° Makanan juga punya perasaan, tahu. °
•••
Mungkin agenda pagi ini akan masuk dalam daftar babak paling menyebalkan yang pernah dilalui oleh Min Yoongi. Harusnya di hari sabtu ini Yoongi bisa menghabiskan waktu seharian penuh untuk liburan di pulau kapuk tanpa halangan apa pun.
Tetapi sepertinya Jeon Hoseok kali ini berhasil membuat Yoongi jengkel setengah mati, laki-laki itu memang paling ahli membuat rencana Yoongi berantakan; benar-benar luluh lantak dalam sekejap. Tidak ada hujan, tidak ada badai, kini Hoseok beserta anaknya sudah muncul di depan rumah.
Yoongi menatap tak percaya pada sebuah makhluk kecil imut yang kini tengah menatapnya dengan bola mata yang berbinar-binar, sejurus kemudian si pria berkulit pucat itu melempar tatapan sengit pada pria yang menggendong buntalan menggemaskan itu.
Sosok yang dilempari tatapan tajam menukik hanya terkekeh pelan seraya mengoper Jungkook ke tangan Yoongi, lalu Hoseok meletakkan sebuah tas kecil yang dihiasi pernak-pernik berbentuk kelinci (yang berisi peralatan milik anaknya) di dekat kaki Yoongi. Dia memasang senyum lima jari dan berkata cepat, "Kak Yoongi! Titip Kookie, ya. Jimin pergi ke sekolah dan bibi Nam sedang sakit, lalu aku mendadak mendapat panggilan untuk pergi sesegera mungkin ke kantor."
Yoongi mendecak, sekilas mencium pipi gembil milik bocah laki-laki berumur empat tahun di dekapannya. "Tega sekali kau ini, ya. Akhir pekan yang biasanya—"
"Sebentaarrrr saja, Kak. Janji tidak lama-lama, deh."
Akhirnya dengan separuh ikhlas laki-laki berkulit pucat tersebut mengangguk.
Hoseok meraih wajah Jungkook, memberikan kecupan hampir di seluruh wajah putranya itu dan diakhiri dengan pesan agar Jungkook patuh dengan semua ucapan Yoongi dan berjanji untuk tidak berbuat nakal. Sebelum benar-benar meninggalkan pekarangan milik rumah Yoongi yang tampak sederhana itu, Hoseok sempat melambaikan tangan sembari berujar, "Oh, ya! Jungkookie belum sempat sarapan. Tolong buatkan dia sup, ya, Kak Yoongi yang baik hati dan tidak sombong." Menjatuhkan atensi pada Jungkook dan memberikan flying kiss. "Dadah, Kookie! Jadi anak baik, ya."
Meloloskan napas lelah, Yoongi memandang datar mobil Hoseok yang mulai melaju menjauhi rumahnya. Lantas Yoongi buru-buru mengambil tas milik Jungkook dan membawa bocah itu ke dalam rumah setelah mengunci pintu.
Mendaratkan tubuh mungil Jungkook pada sofa di ruang tengah. Pria itu mengelus kepala bocah empat tahun tersebut penuh sayang. "Kookie diam di sini sebentar, ya." Mengambil remote televisi di atas meja kecil dan menyalakan benda elektronik tersebut. Mencari saluran yang biasa menayangkan kartun anak-anak di pagi hari. Kemudian merendahkan tubuh di hadapan Jungkook yang menatapnya keheranan. "Paman mau masak sup buat Kookie dulu. Yang anteng, ya, sayang. Mau camilan?"
Jungkook yang kala itu sudah setengah kurang fokus karena rungunya mendengar suara nyanyian dari televisi hanya menggelengkan kepala dua kali seraya berkata dengan suara imutnya, "Kan Kookie belum makan nasi. Kata ayah kalau makan camilan sebelum makan nasi nanti perut Kookie jadi sakit, Paman."
"Oh begitu?"
"Huum."
"Ya sudah. Tunggu sebentar, ya, Kookie."
Anak itu tidak menyahut sebab atensinya sudah tersedot penuh pada kartun di depannya. Yoongi yang sudah menapaki dapur sesekali mengawasi gerak-gerik Jungkook dari sana. Meski sebenarnya tidak ada yang perlu dicemaskan, karena pada dasarnya Jungkook itu bukan anak yang merepotkan yang mampu membuat pengasuhnya kalang kabut karena tingkah anarkis yang menyebalkan. Jeon Jungkook itu terlalu tenang untuk ukuran balita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
FanfictionDalam sungai kehidupan yang dialiri kisah berisi air mata dan tawa dari afeksi, serta diiringi konversasi dengan rasa manis dan pahit pada setiap sekon yang terlampaui. Dari hulu sampai hilir. Bermuara pada batas perpisahan-diakhir perjalanan nanti...
