Chapter ini saya persembahkan untuk AdorableNight yang butuh semangat untuk menjalani hari dan teruntuk pembaca sekalian yang penasaran akan kelanjutan hubungan Seokjin dan Ray. Yah, walaupun tidak berisi yang manis-manis, saya harap semuanya bisa terhibur.
Fighting💜💜💜
Saya berusaha sebisa mungkin rep semua komen yang masuk walaupun sekedar kasih emoticon. Namun ada beberapa komen yang sengaja saya abaikan lantaran mengandung spoiler, dan dikhawatirkan mampu menghilangkan esensi yang misterius dari fic ini.
Karena saya juga tidak menyangka bahwa jalan pikiran saya bisa ditebak dari komen-komen yang 'terabaikan' itu.😆😆😆
Selamat membaca.
.
.
.
"Biar aku saja." Mino menahan piring Seokjin yang hendak terangkat dari tempatnya, sementara Seokjin sudah berdiri dan berniat untuk mencucinya. "Kau terlihat buruk, Seokjin. Sebaiknya kau naik ke kamarmu dan beristirahat." Ucapnya lalu merebut piring bekas makan Seokjin dan mendorong pemuda itu keluar dari ruang makan.
Seokjin yang memang sudah tak bisa berbuat banyak hanya bisa pasrah dan melangkah menaiki tangga.
"Kasihan dia." Ujar Jihoon sembari mulai membereskan meja.
Mino yang tengah menyibukkan diri mengusapi permukaan piring dengan sabun hanya bisa menggedikkan bahu. Ia juga kasihan pada Seokjin. Apa yang terjadi hari ini di toko mereka sepertinya cukup menguras pikiran pemuda itu. Sebelumnya pria asing yang mendadak mengajaknya berkencan, dan hari ini ditambah lelaki aneh yang tiba-tiba datang tanpa keinginan memesan apapun lalu duduk di salah satu sudut toko dan tak mau pergi saat diajak bicara baik-baik, dan malah beralasan bahwa dirinya menyukai suasana toko itu. Mino dan Jihoon tak sebodoh itu untuk tak mengerti bahwa pria itu tengah mengamati Seokjin, terbukti dari biji mata yang terus bergulir liar kala menyaksikan Seokjin keluar dari dapur dan hendak memajang beberapa roti dan kue di lemari pendingin.
"Mino."
Beruntung yang dipanggil telah menyelesaikan urusannya hingga ia bisa fokus pada Jihoon yang terlihat serius memangku dagu di atas sepuluh jari yang terjalin.
"Orang yang satunya itu terlihat aneh, kan?"
.
.
.
.
Seokjin duduk di sisi ranjangnya dan melakukan beberapa perenggangan pada lehernya. Sesekali ia memijitnya dan menjalar sampai bahu yang sedikit terekspos lantaran kaus oversize yang dikenakan, lalu ia menyadari sesuatu yang telah lama dilupakannya.
Bekas gigitan Namjoon.
Seokjin kembali merabanya karena ia tak dapat melihat tanpa bercermin. Kulit di bagian bekas itu terasa timbul dan tak halus seperti sebelumnya yang hanya memperlihatkan memar keunguan. Seokjin bahkan tak ingat jika mungkin saja ia tak sengaja membentur sesuatu dan mengenai bagian itu.
Awalnya Seokjin tak mau berlama-lama larut pada pemikiran yang tak perlu, namun begitu ia ingat bahwa rasa lelahnya hari ini bersumber dari tiga hal yang tidak mampu di antisipasinya, ia bahkan dapat mengurungkan niat untuk merebahkan tubuh yang terasa hampir remuk itu.
Satu, Seokjin tak tahu bahwa sambutan atas bukanya toko kue yang dirintisnya bersama Jihoon dan Mino sangat baik hingga pembeli membludak dan rela mengantri demi sekedar membeli sepotong kue. Untuk urusan ini rasanya ia harus beritahukan pada Dongwook bahwa ia butuh bantuan. Ia tak bisa terus bekerja sendiri jika keadaan terus seperti itu. Padahal ia dan Dongwook hanya beranggapan bahwa toko itu tak akan semaju ini. Dan teruntuk Seokjin, ia bersedia pindah hanya karena ingin mengenang Namjoon-nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MOONCHILD [ Namjin ]
FanficEven in the crowd, you will never misunderstand your mate's scent. You will never be able to reject it when that happens to you. It will make you want to run and grab him as fast as you can in your arms. Realize, he is your soul mate. Alternate Univ...
![MOONCHILD [ Namjin ]](https://img.wattpad.com/cover/179167339-64-k540365.jpg)