03. Ada Apa Dengan Jiminie?

3.4K 510 77
                                        

° Siapa di antara kalian yang sudah mematahkan hati Jiminie-ku? Hayoo, mengaku! °

°°°

Jimin menggulirkan bola mata malas tatkala melihat beranda media sosialnya yang dipenuhi dengan berita heboh mengenai hari jadian si teman dan ... gebetan—ah, tidak, maksud Jimin itu—mantan calon pacarnya.

Kesal? Wah, luar biasa! Tidak dapat didefinisikan sebesar apa kekesalannya, bahkan lautan antariksa tidak bisa mewakili—eh, lupakan. Itu berlebihan. Jimin hanya bisa mematri senyum mencemooh seraya memasang posisi tiarap di atas sofa, membiarkan tangan kanan menggantung di udara dengan ponsel yang terjatuh di atas karpet.

Dia kira kasus tikung-menikung itu hanya ada di dalam cerita romance berkedok teen fiction atau barangkali di film atau anime. Ternyata, oh, ternyata, kasus serupa juga bisa terjadi di dunia sesungguhnya. Di antara miliaran manusia yang ada di seluruh penjuru, nama Jeon Jimin ternyata tercatat dalam daftar manusia mengenaskan yang ditikung temannya sendiri. Aduh, sakit sekali, lho. Yang berjuang siapa, yang dapat siapa. Perih.

Masih dengan seragam sekolahnya, pemuda yang saat ini sudah duduk di bangku kelas dua SMA itu menarik bantal di sisi kirinya dan mengubah posisi menjadi berbaring seraya memeluk buntalan empuk tersebut. Sejenak membuang napas berat.

Sudah tahu sakit dan menyesakkan, tapi Jimin masih saja penasaran dengan berita yang sedang jadi trending topic di sekolahnya itu. Dia meraih kembali ponselnya, membiarkan benda itu melayang di depan wajah dan ditahan oleh kedua tangan (berharap ponsel itu tidak terlepas dari genggaman dan menghantam wajahnya begitu saja). Jimin mengecek satu-persatu postingan yang terpampang di layar. Tuh, kan. Ramai sekali yang membicarakan pasangan baru itu.

The Best Couple. Tjih. Padahal baru resmi hari ini.

Untung saja, ya, untung banget tidak ada yang tahu kalau Jimin itu menaruh rasa pada gadis yang sudah dilabeli sebagai pacar oleh temannya itu—atau barangkali Jimin harus menyebut si dia sebagai mantan teman? Ah, tidak. Biarkan saja, deh. Pusing-pusing amat, sih. Pemuda bermata sipit itu jadi bertanya-tanya, "Dia masih punya nyali tidak, ya, untuk menyapaku? Aish! Teman menyebalkan."

"Siapa?"

Jimin refleks menoleh ke arah kiri. Mendengkus seraya memandang malas seonggok manusia imut yang terlihat semakin imut karena memakai busana yang berwarna terang—biru langit yang dihiasi gambar tom and jerry di bagian tengah baju. Sebuah buku alfabet dijepit di ketiak oleh bocah itu.

Jimin menyimpan ponsel di atas sofa, lalu melepas dasi yang tadinya sudah terlihat semrawut. Menyahut ucapan Jungkook tanpa minat, "Bukan siapa-siapa, kok."

"Oh." Membentuk huruf O pada bibir selama beberapa sekon, setelahnya bocah tersebut mendekat selangkah ke arah Jimin. Menyodorkan buku ke pemuda berusia tujuh belas tahun itu. "Ajari Kookie membaca, dong, Jiminie."

Mendadak merotasikan bola mata. "Panggil aku dengan sebutan yang sopan, baru kuajari."

"Paman Jimin?"

"Aku masih muda, tolong. Panggil aku Kak Jimin, Kookie."

Anak laki-laki berusia lima tahun itu menggelengkan kepala dua kali tanda tidak setuju. "Maunya Jiminie atau Paman Jimin, bagaimana, dong?"

"Ya sudah. Aku tidak mau mengajari Kookie membaca."

"Ya sudah. Kookie adukan pada ayah," bisiknya pelan. Menaik-turunkan alis jenaka, Jungkook tersenyum mengejek seraya melirik Hoseok yang tengah kencan dengan laptopnya di meja makan.

"Ck! Dasar pengaduan." Menggulingkan badan hingga mendarat secara kasar di atas karpet lalu duduk dengan ogah-ogahan. Dengan setengah hati Jimin mengulurkan tangan—bermaksud meminta buku yang dipegang bocah berumur lima tahun itu.

Mendadak Jungkook merasa sebal pada pamannya. Sebenarnya hari ini bukan jadwal Jungkook untuk belajar mengenal alfabet, tetapi tatkala mendapati wajah Jimin yang murung disertai gerakan menggeret tas di lantai selepas pulang sekolah membuat kuriositas Jungkook meningkat dan mau tidak mau, Jungkook akhirnya mempercepat agendanya—buat basa-basi saja, sih. Dalam hati bocah itu jadi menerka-nerka— Apa yang membuat Jiminie digulung mendung? Siapa yang berani memadamkan cahaya bling bling milik Jiminie?

Kookie sebal! Jiminie jadi terlihat jelek kalau murung begitu.

Menyerahkan buku dan melihat dalam diam saat Jimin mengikat dasi di kepala (untuk menghalau poninya yang sudah memanjang). Pemuda itu mulai membalik lembar demi lembar halaman buku yang kini sudah diletakkan di atas karpet. "Kookie terakhir baca itu sudah sampai halaman berapa, ya?"

Alih-alih menjawab, Jungkook malah melempar tanya yang sukses menciptakan cerukan tipis pada kening Jimin. "Jiminie kenapa, sih?"

"Kenapa apanya?" sahutnya tak mengerti.

Menunjuk menggunakan dagu. Jungkook berbicara polos. "Itu. Wajahnya seram-seram begitu. Mendung. Sebentar lagi hujan, ya?"

Hoseok yang ada di meja makan menyeletuk tepat sasaran. "Paling juga patah hati." Terkekeh-kekeh sebentar sebelum melanjutkan, "Betul atau betul, Jim?"

Lagi-lagi menggulirkan bola mata sebal, Jimin merajuk. "Ih, Kak Hoseok jangan meledek, dong."

Patah hati?

Jungkook memiringkan kepala tanda tak mengerti dengan istilah tersebut. Pelan-pelan anak itu berdiri lalu menjatuhkan diri pada kaki pamannya yang menyila. Jimin sampai dibuat kebingungan sebab tiba-tiba Jungkook melingkarkan kedua lengan kecil pada pinggangnya. Menempelkan salah satu telinga tepat di dada Jimin dan berkata, "Katanya patah hati, tapi kok tidak terdengar suara kretek-kretek?"

Lantas setelahnya ada tawa yang meledak. Itu Hoseok. "Astaga, Jimin! Sudah jatuh lalu tertimpa tangga. Sudah patah hati, eh, diejek anak kecil pula." Pria itu terpingkal-pingkal seraya memegangi perut. "Ternyata tertawa di atas penderitaan orang lain itu seru juga, ya. Kretek-kretek! Paman Jiminie hatinya kretek-kretek!"

Kretek-kretek apanya?!

Jimin memasang senyum tabah seraya menahan malu. Pemuda itu memeluk Jungkook erat-erat, sementara yang dipeluk meronta minta dilepaskan. "Ih, Kookie menggemaskan sekali, lho. Ingin Jiminie gantung di pohon taoge, deh." []

SemestaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang