Cocok gak sih backsoundnya?
___________________________Mereka sedang duduk di luar bangsal VVIP yang ditempati oleh Elisa. Sembari memegangi satu gelas kertas berisi kopi hitam, dengan uap panas yang masih mengepul.
Sejujurnya Richard belum puas menghajar pria disampingnya ini, lelaki yang ternyata adalaha ayah biologis dari putra angkatnya. Jika saja Biru tak menghentikannya, mungkin saja ia bisa menghabisi nyawa Juan saat itu juga.
Sayangnya, putra pertamanya itu harus tahu bahwa ia punya seorang papa. Yang ternyata begitu bedebah dan pengecut.
"Namanya Angkasa Biru. Kami memanggilnya Biru, sama seperti nama ibunya." Richard menjeda ucapanya, seraya menyesap kopi yang ia tangkup dengan kedua tangan besarnya.
"Angkasa Biru." Ulang Juan Pelan. Ada setitik kebahagian saat tahu nama putranya. Bagaikan mantra, Juan mengumamkan nama putranya berulang-ulang. Betapa ia merasakan bulir-bulir kebahagian menyadari ada namanya tersemat dinama sang putera.
Richard menyilangkan tungkai kanannya, dan bersandar. "Biru lahir prematur, selama dua bulan dia harus di inkubator. Selain itu ia mengalami sakit kuning parah yang berujung pada diagnosa dokter, jika Biru terkena Cerebral Palsy."
Lidah Juan terasa kelu. Dan tenggorokkannya terasa sakit, tambah sakit kala ia menelan ludahnya dengan susah payah.
Ia merasa marah pada dirinya sendiri, tak pernah ia nenyangka jika pertemuan terakhirnya dengan Biru malah berbuah seperti ini.
Ia tak tahu jika Biru dalam keadaan hamil, ketika ia ... menghajar Biru dulu. Demi Tuhan. Saat itu ia benar-benar gelap mata, dan dengan entengnya melayangkan sejumlah pukulan dan tendangan.
Jika saja ia tahu bahwa Biru sedang mengandung darah dagingnya, ia tak kan berlaku sekeji itu.
Yakin? Bukannya kamu akan menyuruh Biru mengugurkannya?
Batin Juan mencemoohnya terang-terangan. Ya ... bisa jadi apa yang diteriakan oleh batinnya menjadi kenyataan. Bukan tak mungkin Biru Junior hadir di dunia ini.
Saat itu ia begitu dibutakan cintanya pada Kiara, hingga mampu melakukan apa saja hanya agar Kiara tak terluka.
Mengusap wajahnya kasar, Juan benar-benar merasa menjadi pria terberengsek di dunia ini. Ingatan ia memukuli Biru kembali berputar selayaknya kaset rusak di dalam otaknya.
Betapa kejinya ia.
Dan luka yang ia dapat malam ini, tak sebanding dengan luka yang Biru dapat atas perbuatan kejinya.
"Bobot Biru tak sampai dua kilo, betapa kuatnya Biru untuk tetap bertahan dalam keadaan serba keterbatasannya."
Juan hanya bisa diam mencerna omongan Richard yang belepotan, tanpa meninggalkan logat Perancisnya meski ia begitu fasih berbahasa Indonesia. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Elisa menemukan Blue terkapar di toilet, pendarahan hebat dan hampir keguguran. Awalnya kami hanya sekedar menolong, tapi begitu mengatahui jika janinnya berhasil selamat istriku tak tega meninggalkannya begitu saja. Ia bersikeras ingin merawatnya."
Juan memejamkan matanya meresapi setiap ucapan Richard bagaikan penghakiman baginya. Sekejam itukah dirinya lima tahun lalu.
Ya Tuhan! Apa yang sudah ia lakukan.
Juan menekuk kedua sikunya diatas lutut, dan menenggelamkan wajahnya pada kedua belah telapak tangannya.
Juan melirik ke dalam bangsal, melalui sela-sela jemarinya yang menampilkan Biru tengah mengendong seorang bayi. Disertai senyumanan tulus tersungging diwajahnya, yang saat itu juga mampu menggetarkan hatinya kembali.

KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Sky
General FictionKecemburuan Biru berubah menjadi iri, lalu kemudian beralih menjadi kebencian. Ia cuma ingin diakui oleh Juan. Satu kesalahan membuat dirinya ditinggalkan Juan dan kehilangan lelaki yang sudah menjadi separuh hidupnya. Jika saja ia bisa memilih, Bi...