Devan harus apa?

217 6 0
                                    

"Mencoba untuk tidak mengingat mu lagi, namun mengapa hal itu sangatlah sulit?"
-Nadya.

———

Fatih tengah menggantung kan helm sportnya di spion motornya, "ayo?" Ajak Fatih seraya tersenyum kearah gadis nya yang sedari tadi menunduk.

"Kamu kenapa?" Tanya Fatih.

Vina menggeleng, "engga apa apa, yuk masuk." Vina menuntun lengan Fatih untuk masuk kerumah nya.

"Assalamualaikum.." ujar keduanya saat memasuki ruang tamu rumah Vina.

Seperti hari hari biasanya, rumah Vina seperti tidak dihuni lagi.

"Kamu duduk disini dulu ya Tih." Ujar Vina, Fatih pun mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan oleh Vina.

Vina berjalan gontai menuju kamar Bunda nya yang berada tak jauh dari ruang tamu.

Fatih mengedarkan pandangan nya, menatap setiap sudut rumah kekasihnya.. dan pandangannya terhenti pada bingkai foto berukuran besar yang terpajang diatas meja buffet, Fatih tersenyum tipis melihat keharmonisan keluarga Vina di frame foto itu, Fatih sontak menoleh saat seseorang datang mendorong kursi roda.

"Fatih, kenalin ini Bunda aku. Dan Bunda, kenalin itu Fatih.." Vina mendekatkan bibirnya ke telinga Bunda nya "pacar aku, hehe." Lanjutnya.

Sarah menoleh kearah putri nya, ia tersenyum bahagia "akhirnya Nak, rumah kita ada yang kunjungi."

Vina mengangguk, seraya mengusap air mata yang jatuh di pipi nya.

Fatih beranjak, ia menghampiri Sarah yang terduduk di kursi roda, lalu Fatih berlutut menatap Sarah.

"Tante Sarah, tante sekarang gak akan kesepian lagi kok. Fatih janji, fatih bakalan selalu nemenin tante.. nanti tante kerumah Fatih juga ya. Pasti Mama Fatih senang deh ada temen." Ujar Fatih tulus seraya mengelus punggung tangan Sarah.

Sarah terbelalak tak percaya, "Vina! Bunda punya temen Nak! Mas Ardi! Lihat! Aku udah ga kesepian! Bunda senang Vinaaa! Bunda senangg!!"

Vina mengangguk, "iya Bunda iya.. Vina juga senang." Vina menangis haru, tak tahu lagi bagaimana bahagia dirinya saat ini. Melihat Bunda nya yang tertawa ceria seperti ini, adalah harta yang tak terhingga bagi nya.

———

Nadya tengah mengayunkan kedua kaki nya di kursi santai yang berada di belakang rumahnya sambil meminum starbucks yang ia pesan tadi melalui aplikasi online.

Lamunan nya buyar ketika handphone nya berbunyi tanda ada notif masuk, ia pun mengecek nya.

Devano Saputra: "gue tau lo lagi gabut sambil minum coklat."

Nadya membelalakan matanya, bagaimana si sialan itu bisa tahu aktivitas nya saat ini?

Ia mengedarkan pandangan nya ke segala arah, namun tidak ada Devan disektar nya.

Ponselnya berbunyi lagi, Nadya pun mengecek nya kembali.

Devano Saputra: "hahaha nyariin pangeran ternyata."

Nadya merinding, "Dia mau neror gua kayak di film scream ya!?" Tuding nya.

Nadya Aretha: "sok tau."

Devano Saputra: "daripada gabut, mending kita jalan jalan yuk?"

Nadya Aretha: "gamau."

Devano Saputra: "yaudah deh kalo gamau, nanti pacar lo marah lagi."

Devano Saputra: "kita jalan nya nanti aja pas lu udah putus sama si osas."

JANGAN BAPER!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang