°Perihal bagaimana sepasang kakak beradik yang saling melempar diksi-diksi penuh arti untuk merajut konversasi yang tidak memiliki tepian, namun tak cukup mampu meluruhkan kesakitan yang dipendam sendirian, dan tidak sanggup untuk meriuhkan perasaan yang dilanda kesepian, sebab salah satu di antara mereka melakukan distorsi serta manipulasi dalam percakapan.°
•••
"Kookie pasti marah pada Kakak."
Jika tidak keliru, barangkali itu adalah pernyataan yang dilempar Hoseok untuk yang ketiga kali tepat saat rengkuhan sudah tak lagi melingkari tubuh mereka. Jimin tidak memberi jawab, cuma agaknya sang kakak mengerti benar bahwa jika tak ada aksara yang dibuang Jimin, itu berarti si adik mengiakan afirmasinya.
Membuang napasnya agak lambat, menepuk bahu kakaknya pelan, menatap dengan sorot mata meyakinkan ketika berujar, "Kookie bilang dia tidak marah. Hanya saja, aku pikir Kookie justru menyimpan perasaan lain di dadanya. Kekecewaan?" Menemukan mendung di atas kakaknya yang begitu kentara. "Jelas yang pasti bahwa Kookie sangat kecewa padamu, Kak."
Bahunya meluruh, asanya berjatuhan. "Sekarang Kookie ada di mana?"
"Kookie akan baik-baik saja bersama kak Yoongi dan istrinya. Untuk sementara waktu tolong biarkan Kookie tinggal di sana dulu, ya, Kak." Mengulum senyum setengah garis. "Paling tidak biarkan Kookie bernapas sedikit lebih bebas, sebab Kakak sudah membuatnya sangat kesulitan akhir-akhir ini."
Hoseok menunduk, mengusap wajahnya sedikit lelah. Jemarinya menarik surai sendiri agak frustrasi, tubuhnya sontak berbalik dan mengikuti langkah Jimin yang bergerak menuju dapur. Hoseok menatap pucat punggung baju Jimin yang sepenuhnya basah. "Kakak sudah menjadi pria yang berengsek sekali, bukan?"
Ya. Berengsek sekali untuk ukuran seorang ayah satu anak. Jimin merapalkan dalam hati, tetap memasang telinga untuk mendengarkan dengan kedua tungkai yang mulai bergerak untuk masuk ke dalam rumah lebih dalam.
"Dan, Kakak rasa permintaan maaf yang digaungkan secara berulang-ulang pun tidak akan bisa memperbaiki apa yang sudah terjadi."
Tungkainya seketika stagnan. Bukan, itu bukan karena ia mendengar penuturan Hoseok, ia cuma sedikit terkejut ketika melihat kaleng-kaleng soda yang berantakan di meja makan. Jimin sudah menduganya; kakaknya memang terluka lebih banyak atas apa yang menimpa keluarga Jeon balakangan ini. Namun, di salah satu sudut nuraninya, Jimin bersyukur sebab kakaknya tidak meminum alkohol atau soju.
Tidak menyahut, Jimin langsung memunguti kaleng-kaleng yang berserakan, menempatkan benda itu satu persatu di atas meja, sebelum dimasukkan ke dalam tempat sampah. Sempat mengusap wajahnya sesaat ketika ia merasa ruangan dapur seperti berputar. Mengedipkan manik beberapa kali, menggelengkan kepala sembari menarik napas agak lambat, meredam kesakitan yang hampir membuat tubuhnya limbung.
"Benar. Jika Kakak membuat kekacauan di sebuah ruangan, atau menumpahkan secangkir kopi di atas meja, apa dengan menuturkan kata maaf maka semuanya akan kembali seperti semula?" Menggapai satu kaleng terakhir di dekat kaki meja, lalu melanjutkan tanpa menoleh, "Mengucapkan permohonan maaf berkali-kali tidak akan bisa merapikan lagi kekacauan yang Kakak buat, bahkan untuk tumpahan kopi sekalipun, airnya juga tidak akan mengalir kembali ke dalam cangkirnya, kan?"
"Ya, Kakak mengerti, Jimin."
"Jangan cuma mengatakan kata maaf, tetapi cobalah untuk banyak bertindak, Kak." Sepintas bagaimana ekspresi sedih yang menari di atas wajah Jungkook terputar lagi dalam ruang pikirnya, seketika Jimin menerbitkan senyum penuh getir. "Meski sebenarnya aku sudah tahu kalau Jungkook telah memaafkan Kakak, walau Kakak sendiri tidak melemparkan permohonan itu padanya. Kookie marah, tetapi dia tidak benar-benar menunjukkan amarahnya. Bahkan ia berkata padaku bahwa sudah sepatutnya memberikan maaf, walau pihak yang bersalah tak sekalipun mengaku bahwa dirinya salah atau mencoba untuk menuturkan maaf. Hebatnya, pemikiran Kookie yang seperti itu adalah nasihat dari Kakak sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
FanfictionDalam sungai kehidupan yang dialiri kisah berisi air mata dan tawa dari afeksi, serta diiringi konversasi dengan rasa manis dan pahit pada setiap sekon yang terlampaui. Dari hulu sampai hilir. Bermuara pada batas perpisahan-diakhir perjalanan nanti...
