Rahasia Matra Yang Lain

1.9K 115 2
                                        

"Lo kemana semalam? Gue kelimpungan cari lo, kampret! Sialan!" amuk Kian setibanya gue di ruang guru.

Gue masang muka minta maaf. "Gue ada urusan mendadak dan lupa ngabarin lo"

Kian masih ngumpat tanpa suara. Muka kesalnya tercetak jelas disana. Dia merogoh tasnya. "Nih...HP lo ketinggalan di meja kemarin"

"Thank's"

"Hmmmm"

Kegiatan sekolah hari ini berjalan seperti biasanya. Ngadepin anak-anak bandel dan nge-hukum mereka seperti yang biasa gue lakuin. Karena ada kegiatan rapat guru dadakan, anak-anak dipulangkan lebih awal.

Usai rapat, gue dan Kian ambil kesempatan habisin waktu naik kuda di sekitar sekolahan. Udah lama gue gak naik kuda. Kebetulan Kian yang ngajarin anak-anak naik kuda disini selaku guru ekstranya.

Kita udah siap dengan pakaian berkuda dan nunggangi masing-masing kuda favorite kita.

"Bel..."

"Hmmm?"

Kian nyejajarin langkah kudanya. "Kakak sepupu gue baru pulang dari Italia. Ya tuhaann, dia ganteng banget" ujarnya dengan wajah memuja. Gue geleng kepala. "Kapan-kapan gue ajak lo makan bareng ya"

"Kenapa harus sama gue?"

"Ya gue pengen kenalin dia ke lo juga" ucapnya misterius.

"Apa untungnya buat gue?"

"Ck. Gue denger dia satu sekolah sama lo"

"WHAT?" mata gue membola, tangan gue mendadak berhentiin langkah kaki kuda gue. Apa yang dia maksud orang yang sama dengan apa yang ada di dalam pikiran gue?

Dan pertanyaan itu terjawab juga waktu Kian celingukan nyari seseorang. Tepat dari arah selatan, cowok yang gue maksud berdiri di pinggir lapangan. Dia melambai sambil tersenyum ke arah kita. Kian menyambut sapaannya.

"Kak Hanif..." pekik Kian riang.

Gue geleng kepala, antara kaget dan geli liat tingkahnya.

Setelah ngembaliin kuda ke kandangnya dan ganti pakaian, gue nemuin Hanif yang udah nunggu sedari tadi. Sedang, Kian masih buang hajat di kamar mandi.

"Jadi, lo kakak sepupunya Kian?" gue jalan ke arahnya. "Dunia emang sempit ya"

"Jadi lo temannya adek sepupu gue?" candanya. "Pantes waktu gue nyebut nama lo dia marahin gue"

"Marah? Kenapa?"

"Karena gue bilang gue suka sama istri orang"

Gue ketawa nanggepinnya. "Lo gimana? Udah nikah?"

Hanif justru ketawa lalu hela nafas panjang, ngedikin bahu. "Belom ada rencana"

"Lo masih nunggu dia?"

Hanif senyum kecil, menunduk, mainin kakinya. "Gue denger dia udah kawin juga"

Perhatian gue sepenuhnya ke Hanif yang tampak acuh. "Terus rencana lo?"

"Nyari yang baru" jawabnya misterius.

Gue berdecak sebal.

"Kalian nunggu lama?" Kian hampirin kita sambil lari. "Sorry, perut gue sakit banget" sesalnya. Disambut kekehan dari Hanif. "Gue lapar. Kita makan dulu gimana? Lo bilang suami lo dech, lo pulang bareng gue. Kita jalan-jalan bentar. Oke?" usul Kian menggebu-gebu.

Gue mikir bentar sebelum akhirnya gue anggukin kepala tanda setuju.

Kita berangkat ke salah satu rumah makan yang dulu sering gue dan Hanif datangin. Tempat favorite kita waktu sekolah. Banyak yang kita semua obrolin tentang masa lalu dan apa aja kegiatan kita selama ini. Saling bertukar cerita. Hampir 3 jam kita habisin waktu cuma nongkrong di tempat yang sama. Sampai panggilan Matra tanpa sengaja gue abaiin. Ada 50 panggilan tak terjawab di layar HP gue.

Greatest BlessingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang