About Vina

273 13 2
                                    

"Pak, ini uangnya ya." Ujar Vina menyodorkan selembar uang sebesar sepuluh ribu rupiah sambil tersenyum manis ke bapak pengemudi ojek online.

Bapak ojol itu menerima uangnya "waduh neng, kembali nya gaada nih."

"Gapapa pak, ambil aja. Makasih ya."

"Beneran neng? Alhamdulilah.. makasih banyak ya neng." Balas pengemudi ojol itu sembari menstarter motornya kembali, "duluan ya neng."

Vina mengangguk, lalu ia membalikkan badannya berjalan gontai membuka pagar rumahnya.

"Ceklek."
Suara pintu rumah Vina begitu dibuka oleh pemiliknya.
"Assalamualaikum." Ujarnya.
Ia menyusuri rumahnya yang sangat sepi bak tak berpehuni itu . Sampai akhirnya di dapur, Vina mendapati bunda tercinta nya sedang duduk di meja makan, sendirian. Sambil melamun.

"Bun?" Panggil Vina.

Bunda nya itu, sebut saja Sarah. Tersadar dengan lamunan nya.
"Walaikumsalam."

Vina menyalami tangan Sarah, Sarah pun tersenyum mengelus pucuk rambut anak semata wayangnya itu.

"Bunda.. ngapain sendirian ngelamun disini? Emang bunda ga takut?" Tanya Vina terduduk di kursi meja makan samping Sarah.

Sarah menggeleng.

"Bunda udah makan?"

Sarah menggeleng lagi.

Vina menghela nafasnya "aku ambilin makan ya."

"Biar bunda aja." Bunda nya itu pun menyendokkan nasi ke piring dan menambahkan lauk diatasnya lalu memberikan nya ke Vina.

Vina menatap bunda nya yang sedang menyiapkan makanan, namun. Ia terheran saat jumlah piring yang Sarah siapkan lebih satu. "Bun? Kok piring nya ada tiga? Kan kita cuman berdua.."

Sarah menatap miris piring yang sengaja ia siapkan lebih itu, lalu ia letakkan di sampingnya persis seperti ada seseorang yang ingin makan bersama keduanya.

"Dimakan ya mas.." ujar Sarah tersenyum menatap bangku yang kosong itu.

"Bunda.."

"Kamu kenapa diem aja mas!? Dimakan dong masakan aku!" Bentak Sarah kepada bangku kosong itu.

"Bunda.. ayah udah engga ada." Vina tertunduk tak tega melihat bunda nya yang masih belum menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah meninggal.

"Engga! Ayah masih hidup! Ayah kamu aja bandel, yang gamau makan masakan bunda! Padahal bunda udah masak cape cape!" Sarah memukul mukul meja makan.

Vina mencekal tangan bunda nya "bunda udah bun.."

"Mas! Mas Ardi!! Mas masih hidup kan!? Dulu kamu bilang selamanya bakalan disamping aku! Kamu masih hidup mas! Bilang ke aku kalo kamu masih hidup! Mas! Mas Ardi!!" Sarah terisak dan semakin memberontak dan mengacak acak makanan yang ada di meja.

Vina seberusaha mungkin menahan bunda nya itu agar tidak melukai diri nya sendiri, "mbaa!! Mbaa!!"

Mba Siti, pembantu di rumah Vina sejak ayah nya masih ada di dunia. Bahkan, sejak Vina masih balita. Ia berlari menghampiri Sarah dan Vina.

"Mas Ardi masih hidup!! Mas! Kamu masih hidup kan mas!?"

"Nyonya.. istigfar nyonya.." ujar mba Siti.

Sarah menunduk, mengucapkan kalimat istigfar.. lalu ia menjadi sedikit lebih tenang.

"Mba, bunda dibawa ke kamar aja ya." Titah Vina.

"Iya non, mari nyonya." Mba siti memapah Sarah untuk menuju kamarnya.

Vina membanting pintu kamarnya dengan keras, ia terperosot ke lantai dengan isakannya yang sudah tak bisa ia sembunyikan lagi. Kejadian seperti ini sudah menjadi makanan nya sehari hari.

JANGAN BAPER!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang