Hari yang sudah ditunggu tunggu tiba. Hari minggu dimana aku akan melakukan pemotretan untuk majalah sport ternama. Mereka memintaku datang jam 10 pagi untuk melakukan wawancara profil, dan dilanjutkan dengan sesi pemotretan yang akan didalam ruangan. Aku sangat bersemangat, aku sudah siap berangkat jam 9 pagi. Tidak ingin terlambat dan tampak tidak profesional dimata mereka. Aku hanya tinggal menunggu penjemputku yang sedang ada dijalan saat ini.
Mungkin kalian sudah bisa menebaknya. Ya Davin akan menjemputku dan menemaniku (lagi) ke kantor majalah sport itu. Kak Bella memang menawarkan untuk mengantarkanku, tapi aku menolaknya. Davin menawarkan diri terlebih dahulu dan bersikeras untuk menemaniku selama proses pemotretan. Dia bilang dia ingin melihatku bekerja, dan ingin tahu bagaimana setting disebuah pemotretan. Aku tidak melihat masalah dari hal itu jadi aku memperbolehkannya. Selain itu, dia bisa menenangkanku seandainya nanti aku nervous lagi.
Memikirkan tidak akan ada kak Ben yang bisa menenangkanku, atau memaklumi kesalahanku, aku merasa sedikit khawatir. Semua kru adalah orang yang tidak kukenal dan jika aku membuat mereka kesulitan aku akan merasa sangat bersalah.
TIN TIIN
Suara klakson mobil berbunyi, aku tahu itu pasti Davin. Aku berpamitan pada mama dan kakakku yang secara kompak meneriakkan good luck padaku. Mereka berdua adalah morning person, mereka selalu bangun di pagi buta. Entah itu untuk memasak, atau olahraga. Sedangkan aku? Butuh kerja keras untuk membangunkanku. Apalagi weekend seperti sekarang, biasanya aku hanya akan bangun disiang hari ketika perutku lapar. Tapi karena akhir akhir ini setiap weekend aku selalu ada pekerjaan, aku mulai terbiasa bangun pagi tanpa menghancurkan alarm dikamarku.
Davin melemparkan senyumnya dari balik kemudi. Aku masuk dan duduk dikursi penumpang di sampingnya. Davin tampak cool dengan jeans berwarna gelapnya dan kaos putih yang dipadukan dengan jaket bomber motif tentaranya. Tidak lupa sepatu convers kebesarannya. Seperti sebelumnya aku tidak membawa perlengkapan apapun, juga tidak menggunakan make up sedikitpun. My hair, make up, clothes, semua akan disiapkan pihak majalah.
"Nervous?" Tanya Davin tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya. Tapi aku bisa melihat seringainya dari samping.
"Sedikit?" Jawabku dengan nada bertanya.
Davin kemudian menolehku dan tersenyum sebelum kembali memfokuskan pandangannya ke jalan raya. "Jangan khawatir. You will nailed it."
"Thank you"
Aku tidak berbohong ketika aku bilang aku hanya grogi sedikit. Ini bukan pemotretanku yang pertama setelah clothing brand dan semua endorse itu. Meskipun ini yang pertama kali untuk sebuah majalah, tapi dengan segala pujian yang kuterima selama ini, sedikit banyak kepercayaan diriku meningkat. Khawatirku hanya karena takut aku tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka, bagaimanapun mereka adalah majalah besar.
"I bought lots of Sportivo magazines you know. Sebagai referensi, bagaimana hasil pemotretan yang mereka gunakan selama ini. Aku lihat satu persatu foto-foto yang mereka publikasikan." Ucapku disela keheningan selama perjalanan.
Davin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalo gitu lo udah siap banget dong. Gak perlu grogi kan"
"I think so.." Kami kembali dalam mode senyap. Keheningan yang nyaman.
Waktu menunjukkan pukul 09.43 ketika aku sampai di gedung perkantoran majalah Sportivo. Aku datang lebih awal dari jadwal, dan ini bagus. Memberiku kesempatan untuk melihat setting dan dekorasi yang digunakan. Aku dan Davin langsung menuju lift dan menekan tombol ke lantai 2, tempat kantor keredaksian dimana aku melakukan wawancara sebelumnya. Bu Siska pernah menjelaskan bahwa gedung kantornya terdiri dari 4 lantai. Lantai paling bawah adalah tempat percetakan majalah. Lantai 2 adalah kantor managemen dan staff keredaksian. Lantai 3 dikhususkan untuk ruangan pemotretan. Dan lantai 4 adalah gudang, dimana semua properti dan pakaian tersimpan untuk kemudian hari dapat digunakan sewaktu-waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Curve
ChickLitApa deskripsi wanita cantik? Tinggi, seksi, bentuk badan bak gitar spanyol, kulit yang cerah dan mulus tanpa cela, bla bla bla dan sebagainya. Ya ya ya.. benar itu deskripsi wanita cantik. Tapi, lalu bagaimana dengan wanita yang pendek? Berkulit hit...
