orang wanita yang baik hati direnggut nyawanya.
Mrs. Willford, The Brownsville Good Benefactor, ditemukan tewas tertimpa reruntuhan. Selain beliau, Melissa Brownsville, ibu Chloe, juga menjadi korban jiwa. Ia ditemukan tak bernyawa karena luka bakar kronis yang menyebabkan penyakitnya semakin parah, ditambah karena benturan keras di bagian tempurung belakang kepala akibat jatuh dari lantai dua. Melissa meninggal dalam keadaan yang mengenaskan, sangat bertentangan dengan senyum yang terulas di bibirnya yang sudah memucat. Seolah-olah ia telah mencapai semua keinginannya sebelum ajal menjemput.
Mengenai Chief Brownsville? David'lah yang menjadi misteri terbesar dari kisah ini...
~~~~~~~~
"PTSD, Post traumatic Stress Disorder... Chlie menderita trauma akut karena menyaksikan kejadian yang mengerikan." Jelas seorang terapis muda berkacamata dan rambut ikal, "sindrome seperti ini zamgat mudah menyerang anak berusia dini sepertinya.
Berhadapan dengan wanita itu, seorang pria berambut cokelat. Terlihat gugup dan khawatir. Ia menanggalkan topi fedora miliknya dan meletakkannya di depan dada.
"Please, doctor! Is there anything we can do?"
"The therapy needs time, sir. Not to mention careful and critical procedure to mend her wounded soul. The only thing you can do for the girl is to give us the permission and pray. "
"Of course..." Jawab pria itu, "dan saya akan menanggung semua biayanya."
Dokter muda itu mengangguk dan menyerahkan sebuah surat persetujuan perawatan medis untuk ditandatangani.
"Mr. Brownsville?... Anda ayah dari anak perempuan itu? "
"Huh?... Oh, b-bukan! Saya pamannya Chloe." Jawab pria itu sambil menawarkan jabatan tangan, "Steven, my name is Steven Brownsville. Nice to meet you. "
"Ariana Wielders. Pleasure's all mine." Salam sang dokter, menerima tangan Steven.
"Saya dengar dari Chloe bahwa ayahnya hadir pada saat rumahnya terbakar... Jika anda di sini menggantikan ayahnya..." Ariana terlihat prihatin, "Saya turut berduka. "wanita itu menarik kesimpulan.
"Oh, ti-tidak-tidak! Ayahnya masih hidup!" Tanggap Steven seketika.
"Benarkah? Hmm, berarti, mungkin Chloe berhalusinasi saat mengatakan ayahnya sudah tidak ada. Di mana beliau sekarang? Apakah beliau bisa dihubungi? "
"Hah.... Itu dia masalahnya dokter... " Steven mendesah resah sambil menjawab pertanyaan dokter itu, "David seolah-olah bukan dirinya lagi. Kami pun sudah tidak bisa menghubunginya. "
"Not even for her own daughter? "
Steven mengigit bibirnya dan menggeleng kepalanya, "Andai ia memperhatikan putri kecilnya, saya tidak mungkin berada di sini." Tangannya mengepal. Sedikit perasaan gusar bercampur kecewa mengaduk-ngaduk hatinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
[HIATUS]Deus Caritas Est (DCE)
Action"You see Ryan, when you put the word 'God' and 'Love' together, You'll find the true meaning of life." He smiles at him and said, "That is what you called 'Deus Caritas Est'." Ryan dan Edward adalah kakak-beradik yatim-piatu namun menikmati kehidu...