"Lo udah bangun?" suara Nabil nyapa kita.
Matra mengangguk kecil. Dia dan kak Gaga sedang nyiapin makanan yang mereka bawa di atas meja di kamar inapnya Matra.
"Kapan bisa pulang?" giliran kak Gaga yang nanya.
Kita duduk di sofa bareng mereka. "Belom tau" jawab gue.
Setelahnya kita nikmatin makanan kita masing-masing. Karena Matra masih belom bisa makan pakai tangannya sendiri, gue yang nyuapin dia. Disela makan kita, kak Barka muncul dari pintu dengan wajah kusutnya, tapi tetap masang senyumnya.
"Kapan lo bangun?" tanyanya dan langsung ikutan nimbrung ngabisin makanan yang ada.
"Tadi pagi"
"Kenapa muka lo? Gimana keadaan Yori?" kak Gaga bersuara.
"Gak begitu baik. Lagi nunggu waktu, kayaknya ntar malam udah lahiran"
Spontan pandangan kami semua sepenuhnya beralih ke kak Barka yang nunduk ngabisin jatah makannya. Cara makannya radak tergesa-gesa dan kacau.
Gue yakin ada sesuatu yang pengen dia ungkapin. "Kenapa lo?"
Kak Barka jawab setelah nelan makanan di mulutnya. "Anak gue lahir prematur. Dokter bilang mungkin anak gue bermasalah"
Kita manggut-manggut mandang kak Barka iba.
"Gue denger kalian habis ribut" suara ketus Matra bikin kita mandang dia dan kak Barka bergantian. "Nyokap yang bilang"
Gue mandang kak Barka sengit. Meski gue tau dia playboy, tapi gak sebajingan Matra. Ya, sebelum gue tau Matra orangnya kayak gimana maksud gue.
Kak Barka hela nafas gusar. "Yori salah paham. Gue cuma nganter temen gue ke hotel. Gue gak tau waktu itu dia ke kantor dan liat gue lalu mutusin ikutin gue" kak Barka ngacak rambutnya frustasi.
"Terus keadaannya kayak gini gara-gara lo?" giliran Nabil yang bersuara.
"Kayaknya. Kata dokter dia terlalu banyak pikiran"
Botol ditangan gue lempar kena kepalanya. Kak Barka gak menghindar dan meringis kesakitan pun nggak. "Goblok"
"Lo udah ngomong sama Yori?" kak Gaga ikutan greget.
"Gue berusaha jelasin tapi Yori ngehindar terus. Nanti kalo keadaannya udah radak baikan dan bisa dengerin gue, gue bakal ngomong"
"Di ruang berapa Yori nginep?"
"103. Di lantai bawah lo"
"Ntar kita kesana kalo dokternya Matra udah kesini. Hasil lab-nya Matra baru keluar nanti"
"Okey" kak Barka berdiri lesu. "Gue harus balik. Yori gue tinggal sendirian tadi. Gue rasa dia udah bangun sekarang"
"Oke. Habis ini kita berdua kesana" kata Nabil.
Kak Barka anggukin kepala dan pergi. Gak lama kita pun nyelesaiin makanan kita. Gue bantuin kak Gaga beresin meja, sedang Matra balik berbaring ke bangkarnya dibantu Nabil. Mereka lagi serius ngobrolin kejadian yang nimpa Matra.
Usai bersih-bersih, kak Gaga dan Nabil pamit mau ngunjungi Yori pas waktu dokter masuk ke ruangan dan meriksa keadaan Matra.
Kata dokter keadaan Matra mulai membaik. Gak ada masalah yang serius kecuali kakinya yang perlu kemoterapi akibat patah tulangnya. Cuma butuh waktu 2 malam lagi kita istirahat di rumah sakit. Untuk kemoterapinya bisa dijadwal seminggu 2 kali. Kita pun setuju.
Dokter keluar, Matra minta dianterin ke Yori. Muka khawatirnya bikin gue gak bisa nolak. Gue ambil kursi roda dan kita pun nyusul kak Gaga dan Nabil ke kamar yang kak Barka bilang tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Greatest Blessing
Romance[Completed] Dikelilingi cowok-cowok kampret bin absurd, bikin dunia gue ikutan jungkir balik. Dimana gue punya 2 kakak cowok, yang pertama namanya kak Barka yang udah jadi playboy bertahun-tahun dan hoby nya suka kawinin anak perawan orang dan kakak...
