☁ Barbie is trust from uncle hans

1.2K 67 0
                                        

Benua berjalan menuruni tangga untuk menuju ke dapur, dia melihat Samudra sedang makan dan Arjuna sedang membaca koran sedangkan Ibunya berbicara dengan Bibi Mina.

Mereka terlihat sibuk masing-masing, Benua ingin sekali bergabung tapi dia enggan. Benua berjalan dengan perasaan ragu dan enggan menuju dapur, dia tak menoleh kepada siapapun, matanya tertuju kepada kulkas.

Benua mencari yogurt cup tapi tidak ada, lelaki itu menghela napas, lalu bergerak cuek meninggalkan dapur lagi tanpa menyadari beberapa pasang mata melihatnya.

"Sepertinya Tuan muda mencari yogurt." kata Bibi Mina, selepas Benua pergi

"Gak beli?" tanya Samudra

"Tidak Tuan, saya lupa, maaf." jawab Bibi Mina

Arjuna melihat Samudra menghela napas, mata anaknya itu bergerak gelisah, walaupun makanannya sudah habis, dia terlihat tidak tenang. Arjuna melepas kacamatanya dan melipat korannya.

"Samudra kamu kenapa?" tanya Arjuna

Samudra tersentak,
"Gak papa." jawabnya kaget.

Samudra beranjak meninggalkan dapur, dia melihat Benua sibuk dengan handphonenya. Samudra mengintip adiknya itu, dia sedang sibuk mengirim pesan dengan Binar.

Samudra memiringkan kepalanya heran, dia teringat sesuatu tentang Barbie, sudah 5 bulan Samudra tidak melihat Barbie ke rumah bahkan di sekolah pun, Benua tampak membencinya.

Barbie, dia biasanya akan berusaha mendekati Benua, dia akan mengikuti kemanapun adiknya pergi, bahkan dia masih ingat dulu ketika hubungan Barbie dan Benua baik-baik saja sebelum negri api menyerang.

Mereka sangat akur bahkan Barbie selalu mengatakan dia bahagia sekali memiliki Benua dihidupnya, selalu main ke rumah tanpa bosan, dan tanpa bosan juga Benua menemani Barbie.

Tapi semuanya berubah hubungan keduanya retak, Tidak akur, Benua menghindar, Barbie menangis, Benua membeci, Barbie Mencintai.

Astaga, kepalanya pusing memikirkan drama di hidup adiknya. Samudra menepuk bahu adiknya, membuat sang empu menoleh.

"Ben,"

"Apaan?"

"Lo sama Barbie kenapa berantem?"

"Ceritanya panjang, males gue cerita,"

"Coba lo bicara baik-baik sama dia kalo emang ada masalah, jangan bikin perempuan sakit hati lagi, cukup mantan-mantan lo yang dulu, Barbie jangan."

"Bukan urusan lo Sam, lo aja sama kan, Kak Shakira suka sama lo tapi lonya sok jual mahal, lo gak ada bedanya sama gue, sama-sama brengsek."

"Gue bukannya sok jual mahal, gue emang gini mau digimanain lagi sifat Ayah melekat di gue, dan sifat Bunda melekat di elu."

"Gue beda sama lo Ben, lo bisa begitu mudah menghadapi segalanya, sedangkan gue? Gak semudah itu, gue butuh waktu lama untuk menerima keberadaan Shakira." lanjut Samudra

"Terus menurut lo gue nggak gitu? Dulu gue udah berusaha menjadi teman yang baik buat Barbie, tapi kebaikan gue disalah artikan. Gue heran kenapa cewek gampang banget baperan." sahut Benua

"Saran gue ya Ben, lo baikan lagi sana sama Barbie, dia gak salah dek. Dia cuma berusaha menunjukkan rasa sukanya ke elo, tapi lo nanggepnya terlalu lebay dan langsung benci sama dia."

"Lo ngelarang Barbie suka sama lo, sedangkan mantan-mantan lo? Apa kabar mereka? Udah cinta mati mungkin sama lo."

"Baikan sama Barbie, perlakukan dia dengan baik lagi, tapi tetap menjaga hubungan kalian sebagai sahabat masa kecil, jangan sampe hubungan yang berarti hancur hanya karena kata 'Suka'."

