"Nikah yok!!"
"Perlu gue tonjok juga kepala lo?"
"Selamat. Semoga pernikahan kalian langgeng" dia tiruin ucapan gue ke Ghaza. "Sok kuat"
"Gak usah mancing emosi gue"
"Pura-pura kuat di depan, nyata nya lo mewek juga ntar" ledeknya.
"Karena gue bukan pecundang"
"Kuat di luar, pecundang di dalam?" dia senyum miring. "Mending lo buang filosofis tentang kalimat 'Aku mencintai mu. Aku membutuhkan mu' dari dunia percintaan. Kesalahan fatal yang selalu diucapin orang-orang gila dimabuk cinta. Padahal semua kata-kata romantis gak bakal berakhir dengan hubungan romantis juga. Harusnya lo sadar setelah kejadian ditinggal nikah sama mantan"
"Lo pengen ngomong apa sich sebenarnya? Ha?"
"Gue pengen nikah. Tanpa ikatan, tanpa hati, tanpa syarat. Dan gue pengen ngajak lo bergabung dalam permainan gue"
Gue tatap dia lama. "Gue nggak paham dengan jalan pikiran lo, tapi satu hal yang pasti, gue gak pengen ikutan gila kayak lo" tegas gue seraya lambai tangan berhentiin taksi.
"Woooyy" gue dorong paksa dia masuk.
"Pak, antar dia pulang" ucap gue ke sopir sebelum banting pintunya. Dia masih meronta pengen keluar.
"Gue bakal temuin lo besok!" teriaknya dari jendela kaca pas taksi tancap gas.
Gue geleng kepala. Ngajak nikah kayak ngajak main jalangkung.
Gak lama, gue nyebrang dan berhentiin taksi lain, berjalan lain arah. Selama perjalanan otak gue masih blank. Gue marah, gue pengen nangis. Tapi saat gue berusaha keluarin semuanya, yang ada pikiran gue jadi kosong. Gue kebingungan, semuanya buntu.
Sampai di rumah baru lah semua emosi gue luapin. Nangis, marah, teriak, sampek kamar gue berantakin, barang-barang berserakan, dan sebagai penutup gue lempar lampu tidur gue ke kaca rias yang berakhir mengenaskan. Hancur berserakan kayak perasaan gue sekarang.
Sebut gue lebay, cengeng, dan apapun. Karena 10 tahun pacaran itu bukan waktu singkat untuk gue bisa lepasin semuanya secepat mungkin. Gak kayak kentut, nyisain bau sebentar doank meski gak ada wujudnya.
*****
Jam sekolah belum kelar, tapi liat sosok yang sedang duduk bak raja di hadapan gue justru bikin gue pengen cepat-cepat menghilang sekarang juga. Tatapan dan senyum jenakanya pengen banget gue timpuk pakek silet.
"Gak usah terlalu alay shock lo, gue kan udah bilang semalam gue bakal temuin lo lagi"
Gue dengan kekagetan gue, baru jatuhin diri duduk di sampingnya. Sekarang kita lagi berduaan di ruang kepala sekolah, sedang sang pemilik ruangan diusir dengan sopan oleh dia yang gak gue tau jabatannya apa disini sampek-sampek setingkat kepala sekolah dengan senang hati pinjamin ruangannya demi kita berdua.
Dia memicingkan mata, perhatiin wajah gue, kemudia ketawa ngejek. "Gue kira muka lo gak bakal sebengap ini" dia berdecih. "Mirip katak lagi ngeden"
Gue timpuk kepalanya pakek bantal sofa. Akibat nangis semalaman muka gue keliatan kayak habis di tabok. "Lo ngapain kesini?"
Dia senyum menggoda gue. "Jenguk calon istri lah"
Lagi, gue timpuk kepalanya berkali-kali lebih brutal sampek puas. Gue tarik nafas dalam-dalam, tahan emosi.
Dia ketawa. Gue tatap dia nyalang. "Lo seksi"
Tahan! Tahan! Tekan gue dalam hati.
Dia ketawa lagi perhatiin gue. "Oke. Oke. Kita langsung ke inti pembicaraan aja. Kita gak punya waktu banyak"Dia benerin duduknya. Berubah tegas natap gue. "Gimana tawaran gue semalam? Lo pasti udah pikirin kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Greatest Blessing
Romansa[Completed] Dikelilingi cowok-cowok kampret bin absurd, bikin dunia gue ikutan jungkir balik. Dimana gue punya 2 kakak cowok, yang pertama namanya kak Barka yang udah jadi playboy bertahun-tahun dan hoby nya suka kawinin anak perawan orang dan kakak...
