Lisa menarik koper merah mudanya.
Jangan kalian tanya apa isinya karena itu hanyalah koper kosong.
Sedangkan Jennie hanya membawa tas tangannya yang berisi flashdisk.
Mereka sedang dalam penyamaran.
Stasiun kereta sangat ramai hari ini. Libur panjang sudah tiba usai melakukan ujian kelulusan untuk para siswa di seluruh korea.
Jennie dan Lisa terus berjalan dengan earplug yang terpasang pada masing-masing telinga mereka.
Tentu saja earplug itu tertutup dengan surai rambut panjang mereka jadi tidak ada orang yang akan mencurigai mereka.
"Belok kiri setelah layar besar itu"
Itu adalah suara dari earplug mereka.
Rose mengarahkan mereka dari markas.
Sesuai instruksi mereka belok kiri dan disanalah loker-loker berada.
Jennie membuka kunci loker bernomor 208.
Loker yang masih kosong itu langsung ia isi dengan flashdisk hitam.
Tidak perlu berlama-lama mereka pun langsung pergi dari stasiun.
Suara decitan mobil June beradu dengan aspal hitam di pinggir jalan stasiun.
Tepat waktu.
Jennie dan Lisa langsung masuk kedalam.
Benar-benar tim yang sangat kompak.
"Tadi itu sangat mudah, bukan?". Kata Jennie dengan bangganya.
"Ne, eonni.". Lisa sejutu dengan Jennie. Memang benar pekerjaan kali ini sangat mudah baginya ketimbang harus lompat dari gedung sana ke gedung sini.
"Kita ke markas" kata June.
"Let's go....". Ucap Lisa dan Jennie.
***
Jisoo memijat pelipisnya. Ia tidak tahu sudah berapa kali ia berdecak sebal menatap layar laptopnya.
"Sebenarnya apa yang si pak tua itu lakukan tiap hari, huh?"
Jisoo menutup layar laptopnya kencang.
Dia tidak habis pikir bagaimana bisa setiap bulannya perusahaan ini mengalami kerugian?
Jika begini terus perusahaannya bisa gulung tikar.
Semenjak si pak tua itu memimpin perusahaan milik ayahnya, semua masalah muncul satu persatu.
Para kolega-kolega juga satu persath memutuskan untuk tidak melanjutkan kerjasama lagi.
Jisoo memang bukan pimpinan disini, tapi ini adalah perusahaan ayahnya.
Perusahaan yang dibangun susah payah sejak dulu.
Bahkan Jisoo tahu bagaimana sulit ayahnya untuk mencapai sejauh ini.
Tapi.
Si pak tua itu menghancurkan semuanya.
CEO Lee Jae Jeon, orang yang Jisoo sebut sebagai 'pak tua' .
Dialah yang sudah merebut kekuasaan dari tangan ayahnya.
Dengan mudahnya dia mengambil alih bisnis ini setelah ayah Jisoo meninggal 2 tahun lalu.
Pak tua itu bahkan tidak ada hubungan darah dengannya.
Dia memang licik bahkan tega merebut milik ayahnya.
Meski Jisoo diposisikan sebagai wakil kepala perusahaan tapi tetap saja ia tidak terima dengan posisinya.
Jisoo tidak ambisius, dia hanya ingin merebut kembali haknya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?".
KAMU SEDANG MEMBACA
NONAGON (The Black Hunter) Completed
Fiksi PenggemarNonagon, sebuah sebutan untuk kelompok yang menjalankan misi-misi rahasia dengan teknik meretas yang handal Mereka terbiasa untuk menyamar atau melompat dari gedung satu ke gedung lainnya. Namun siapa sangka diantara mereka terdapat cinta yang tumbu...
