47. Kepingan CD Tak Bertuan

683 70 3
                                        

"Kamu kenyang tuh cuma makan chicken strip 2 biji?"

Mina ngangguk, jempol kirinya ngusap sudut bibirnya sendiri yang sedikit belepotan kena saos. Ngeliat Jae yang masih menatap Mina dengan tatapan nggak yakin, Mina pun membuka suara.

"Tadi jam istirahat aku udah makan siang kok. Mas tenang aja" 

Jae akhirnya ngangguk dan ngelanjutin gigit cheeseburger-nya dengan perasaan senang campur gugup. 

Senang, tentu karena duduk berdua di dalam mobil sama Mina, ditemani Burger King dan senja. Gugup, entah kenapa sejak jemput Mina 15 menit yang lalu, Jae merasa perasaannya tidak enak. 

Sore itu setelah Mina berhasil kabur dari kejaran pak satpam, nggak lama kemudian Jae datang menjemput. Dalam hati Mina berjanji bakal nebus rasa bersalahnya karena ninggalin Mark sendirian. Mina nggak mau menyia-nyiakan kejadian sore ini, jadi ia bertekad untuk segera meluruskan semuanya. Makanya waktu tadi Jae ngajak makan, Mina milih drive thru aja biar cepet, juga bisa lebih kondusif ngobrol di mobil. Untungnya Jae setuju aja sama ide Mina.

"Mas abis darimana kok sore gini udah keliaran sampe sekolah aku?" tanya Mina penasaran.

Jae memperlambat kunyahan burgernya, "Tadi abis ketemu temen di deket deket sini" ujar Jae sambil pura pura sibuk nyari saos dari kantong kresek. Keliatan banget boongnya.

Aslinya Jae bela belain begitu kelasnya kelar, langsung tancap gas jemput Mina sekalian mau ngajak makan. Syukur syukur kalo Mina nya mau, sekalian abis itu nonton atau jalan kemana kek. Padahal jarak dari kampus ke sekolah Mina bisa dibilang jauh. Belum lagi macetnya sore sore begini.

Mina nggak bisa nahan senyum melihat kelakuan Jae. Bagaimanapun juga Mina cukup tersentuh dengan segala effort yang dilakukan mantan terindahnya itu demi merebut hatinya kembali. Kalau saja Jae datang sedikit lebih awal, mungkin jalan ceritanya akan berbeda.

"Aku pikir sekalian jemput kamu yang pasti belum pulang, karena latihan cheers, atau mungkin rapat persiapan dies. Eh ternyata bener kan, ya maklum lah kamu kan kayak aktivis partai-- Aduh sakit" ucapan Jae sempat terhenti dengan gelak tawa gara gara lengannya dapet tabokan dari Mina yang akhirnya juga ikut ketawa.

"Ya ya ya, not bad lah" aku Mina.

Keduanya ngelanjutin makan sambil sesekali ngobrol ringan untuk mencairkan suasana. Sampai pada akhirnya keduanya selesai dan mulai sibuk dengan pikiran masing masing. Mina tau apa yang mau Jae omongin sore ini. Gadis itupun mengumpulkan segala keberaniannya sebelum ngeraih sesuatu dari dalam tas, kemudian dia berikan ke Jae. 

Jae memandang ke arah se-keping CD di tangan Mina. Itu CD yang beberapa hari lalu dia kasih ke Mina. Keningnya berkerut, "Kok dibalikin?"

Mina narik napasnya dalam dalam sebelum mulai ngomong.

"Aku udah dengerin isinya. Indah, indah banget" aku Mina dengan lembut.

"Tapi aku nggak bisa nerimanya, mas. Aku minta maaf" 

Dengan sangat hati hati, Mina ngeraih tangan Jae dan meletakkan kepingan CD itu ditangan sang empunya yang daritadi masih diam seribu bahasa. 

"Kenapa?" Jae berujar lirih. Tatapannya masih terpaku di tempat yang sama.

"Aku akui, bangkit setelah kamu sempat terasa begitu sulit buatku. Waktu itu aku ngerasa marah, benci kamu banget, sampai aku milih buat hilang kontak. Even though I know deep down inside, I still want you back" Mina terkekeh pelan, menertawai dirinya sendiri kala itu.

Sementara Jae memilih diam, mendengarkan setiap perkataan Mina yang meskipun pahit namun terdengar seperti melodi baginya. Dari balik kacamatanya, Jae hanya bisa memberi tatapan sayu pada Mina.

#HITS - Mark MinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang