27

1.1K 157 11
                                        

Jennie menjulurkan tangannya untuk mengambil segelas air di meja. Saat ia sudah hampir dekat dengan gelas itu namun seseorang lebih dulu mengambil gelasnya.

Jennie mendongak mendapatkan ibu tirinya tengah berdiri sambil menggenggam gelas.

Tanpa kata, ibu Jennie memberikan gelas itu pada Jennie.
Jennie melihat dulu sebelum mengambil alih gelas itu.

"kamsahamnida" ucap Jennie lalu meminum airnya.
Dan untuk pertama kalinya Jennie berbicara formal pada ibu tirinya.

"sudah lebih baik?" tanya ibunya

Ibu Jennie mengambil alih gelas itu lagi dan meletakkannya kembali ke meja.

Jennie hanya mengangguk.

"ini akibatnya jika kau tidak mendengar kata-kataku" kata ibunya sembari duduk di kursi samping ranjang Jennie.

"jika kau kemari hanya untuk mengajak ribut,  sebaiknya kau pulang" ucap jennie ketus.

Lalu ibu tirinya bangkit dari kursi.

Namun Jennie menahannya dengan tangannya yang terpasang selang infus.

Jennie menggenggam tangan ibu tirinya itu, menatap genggaman mereka.

Ibu tirinya hanya diam dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

"kamsahamnida...Eomma" ucap Jennie.

Ibu tirinya tersentuh lalu menumpuk tangannya diatas tangan Jennie

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ibu tirinya tersentuh lalu menumpuk tangannya diatas tangan Jennie.
Untuk pertama kalinya Jennie memanggilnya dengan sebutan 'Eomma'.

***

3 bulan kemudian

Setelah semua investigasi dilakulan akhirnya hari ini Jisoo harus menghadiri persidangan untuk tuntutannya terhadap Lee Jae Joon.

Beberapa kali Jisoo harus menemui pihak polisi, akhirnya hari yang ia tunggu sudah tiba.

Suasana hatinya senang namun juga sedih disaat yang bersamaan.

Jisoo menghampiri Suhyun yang sedang duduk dipinggir ranjang.

3 bulan terakhir Jisoo memutuskan untuk membawa Suhyun untuk tinggal di apartement miliknya.

Jisoo menyentuh bahu Suhyun sambil tersenyum.
"Gwaenchanayo?"

Suhyun mendongak menatap Jisoo.
Meski suhyun merasa bimbang dan sedih namun rasa sedihnya itu terkalahkan dengan rasa bersalahnya pada Jisoo.

Suhyun harus menyelesaikkan semuanya,  mengungkapkan semuanya demi Jisoo.
Dia menyakinkan dirinya sendiri dengan menarik nafas dalam-dalam.

"eonnineun?" tanya Suhyun.

"bagaimana aku bisa baik-baik saja sedangkan kau merasa sedih seperti ini?"

Dengan cepat Suhyun menggeleng,  ia tidak mau Jisoo salah paham.

Suhyun berdiri lalu berjalan melalui Jisoo.

"ayo, eonni.  Sebaiknya kita pergi sekarang. Aku ingin menyelesaikan semuanya"

Jisoo tersenyum lalu menyusul Suhyun keluar.

***
Dari sini Rose bisa memantau jalannya sidang.
Ini pertama kalinya bagi Rose memasuki ruang sidang.

Semua anggota Nonagon juga datang.
Hanbin dengan Jennie, Bobby dengan Jisoo,  Chanwoo,  Donghyuk dengan Lisa,  Yunhyeong dan tentu saja June yang duduk disamping Rose, hampir lupa...Jinyoung juga datang.

Rose menunduk mengingat Jinhwan. Harusnya Jinhwan ada disini memberikan semangat pada Suhyun yang akan menjadi saksi kunci.

Jaksa penuntut mengeluarkan bukti bukti yang telah ia dapat.

Seminggu sebelumnya Nonagon sudah memberikan semua bukti-bukti yang telah mereka kumpulkan ke kantor kejaksaan.

Majelis hakim mulai memanggil saksi-saksi.

Dari beberapa saksi kini waktunya Suhyun menceritakan semuanya dengan jujur bagaimana semua kejahatan ayahnya yang sudah membunuh dan juga yang sudah membuatnya menjadi buta selama hidupnya.

Jisoo memastikan wajah Lee Jae Joon saat ini pucat pasih melihat saksi adalah anaknya sendiri yang bahkan sekarang sudah bisa melihat.

Dengan sangat tenang Suhyun duduk didepan hakim yang meminta kesaksiannya.
Suhyun mengepal telapak tangannya untuk mengurangi rasa gugup.

Bukan hanya Suhyun,  Jisoopun sangat gugup sampai seluruh tubuhnya bergeming.
Mata Jisoo tidak bisa lepas dari Suhyun yang menceritakan semuanya.

Jisoo menahan mulutnya dengan kedua tangannya,  menahan isak yang mungkin saja akan keluar,  tubuhnya tidak bisa diam dan terus bergetar.

Sekuat tenaga Suhyun menjelaskan semuanya tanpa menangis.  Sejujurnya Suhyun sangat ingin berteriak menceritakan semuanya tapi rasa itu ia tahan agar ia bisa menjelaskan semuanya dengan benar.

Bobby menarik Jisoo kedalam rangkulannya setelah ia lihat Jisoo mulai tidak terkendali.

Pengacara Lee Jae Joon kalah telak dan tidak bisa membela rekannya. 

Sampai akhirnya Yang Mulia Hakim mengetuk palu dan menjatuhkan hukuman.

Jisoo memeluk Bobby setelah mendengar hukuman Lee Jae Joon.

Hukuman mati.

Perasaan senang dan sedih menjadi satu.  Jisoo senang karena semuanya sudah jelas dan sudah berakhir namun ia juga sedih mengingat Suhyun.

Suhyun hanya menunduk menitikkan air matanya atas hukuman untuk ayahnya.
Suhyun mendongak sebentar menatap ayahnya untuk yang terakhir kalinya sebelum ayahnya pergi dari ruangan ini.

Disaat itu juga semua ponsel anggota Nonagon berbunyi.

"Terima Kasih atas kerja keras kalian. Hari ini, seperti kesepakatan kita Nonagon berakhir. Aku harap kalian akan memulai hidup yang lebih baik"

Bobby membaca pesan yang tentu saja dia tahu siapa yang mengirimnya.

Bobby menoleh kebelakang melihat Rose yang sedang tersenyum kepadanya.

Lalu bobby membuka mulutnya namun tidak bersuara dan hanya mengucap
"Jalhaeseo" ucap Bobby tanpa kata yang dibalas dengan senyuman Rose.

                                  °°°

Maafin aku baru sempet update😭😭
Terima Kasih banyak buat kalian yang udah vote dan komen😘🙏🙏
Terima kasih juga buat kalian yang udah sabar karna nunggu updatetan aku..  Maaf banget kalo ada hal yang bikin kalian kecewa di story ini🙏
sampai ketemu di cerita aku yang lain🙏🙏
Next aku bakal buat epilog buat story ini🙏

NONAGON (The Black Hunter) Completed Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang