Gluk!
Alira dan Sastra menelan ludah bersamaan. Kemudian kembali hening. Suara jangkrik yang bersenandung di siang bolong saat itu mungkin menjadi satu-satunya lagu yang terdengar merdu di telinga. Entah mengapa angin tak lagi berhembus, menjadikan udara makin panas.
"Aku benar-benar haus..." gumam Sastra lirih hampir-hampir suaranya tak terdengar.
"Kamu nggak pa-pa?" tanya Alira khawatir seraya hendak menghampiri Sastra yang lesu dan tak bertenaga.
"Tetap di sana!" hardik Sastra dengan cepat sebelum Alira mendekatinya.
Alira sempat terkejut namun ia tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti kehendak Sastra. Sesekali ia mencuri pandang ke arahnya lalu berganti ke telapak tangannya. "Air..." celetuknya hampir putus asa.
Tanpa diduga suara gemericik air menggema, entah dari ujung sebelah mana tapi, yang pasti air mengalir mulai dari ujung jemarinya dan merayap di seluruh tangannya. Suaranya terdengar seperti derai hujan malam hari dan perlahan namun pasti menggeliat bagai ular yang berjalan di atas permukaan kulit.
"Air!" pekik Alira bersemangat. "Lihat––air." Ia mengulangi.
Sastra tercenung melihat tangan Alira yang dililit oleh air, ia menelan ludah karena kerongkongannya terasa semakin kering dan ingin segera meminum seteguk saja untuk sekedar menyegarkan.
"Air!" seru Alira lagi masih bersemangat. "A..ayo...cepat, kita harus segera meminumnya," ajaknya dengan senyum yang tersungging dari paras ayunya. Ia menyodorkan telapak tangannya ke wajah Sastra dan mengkode dirinya untuk meminumnya terlebih dahulu namun, Sastra tampak tak terlalu gembira walau tenggorokannya benar-benar dahaga. "Ayo!" pinta Alira.
Dengan ragu-ragu Sastra meraih punggung tangan Alira dan wuuuush...! Sebuah hembusan angin menyembul dari sela-sela jemari Sastra dan membuat air di telapak tangan Alira meluncur dengan mulus mengikuti arah angin yang membentuk dua garis mentiung dan berakhir di mulut mereka masing-masing. Tanpa menunggu lama mereka berdua segera menegak habis air bersih itu hingga rasa dahaga sirna seketika.
Setelah terasa cukup mereka menyeka tetesan air yang tak sengaja membasahi dagu mereka dan tanpa sengaja mereka bertatap mata. Sastra dan Alira lalu terkikik mengingat betapa rakusnya mereka tadi. Akhirnya suasana kaku dan tidak bersahabat mencair seketika. Sastra yang awalnya antipati, sekarang terlihat mulai menerima keberadaan Alira.
"Bagaimana bisa air keluar dari telapak tanganmu? Dan tak hanya itu...tanpa berharap pun angin berhembus untuk memudahkan kita meminumnya," kata Sastra penasaran.
"Aku juga tidak tahu." Jawab Alira. "Tapi kekuatan itu..." Alira masih berpikir. "...ada saat kita butuh." Lanjutnya menebak.
"Butuh?" Sastra mengulangi dengan nada tak percaya.
"Hei!" pekiknya menemukan ide. "Bagaimana, jika kita ulangi sekali lagi?" tawarnya meyakinkan. "Ayo." Katanya singkat.
Sastra terlihat masih kebingungan.
"Ayo." Kata Alira mengulangi. Lantas ia memejamkan mata dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia benar-benar membutuhkan air. "Air... Air... Air..." gumamnya seraya menangkupkan kedua telapak tangannya, namun air tak kunjung keluar.
Sastra terdiam memperhatikan gerak-gerik Alira. Ia tahu bahwa air takkan keluar walaupun Alira menjerit dengan lantang.
Peluh keringat jatuh dari kening Alira, walaupun lama ia meminta tapi, air tak lantas tiba-tiba keluar dari telapak tangannya yang kecil. Malah dari ujung jemarinya hanya keringat dingin yang bercucuran. "Tidak berhasil." Katanya kecewa sembari menghela napas panjang. "Bagaimana caranya?" gumamnya pada diri sendiri. "Bagaimana?" ia mengulangi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekawan Sekar
ФэнтезиPrasasti berdiri ditengah-tengah rumput ilalang yang menjulang tinggi. Linggar berdiri di lereng gunung, Alira berdiri di sebuah bukit yang tinggi ditemani deburan ombak. Sedangkan Sastra berdiri di sebuah atap gedung. Mereka berempat berada ditempa...
