Alira memungut selembar daun maple yang terbaring di tanah, daun itu tak seperti daun maple yang biasanya melainkan berbentuk seperti air. Alira membaringkan daun itu di telapak tangannya dan memandangnya dengan seksama, tak berapa lama, daun itu mencair menjadi air yang berpencar dari tangannya. Sementara itu Prasasti, Linggar dan Sastra juga mengalami hal yang sama––Prasasti mengamati dedaunan, semak belukar dan rerumputan yang mengkristal seperti es, sedangkan Linggar terkejut oleh seekor burung api yang tiba-tiba terbang melewatinya. Dan Sastra sendiri terperangah melihat sesosok perempuan yang tembus pandang seperti udara sedang bermandikan air yang juga terbuat dari udara. Saat ia melangkahkan kakinya, tak sengaja sosok perempuan udara itu mengetahuinya dan terbang seperti gumpalan asap yang yang di tiup angin.
Mereka berempat sebenarnya berada di tempat yang sama namun di selimuti dengan masing-masing elemen yang membuat satu sama lain seperti terpencar ke tempat yang berbeda. Perlahan namun pasti kaki-kaki telanjang mereka menapaki rerumputan dan melewati pohon-pohon yang besar dan rimbun hingga hampir menutupi langit. Beberapa kali mereka di buat terkejut oleh rerumputan yang mereka pijak tiba-tiba yang membeku lah, yang terbakar lah, yang mencair lah, atau bahkan terbang bak udara. Tapi mereka tak lantas tertegun dan terdiam di sana––mereka kembali menapaki rerumputan dan berakhir di sebuah telaga. Masing-masing dari mereka berempat menemui bentuk telaga yang berbeda-beda.
Prasasti berjalan mendekat ke arah telaga yang di penuhi dengan kristal es, lalu berlutut di pinggir telaga tersebut. Dengan ragu-ragu ia menceburkan tangannya ke telaga es itu dan seketika itu juga kelima jemarinya membeku menjadi es dan dengan cepat membekukan seluruh tubuhnya menjadi patung es kemudian pecah berkeping-keping menjadi puing yang bersatu dengan telaga es. Begitu juga dengan Alira, tubuhnya tiba-tiba mencair menjadi genangan air yang tumpah yang membaur dengan air telaga. Sedangkan Linggar tubuhnya terbakar dan dalam sekejap menjadi manusia api yang menari-nari bersama telaga api yang merah membara. Sementara itu tubuh Sastra menghilang bak hembusan angin semilir bersama pusaran angin telaga.
Tubuh mereka berempat lunglai dalam keempat elemen tersebut, raga mereka melayang dan menari-nari di dalamnya. Samar-samar mereka mendengar sebuah senandung yang membangkitkan bawah sadar mereka tentang potongan-potongan gambar teriakan beberapa orang, pembunuhan, sepasukan tentara berwajah menyeramkan, sebuah perang yang berbeda-beda, keempat wajah pria rupawan yang sedang menyeringai sadis dengan beberpa bercak darah menempel di tubuh mereka dan beberapa teriakan––Meru agni––Cakra amerta––Segara Es dan Jagad Bayu––kemudian beberapa gumaman suara menyerukan:
Sekawan sekar batharine mandhala
Jumeneng ing agrane janaloka
Kapapate nyangga nyawa
Kawitanepejah, sakmenika gesang
Kagem mbinasakna angkara murka
Suara-suara itu makin lama makin keras hingga menusuk dan membuat perih seluruh sel-sel kulit. Lalu semua pandangan menjadi gelap gulita, tak ada cahaya ataupun setitik pelita. Suara-suara yang tadinya berteriak-teriak kini perlahan mulai memudar berganti bisikan yang tak jelas dan seluruh pecahan-pecahan gambar yang memilukan itu masih saja bergelanyutan di antara pandangan dan khayalan.
"Merentang waktu dengan empat elemen...empat menjadi empat adalah bencana...empat menjadi satu adalah kemenangan tanpa musnah..." suara Tirta Alang menggema dalam gulita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekawan Sekar
FantasyPrasasti berdiri ditengah-tengah rumput ilalang yang menjulang tinggi. Linggar berdiri di lereng gunung, Alira berdiri di sebuah bukit yang tinggi ditemani deburan ombak. Sedangkan Sastra berdiri di sebuah atap gedung. Mereka berempat berada ditempa...
