21

1.9K 214 13
                                        

Sudah seharian Jennie hanya terbaring di ranjangnya. Dia memang memejamkan mata,  tapi dia tidak benar-benar tidur.

Terlalu banyak yang ia pikirkan.

Sampai kepalanya pening.

Beberapa menit kemudian.
Tiba-tiba ponselnya berdering.

Jennie mengambil ponsel tepat di sebelahnya.

"Jinhwan Oppa? " baca Jennie saat ia lihat nama Kim Jinhwan di layar ponselnya.

"oh,  oppa?Ada apa?" tanya Jennie heran karena tidak biasanya Jinhwan menghubungi Jennie.

Karena kebanyakan panggilan masuk di ponselnya hanya dari Bobby, Chanwoo dan Rose.

"ah, aniya. Aku hanya menanyai kabarmu. Aku khawatir sejak pernikahan Hayi kau tidak banyak bicara dan jarang membalas pesan di group"  jelas Jinhwan diujung sana

Jennie menghela napas,  sejujurnya memang dia sedang tidak dalam keadaan yang baik mengingat tentang kemarin kemarin.

Ditambah lagi ayahnya yang jarang pulang dan meninggalkannya berdua dengan si nenek sihir menyebalkan.

"aku baik-baik saja. Oppa kau tidak perlu khawatir."

Sambil terus berbincang di telepon, Jennie berjalan menuju rak gantung tempat jaket-jaketnya berada.

"baiklah,  kau dimana sekarang?"  tanya Jinhwan.

Jennie mulai memakai salah satu jaketnya tanpa melepas ponsel dari telinganya.

"aku baru ingin ke toserba,  aku butuh minum"

"yaa!!"

Omelan Jinhwan berhasil membuat Jennie menjauhkan ponsel dari telinganya.

"diamlah dirumah,  jangan kemana-mana.  Dan jangan terlalu mabuk". Oceh Jinhwan.

"eung,  baiklah.  Kututup ya, selamat natal." Jennie memutuskan sambungannya, memasukkan ponselnya kedalam saku jaket lalu ia berjalan menuju pintu kamarnya.

Betapa terkejutnya Jennie melihat ibu tirinya sudah berdiri tepat didepan pintu,  dengan tangan mengepal diudara.

Sepertinya wanita itu baru ingin mengetuk pintu namun Jennie sudah lebih dulu membukanya.

"waeyo?" Tanya Jennie ketus.

"kau seharian tidak makan,  kau baik-baik saja?" tanya ibunya.

Jennie mendengus.
"sejak kapan kau jadi perhatian seperti ini?"

"bagaimana pun kau ini anak aku,  meski aku membencimu" ujar ibunya.

Jennie tersenyum miring,  kalau memang membenci kenapa harus perhatian?  Atau sebenarnya justru dia yang butuh perhatian? Karna memang ibu tirinya selalu mencari perhatian pada ayah Jennie,  berpura-pura baik didepannya.

"bagus!  Teruslah membenciku seperti itu. Aku akan aneh jika kau perhatian seperti ini." skak Jennie.

Jennie berjalan melewati ibunya.

Lalu sedetik kemudian dia berputar.
"oh ya,  sepertinya kau tak usah repot-repot membuatkanku sarapan lagi, karena sebentar lagi aku akan pergi sesuai keinginanmu selama ini"

Setelah itu Jennie langsung pergi lagi tanpa membiarkan ibunya membalas perkataannya dan Jennie dapat melihat wanita itu tidak bisa berkata apa-apa.

Jennie baru saja keluar dari rumahnya,  ia berjalan kaki karena ia hanya pergi ke toserba yang tak jauh dari rumahnya. 

Sesuai yang ia bilang pada Jinhwan tadi,  dia butuh minum sebagai pelampiasannya.

NONAGON (The Black Hunter) Completed Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang