Keputusan Nyokap

1.6K 98 4
                                        

Typo bertebaran. Harap maklum.

******

"Kenapa lo pergi gitu aja ninggalin gue saat temen-temen gue pengen tau siapa ISTRI gue? SA-YANG...?"

WHAT THE HELL!!!

Senyum iblis nya narik indera gue mendekat dan tangan gue nyambar telinganya. Gue udah capek dikerjain mulu.

Bak anak kecil, gue tarik telinganya keluar dari lapangan. Dia brontak berusaha ngelepas tangan gue dan mencoba ngeraih kepala gue. Dengan sebelah tangan gue nganggur, gue jambak rambutnya. Dia menjerit kesakitan minta tolong.

Gue gak perduli semua orang nonton disana pada cengo dan bersorak, tapi sebagian besar para cowok ketawa dan dukung aksi gue.

"Lepas! Lepas!" mukanya udah merah karena marah.

"Mampus lo! Ini balasan karena udah permaluin gue" kata gue bangga.

Sepanjang perjalanan perhatian orang-orang gak lepas dari kita. Sampek orang-orang yang sedang makan bakso di pinggir jalan melongo dan tersedak. Matra gak berhentinya membela diri sampek gue temuin tempat yang bener-bener sepi untuk lepasin penderitaannya.

"Aaaahhh....Dasar! Macan betina. Mau mati lo? Ha?" umpatnya, tendang kursi panjang yang ada disana. "Lo rendahin harga diri gue banget. Bakal gue balas perlakuan lo hari ini"

Kita ada di parkiran bawah tanah khusus dosen.

Gue ketawa hambar. Baru kali ini gue liat dia bener-bener marah. "Gue gak takut. Terserah lo mau lakuin apa, yang jelas hari ini kita IMPAS"

"Impas pantat lo! Apa yang gue lakuin ke lo? Ha?"

"Heh!" gue ikutan emosi, nunjuk mukanya garang. "Selama ini lo udah injek-injek harga diri gue. Ditambah lagi pengumuman lo hari ini udah bikin harga diri gue hancur lebur"

"Gue ngumumin kenyataan. Lo emang istri gue. Harusnya lo bangga karena ngakuin lo sebagai ISTRI SAH gue"

"Gue gak mau tau. Pokok nya lo BUKAN suami gue. Gue gak mau punya suami brondong dekil kayak lo"

'TERSERAH! Apapun yang lo katain, gue tetep SUAMI lo sampek kapan pun" kekeh nya, tersenyum miring.

"OGAH! Pokoknya gue mau minta CE-RAI"

"Gue gak mau! Sampek kapan pun gue gak mau ceraiin lo"

"Cih...eh, nyadar donk, lo masih anak ingusan. Gak pantes sama gue" jari telunjuk gue dorong kepalanya ke belakang. Dia menjauh.

"Salah lo sendiri gak ngecek identitas gue"

"Itu karena lo yang ngajak nikah gue duluan. Wajar gue anggap lo udah dewasa kayak gue"

Dia natap gue datar, kemudian ngakak, ngejek gue. "Dewasa darimana? Bloon gini lo bilang dewasa? Ngaca lo!" gantian dia yang dorong kepala gue. Gue tepis tangannya kasar.

"Masa bodo. Pokoknya gue minta cerai"

"O-gah! Bukan karena perbedaan usia kita harus cerai. Alasan itu gak bakal ngaruh juga di pengadilan" smirk nya lagi-lagi terpampang disana. Gue buang muka. "Udah dech, mending lo perbaiki diri dan jadi istri yang baik daaannn penurut.

Itu bagus buat kelangsungan hidup pernikahan kita. Lo gak bakal nyesel nikah sama gue"

"TAIK!" sekuat tenaga gue pukul dia sampek babak belur dengan tas gue. Dia berusaha menghindar dan nahan tangan gue. Karena gak berhasil, dia lindungi kepalanya pakek tangan. "Mati aja lo! Mati aja lo! Pokoknya kita harus cerai. Cerai. Cerai. Lo denger CE...."

Greatest BlessingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang