"Hanya karena seseorang tertawa bukan berarti dia baik baik saja."
—
Tidak ada yang spesial malam ini, hanya Benua yang makan di dalam kamar seperti biasanya, apalagi semenjak kejadian pertengkarannya dengan Arjuna.
Benua benar-benar tidak mau bicara sama sekali kepada Ayahnya itu dia juga menjadi lebih sulit digapai di mata kedua orangtuanya.
Dan setiap pagi Benua menolak sarapan bersama, Benua juga menolak untuk hanya sekedar berkumpul bersama membicarakan hal-hal sepele.
"Benua, Bunda boleh masuk?"
Benua mendongak dan melihat ke arah pintu dalam hatinya ia ingin mempersilahkan ibunya memasuki kamarnya tetapi otaknya mengatakan tidak. Benua diam dan menimang sampai suara ibunya menginterupsinya lagi.
"Benua? Buka pintunya sayang, Ibu ingin membicarakan sesuatu."
"Benua hanya ingin sendiri, tidak ada yang perlu dibicarakan." Teriak Benua
Benua tidak tau apa yang terjadi di luar, dia tau bundanya pasti kecewa mendengar penolakannya. Benua menghela napas, dia meraih botol yang berisi air mineral, meminumnya dalam sekali teguk.
"Benua... Kamu masih marah?"
"Bunda ngapain?"
Setelah suara Kila, terdengar suara Samudra yang seperti menyahut dari bawah. Suara derap langkah kaki juga mendekati pintunya.
"Benua tidak mau keluar, adik kamu sudah makan? Bunda hanya khawatir Sam."
Benua hanya diam mendengarkan apa yang dikatakan Kila dan Samudra, mendengar percakapan mereka di dalam keheningan kamarnya.
"Udah kok bun, tadi Samudra lihat dia sedang mengambil makanan." jawab Samudra
"Mau sampai kapan adikmu menjauhi Bunda dan Ayah Sam? Mau sampai kapan? Bunda merindukan Benua, Bunda kangen anak bunda yang super ceria itu."
Benua yang mendengarnya hanya mampu tersenyum kecut, baginya kata kangen dan rindu yang terlontar dari bibir orang tuanya sudah tidak berarti apa-apa baginya.
Rasa kecewa Benua semakin menjadi. Bahkan akhir-akhir ini Benua juga menjauhi Bibi Mina yang biasanya menjadi teman bicaranya. Tangan cowok ganteng itu bergerak membuka nakas dan mengambil sebuah Frame yang terdapat foto Benua, Samudra dan Kedua Orang tuanya.
Disana terlihat Ayahnya memeluk Samudra sedangkan dirinya disebelah ibunya yang sedang melingkarkan tangannya di lengan Ayahnya, dan dia Sendiri, berpose dengan perasaaan Cemburu dan Jengkel.
"Bunda bohong bunda gak pernah memiliki perasaan itu, bunda bilang seperti itu hanya ingin menunjukan bahwa itu hanya rasa simpati bukan rasa sayang yang sebenarnya, Kalian berdua terlalu sayang kepada Samudra." gumam Benua
Tangan yang memegang Frame itu semakin erat, Benua menggenggamnya sampai buku-buku kukunya memutih. Tak ada lagi percakapan yang dia dengar. Tak ada lagi suara Kila dan Samudra, yang ada sekarang hanyalah suara jam dinding yang bergerak berputar setiap detiknya.
"Setiap kali gue pulang selalu aja mood ancur." gerutu Benua.
Benua melirik Handphonenya, terdapat pesan masuk, dari nomor yang tidak dikenal, pesan tersebut berisi,
' Black cardmu masih ada di padaku.'
'Gue Senja.'
Benua menarik bibirnya membentuk Curva, Senja menghubunginya duluan hal itu membuat Benua sedikit melupakan masalahnya, Dengan pelan dia mengetik sebuah balasan
KAMU SEDANG MEMBACA
BENUA ; Completed.
RomansaBenua, cowok tsundere yang bisanya marah-marah merasa gak adil karena perlakuan orang tuanya tapi di lain sisi sayang banget sama keluarganya, memang dasar gengsi, mau bagaimana? ─⌽ ©2019 rumourblaze Present Ps. This story original from rumour bla...
