Hinata sibuk menata belanjaan di kulkas tanpa mengindahkan tatapan tajam Sasuke. Dia bosan mengungkapkan rasa tapi tidak ada perkembangan. Jika diam bisa membuat kepala pantat ayam itu merasa terpukul, maka akan ia lakukan.
"Kau serius mau pergi dengan Dobe berisik itu Sabtu malam?"tanya Sasuke dengan nada sedikit geram.
"Apa kau menguping?" tanya Hinata balik.
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Bukannya Sasuke-nii sangat ingin aku pergi berkencan?"
Pertanyaan balik itu membuat Sasuke kaku di tempat. Dia tidak pernah berpikir akan secepat ini. Atau bahkan... Kenapa bisa seperti ini? Dia hanya...
"Aku sudah cukup dewasa. Jadi aku bisa melakukan apa saja," tukas Hinata sembari menutup kulkas.
Tanpa kata, gadis itu melenggang menuju kamarnya. Menyisakan Sasuke yang mematung menatapnya. Kenapa Hinata bisa berubah secepat ini?
.
.
.
.
.
Bruk!
Hinata menyandarkan kepalanya di atas meja kerjanya. Ya ampun... Baru saja belajar untuk ujian minggu depan, Kii-san sudah mendatanginya dan menyodorkan pembukuan selama 1 bulan terakhir. Semua operasional peternakan diatur oleh Kii-san selama Hinata menyelesaikan kuliahnya di bidang manajemen. Dan kepalanya mendadak pening ketika melihat Bibi Chiyo datang membawa buah segar.
"Kenapa?" tanya Bibi Chiyo.
"Aku pusing. Kii-san jahat sekali membuatku memeriksa semua ini. Dia tidak bisa menunggu ujianku selesai."
"Sabar."
"Apa aku tidak bisa kabur saja?"
Chiyo terkekeh melihat tingkah kekanak-kanakan Hinata. Gadis yang ada di hadapannya memang luar biasa. Tampak manis dari luar. Penampilannya sangat konservatif tapi seperti yang tidak banyak orang tau, mulutnya sangat pedas jika berbicara dengan orang lain.
"Kau mau kemana? Kau kan mencintai tempat ini."
Hinata mendengus kesal dan menatap pembukuan kembali. Bibi Chiyo benar. Dia mencintai tempat ini. Sama besarnya dengan rasa cinta mendiang ayah dan ibunya pada tempat ini. Dan mungkin sama besarnya dengan rasa cinta yang dirasakan oleh leluhur Hyuuga sejak menapakkan kaki pertama kali di Konoha. Kota kecil yang dekat sekali dengan Otaru. Wilayah utara Jepang yang cukup tenang dengan musim dingin yang panjang.
"Hinata, apa kau bertengkar dengan Sasuke?" tanya Chiyo dengan raut prihatin. Dia juga berdoa setiap hari agar apa yang menghalangi Sasuke menjadikan pernikahan mereka 'nyata' menghilang.
"Dia menolakku lagi. Dan kali ini aku benar-benar marah. Dia juga selalu mengatakan kencan dan terus berkata seperti itu seolah ingin mendorongku menjauhinya. Aku benci itu."
Chiyo mengangguk. "Mungkin kau butuh bicara kembali dengannya."
"Bicara hanya akan membuatku sebal."
Wanita paruh baya itu terkekeh. "Kau mewarisi sifat spontan ibumu. Dan tentu sifat tegas milik ayahmu. Sangat Hyuuga. Aku hanya berharap kau benar-benar bahagia."
"Aku juga. Tapi aku benar-benar menginginkan pernikahan kami nyata Bibi. Tapi Sasuke seperti tidak tertarik."
Chiyo tersenyum sembari mengelus pipi kanan Hinata dengan sayang. "Buatlah dia melihatmu. Kalian masih muda dan memiliki kesempatan. Jika sudah kehilangan sepertiku, hanya akan ada penyesalan," tutur wanita paruh baya itu dengan senyum. "Lagipula sudah sangat lama sejak terakhir kali aku mendengar tangis bayi Hyuuga di rumah ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Life, Lie [END]
FanfictionIni tahun ke lima semenjak Sasuke mengambil tanggung jawab pada hidup Hinata. Hah! Dia bahkan tidak bisa menyebut pria itu suaminya. Sebuah kenyataan pahit yang harus ditelan gadis itu bulat-bulat. "Kau masih bocah. Dan pernikahan kita akan berlangs...
![Love, Life, Lie [END]](https://img.wattpad.com/cover/177569004-64-k190766.jpg)