Let Me Breathe Near You

1.5K 99 5
                                        

Saat mata gue kebuka, pertama kali yang ada dipikiran gue adalah gimana cara gue selanjutnya ngadepin Matra?

"Udah bangun?" sapa Matra ngusap kepala gue.

"Hmm" gumam gue dudukin diri.

Kedua alis gue bertaut ngeliat Matra jalan dari dapur bawa keranjang sampah keluar.

"Kenapa?"

Gue geleng kepala. Gak ada lagi ekspresi jijik di raut mukanya meski dia masih pakai sarung tangan dan masker. "Ng...nggak"

"Lo ada rencana keluar?" Matra hidangin makanan di meja makan. Nasi goreng disajikan bentuk bento.

"Ng...nggak" gue deketin dia, duduk disana.

"Gue juga kebetulan gak ada acara. Mau keluar bareng?" dia udah duduk diseberang gue, bersiap makan.

"Kemana?" gue juga ikutan nyantap makanannya.

"Terserah lo"

"Gue di rumah aja"

"Gue gak pengen di rumah. Temenin gue"

"Gak mood"

"Gue maksa"

Gue tatap dia malas. Sifat menyebalkannya keluar. "Tukang maksa"

"Lo emang tipe orang yang perlu dipaksa"

Gue muter bola matar, liat dia gak berminat.

Saat makanan habis, gue bawa bekas makan kita ke tempat cuci piring. Tapi Matra dorong gue dan ambil alih spon cuci piring di tangan gue. Kening gue berkerut mandang dia aneh. Sebaliknya orang yang gue liat justru ngedipin mata dan ngusap kepala gue yang ntah kenapa bikin hati gue tersentil.

"Gue mandi duluan"

Dia ngangguk. "Gue tunggu di mobil"

"Lo udah mandi?"

"Gue udah nunggu lo 2 jam-an"

"Ha?" gue lirik jam dinding. Gak terlalu siang juga gue bangun. "Masih jam 7"

Matra geleng kepala sambil katawa pelan. "Gue tunggu di mobil" kepala gue dia usap lagi, ngelewati gue pergi keluar.

Apa gue salah ngomong semalam? Pikir gue bingung.

Gue pun segera nyiapin diri. Gak mungkin gue biarin Matra nunggu lama meski gue pengen ngelakuinnya.

*****

Matra bawa gue ke pantai yang jauhnya butuh berjam-jam untuk nyampek kesini. Hampir setengah hari kita habisin waktu di mobil. Setiap gue tanya, Matra selalu nyuruh gue tidur. Gue sempat kesel dan minta pulang. Tapi balik lagi, orang yang gue hadapin adalah Matra.

"Demi kesini lo nyeret gue sejauh ini?" gue menggerutu capek campur kesal.

Pasalnya Matra sama sekali gak berniat istirahat di tengah jalan walaupun gue ngerengek minta diturunin. Matra dengan sikap cueknya justru bawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.

"Siapa lagi yang bisa gue ajak kecuali lo?" wajahnya sumringah jalan mundur ke arah pantai.

"Pelacur lo kan banyak"

Dia ketawa keras. "Tapi gak se-asyik lo" gue berdecak. Dia makin ketawa keras. "Muka lo masam amat, Bel"

Dia berhenti satu langkah di depan gue. Merhatiin sekeliling. Gue baru sadar cuma ada kita berdua doank di sepanjang pantai membentang.

"Orang kota jarang datang kesini, makanya gue ajak lo kesini" sebelah alis gue naik. "Lo bisa main sepuasnya disini. Gue juga lagi butuh refreshing"

Greatest BlessingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang