Sekali lagi, ini cerita ACTION. Jadi nikmati aja ya. 😅
BUKAN lapak yang muat 100% ROMANCE.
Love you all.
.
.
.
.
Sasuke mengetatkan rahangnya. Nyaris saja. Kecupan, wanita, terbukti berbahaya untuk pria sepertinya. Jika bukan karena kemarahan yang tiba-tiba datang dan membuatnya mencumbu Hinata...
"Melamunkan apa, Pantat Ayam?" panggil Naruto sembari menyodorkan sekaleng kola. Dia baru saja melaporkan jumlah korban luka dan sejumlah kerugian akibat penyerangan. Motif dan pelaku belum ada yang tertangkap. Dan pria Hara yang menjadi suspect utama dari kejadian itu terluka dan malah meminta untuk dilindungi sebagai saksi. Semuanya terasa rumit di kepalanya.
"Wanita berbahaya," gumam Sasuke. Masih menyesali kelabilannya belakangan ini. Hinata dan sepaket hal yang dimiliki gadis itu. Juga gairahnya yang tak pernah padam. Sial!
"Yang berbahaya justru Haruno merah jambu itu."
Mendengar arah pembicaraan mereka yang tidak sejalan, Sasuke memilih meminum kolanya tanpa menanggapi Naruto.
"Hinata gadis yang baik dan menarik. Istrimu itu."
Sasuke melotot marah dan bersiap memukul Naruto. Tapi diurungkan olehnya karena mengingat mereka baru saja bekerja dalam satu tim lagi setelah beberapa tahun. Dan lagi bertarung dengan pria yang justru mengajarimu banyak hal malah tidak etis terdengarnya.
"Dia bukan wanita bebas," ujar Sasuke setelah upayanya mengumpat dan sumpah serapah berhasil ia tahan. Sial benar kepala polisi pirang ini.
"Emosimu belakangan gampang sekali meledak," ejek Naruto asal.
"Kau tau alasannya. Kalau kau menjauh setidaknya 3 kilometer darinya baru aku akan diam," sergah Sasuke yang hanya dibalas kekehan oleh Naruto.
"Dia terlalu menarik untuk dijauhi. Lagipula, kalau kau memang sejauh itu memendam amarah, perlakukan dia sebagai istri."
"Tidak sekarang. Berbahaya."
"Lalu apa kau menjamin bahwa kau akan hidup selamanya dan Hinata akan selamanya tinggal? Pantat Ayam gila!"
Naruto memukul bahu Sasuke ringan. "Menyesal karena kehilangan jauh lebih buruk ketimbang kehilangan setelah kau memberikan segalanya. Percayalah."
Kemudian pria pirang itu melambaikan tangan dan kembali masuk ke kantornya tanpa menoleh. Seolah obrolannya dengan Sasuke hanya seputar cuaca hari itu saja.
.
.
.
.
.
Hinata meletakkan secangkir coklat hangat di depan Sakura. Wanita pink itu tersenyum dan menggumamkan terima kasih sebelum menyesap minuman manis itu perlahan. Belum ada obrolan karena suasana canggung yang tiba-tiba terjadi.
Sakura tidak ingin mengatakan apapun karena tidak ada yang bisa ia jelaskan pada Hinata. Toh selama proses pembuatan film Hinata hanya terlalu marah tanpa sebab. Tantrum layaknya para remaja yang cemburu. Usia Hinata memang jauh lebih muda darinya jadi dia memaklumi itu.
Bagi Hinata sendiri, marah dan mengoarkan luka bukan hal yang tepat. Pertama, Sasuke tidak mencium Sakura di bawah mistletoe seperti tuduhannya. Wanita itu juga tidak terlihat genit jika ia pikir lagi. Dia lebih pada... Merasa bahwa Sasuke adalah satu-satunya orang yang bisa ia percaya. Entah dalam urusan apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love, Life, Lie [END]
Fiksi PenggemarIni tahun ke lima semenjak Sasuke mengambil tanggung jawab pada hidup Hinata. Hah! Dia bahkan tidak bisa menyebut pria itu suaminya. Sebuah kenyataan pahit yang harus ditelan gadis itu bulat-bulat. "Kau masih bocah. Dan pernikahan kita akan berlangs...
![Love, Life, Lie [END]](https://img.wattpad.com/cover/177569004-64-k190766.jpg)