"Inget apa yang di bilang Om Hans sebelum dia meninggal, dia memberikan amanah ke elo buat jagain Barbie, bukannya menyakitinya kaya gini." lanjut Samudra

"Om Hans..." gumam Benua dengan tatapan kosong ke depan.

"Lo gak tau seberapa berharganya Barbie dimata Ayah dan Bunda, bahkan mereka sampai menganggap Barbie anak sendiri."

"Jangan sampe membuat mereka juga marah sama lo, karena gak jagain Barbie, gak buat Barbie bahagia, malah nyakitin Barbie dan buat dia nangis kaya gitu."

Ini adalah hal baru yang dilakukan keduanya, sama-sama membicarakan tentang wanita. Benua sendiri juga berpikir sejenak, ada benarnya apa yang dikatakan abangnya.

Sepertinya dia sudah terlalu keterlaluan kepada Barbie, tapi jika dia tidak seperti itu Barbie akan tetap berpikir bahwa dirinya menyukai gadis itu tanpa tau kebenarannya.

"Nangis? Maksud lo? Lo bercanda? Gue gak pernah liat dia nangis." tanya Benua

"Gue gak tau hatinya Barbie itu terbuat dari apa tapi dia kuat banget, dia tetap berusaha baik-baik aja, tersenyum, ceria, padahal dibelakang itu, dia seperti kaca yang retak, yang siap kapan saja hancur."

" 2 hari lalu gue sama Daniel lagi di rooftop buat nenangin diri, dan Barbie datang sambil nangis kencang, dia terisak, bahkan dia sampai gak bisa napas karena tangisannya. Dia mengungkapkan bahwa dia sayang banget sama lo." Jelas Samudra

Benua terdiam mencerna ucapan kakaknya, dia tidak tau Barbie sampai seperti itu, dia merasa bodoh sekarang karena hanya melihat Barbie dari sisi negatifnya.

Dia tidak tau bahwa apa yang dia lakukan membuat Barbie sesakit itu, Otaknya berpikir keras apa yang harus ia lakukan selanjutnya untuk Sahabat sekaligus adiknya itu.

Kenangan-kenangan masa kecilnya bersama Barbie berputar diotaknya, lalu masa di saat mereka saat duduk di sekolah dasar, masa-masa menyenangkan. Kenangan yang begitu indah dan tak terlupakan terukir kala itu, tapi ketika memasuki menengah pertama Barbie harus ke Australia untuk menjaga Hans yang sedang sakit.

Selama 3 tahun dia tidak bertemu Benua, dan sekarang ketika SMA Barbie kembali, dan melupakan kesedihannya karena kehilangan ayahnya.

Memang saat itu, Satu tahun itu mereka habiskan dengan berbagai kenangan manis, tapi itu semua berubah ketika Barbie diantara isak tangis takutnya dia mengungkapkan perasaannya kepada Benua, lalu Benua menjauh dan membuat Barbie sesakit itu.

"Sam, gue kangen Barbie yang dulu masa." kata Benua

"Kangen? bilang sama Barbienya jangan sama gue." sahut Samudra cuek

"Lo tuh ya, gue curhatin malah ngasih respon kaya gitu, kalo gue lebih terbuka ke bibi Mina diomelin, kesel gue sama lo." kata Benua, lalu meninggalkan kakak kembarnya itu tanpa menyadari ekspresi Samudra yang benar-benar sulit diartikan.

Benua salah tangkap disini, dia masih belum dewasa, dia masih belum bisa menanggapi semua itu layaknya lelaki berusia 17 tahun.

Samudra menyalakan TV dengan wajah tanpa ekspresi dan menatap TV tanpa minat. Tak membutuhkan waktu lama, Benua sudah berada disampingnya lagi.

"Kak."

"Hmm"

"Sam,"

"Apa?"

"Gue pinjem mobil lo."

"Buat apa?"

"Udah pinjemin aja napa sih, bawel amat."

Samudra tidak menyahut, tetapi dia bergerak keatas menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya dan memberikannya kepada Benua. Ketika Benua akan melangkah lagi, Samudra menatap adiknya itu sebentar dan mengatakan

"Inget yang gue bilang tadi."

"Iya iya bawel."

tbc.

BENUA ; Completed.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang