Tatasya, adalah manusia yang memiliki banyak julukan seperti Ndoro, Megantropus Erectus, Ratu rahang, Onye dan lainnya. Hari ini sedang berulang tahun, oleh karena itu seluruh rakyat Florence tengah merencanakan kejutan spesial untuknya.
Spesial, takkan pernah terlupakan.
Cimen yang merupakan otak dari rencana itu mulai membisikkan rencana apa yang akan mereka lakukan secara diam-diam tanpa sepengatuhan Tatasya.
Semua mengangguk, rencana pastinya akan berjalan mulus.
"Woi anak PMR sebentar Trainning Center susulan buat panitia diklat di dekat empang ya!" Cimen melancarkan aksinya didepan kelas mengundang minat Tatasya yang notabene nya adalah anak PMR.
"Men, berarti saya boleh ikut TC susulan?" tanyanya antusias.
Cimen mengangguk mantap, "asalkan ko pake celana olahraga," jawabnya.
Tatasya dengan senangnya segera meninggalkan kelas, mencari orang yang memiliki kelas Olahraga untuk meminjam celana olahraga.
Semua rakyat Florence, hanya bisa menggelengkan kepala. Beginilah kalau sudah Cimen yang bertindak.
Skip, pulang sekolah.
"Woi mana mi yang ikut TC? Cepatmi saya antar!" teriak Cimen, dengan sigap Tatasya menghadap depan Cimen.
Cimen mengajak Tatasya menuju empang belakang Sekolah.
Tanpa Tatasya sadari, semua rakyat Florence sedang mengikuti mereka dari belakang. Sambil terkikik geli.
Sesampainya mereka di depan empang, Tatasya bingung karena sepi.
"Tunggu yang lain disini oke," ucap Cimen kemudian mengalihkan atensinya pada teman-teman, memberi kode agar bersiap-siap.
Beberapa dari mereka sudah ada dibelakang Tatasya. Sedangkan yang lain memegangi ponsel bersiap melancarkan Snapgram ala anak hits jaman now.
Karena Tatasya merasa adanya pergerakan aneh sontak ia berbalik, betapa terkejutnya ia mendapati beberapa anak Florence sedang berdiri dibelakangnya.
Perasaannya sudah tak enak, mengingat jaraknya dengan empang hanya seperti mistar 30 Cm.
Dan, wush!
Tatasya jatuh di empang dengan keadaan kaget. Ia menyumpahi Cimen sebagai otak dari jatuhnya ke empang.
"HABEDE TATASYA, MOGA PANJANG UMUR SAMPE KETEMU DAJJAL!" itulah harapan yang diucapkan anak Florence.
"Tai!" balas Tatasya, kemudian meminta tangan mereka yang diatas untuk membantunya naik.
Tapi begitu, baru satu kakinya yang naik ke permukaan. Iqbal, yang memegangi tangan Tatasya langsung mendorongnya kembaki jatuh ke empang.
Jatuh batu, lebih tepatnya.
Dan kejadian ini berulang sebanyak empat kali hingga rasanya Tatasya ingin menangis karena tak kunjung beranjak dari air empang yang busuk dan berwarna hijau lumut itu.
Setelah puas mengerjai Tatasya, rakyat Florence meninggalkan Tatasya tanpa ada yang menolongnya.
Di sepanjang koridor Sekolah tak hentinya mereka terbahak-bahak karena dibelakang Tatasya dengan baju basahnya sedang berusaha naik dan mengejar mereka.
Maaf Tatasya, siapa suruh kamu punya hari ulang tahun kalau tidak kamu tidak akan merasakan baunya empang.
Dan selamat kepada Florence yang rencana berjalan lancar tanpa hambatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Florence'07
HumorTentang kelas yang memiliki 1001 cerita khas anak SMA. Gak jamin suka, tapi jamin bikin ketagihan. Kelas dengan beragam ciri khas. •Dialog menggunakan bahasa Sulawesi, biar feelnya dapet. Siapa tau kan kalian mau belajar bahasa sulawesi😇
