°Kookie punya banyak waktu untuk main bersama Ayah. Tapi Ayah hanya punya sedikit waktu untuk senang-senang dengan Kookie. Sedih, deh.°
........
Sekarang Jungkook sudah berumur delapan tahun. Tapi masih imut-imut, kok. Masih suka susu pisang, masih senang minta dicium pipi kanan-kiri oleh ayah, masih mau dipeluk-peluk oleh Jiminie. Kadar manis Jeon Jungkook tidak pudar barang secuil; lucunya masih bertumpuk-tumpuk. Tidak banyak yang berubah, hanya saja Jungkook jadi lebih kalem semenjak sekolah.
Apabila membicarakan tentang apa-apa saja yang tak lagi sama di saat ini, maka ayah dan paman mochinya yang terlihat berbeda di mata Jungkook.
Sejak jadi mahasiswa jurusan seni, Jimin sering sekali disibukkan dengan tugas dan berbagai kegiatan lainnya. Jungkook paling hanya bertemu Jimin satu hingga dua kali dalam seminggu, sebab pamannya itu jarang berada di rumah, cuma ada pas akhir pekan atau liburan saja. Sering menginap di rumah temannya, karena jarak rumah mereka yang cukup menyita waktu apabila Jimin tetap memaksa pulang-pergi dari rumah ke kampus setiap harinya. Pasti lelah, mana jomblo. Lelahnya pasti makin-makin, tuh.
Terlebih ayah juga makin gila kerja. Pergi pagi, pulang malam. Jarang sekali sarapan bersama. Kalau mau sekolah pun Jungkook hanya ditemani oleh bibi Nam. Terkadang Jiminie juga antar Kookie sekolah, sih. Paman Yoongi juga. Kalau ayah tidak pernah sama sekali. Tapi tak apa, ayah kan bekerja terlalu keras untuk mencukupi kehidupan keluarga Jeon. Jadi Jungkook tidak mau terlalu menuntut juga.
Tetapi di hari ini (pernah Jungkook lakukan di waktu-waktu lalu) ia ingin ajak ayah untuk bermain di akhir pekan, mumpung sedang libur. Tadi-tepatnya pukul tujuh malam-paman Jimin memberikan Jungkook tiga tiket untuk masuk ke taman hiburan. Bocah lelaki itu antusias sekali sampai-sampai peluk Jimin hingga jatuh dan berlarian secara heboh menuju ruang kerja sang ayah.
Baru tiga menit dia berceloteh riang, lantas setelahnya langsung bungkam kala ayah berujar, "Ayah sibuk sekali, pekerjaan ayah banyak. Lain kali saja, bagaimana?"
Ah, Jungkook kecewa. Untuk yang kesekian kalinya ayah menolak ajakannya. Sepetak gurat bersalah ayah pancarkan di atas wajah. Jungkook buang napas pelan-pelan. Lain kali ayah itu kapan, ya?
"Tidak apa-apa, kok! Nanti Kookie bilang pada Jiminie, kalau kita tidak jadi pergi dan akan bermain bersama di lain kali saja," ucap Jungkook dengan senyum yang dipaksakan.
Hoseok menjatuhkan pulpen dari jemari, memijit kening sebentar sebelum berikan seluruh atensi pada anaknya yang masih setia berdiri dengan tiga buah tiket taman hiburan dalam genggaman. Ayah satu anak itu berkata lembut, "Kookie." Menciptakan satu kurva pada bibir kala si anak menoleh. "Minggu depan, ayah janji kita akan bermain bersama."
"Jangan melakukan itu, Yah."
"Melakukan apa?"
"Memberikan Kookie sebuah janji. Bila hanya untuk diingkari, lebih baik ayah tidak usah berikan Kookie janji-janji." Jungkook melipat tiketnya dan dimasukkan ke dalam saku celana. Menggaruk pipi kanan sebelum kembali ucap kata, "Minggu lalu ayah juga bilang kalau minggu depan kita bisa main, dan sekarang ayah bilang minggu depan lagi. Terus saja seperti itu hingga tahun berikutnya."
Sebelumnya Jungkook pernah mengajak ayah untuk datang ke karnaval mingguan dan ayah tidak bisa. Ayah bilang mereka bisa datang di minggu depan, tapi sampai kini belum terlaksana. Minggu depan. Minggu depan. Ayah ingkar dan Kookie tidak suka diberi kebohongan yang serupa di tiap minggunya.
"Ayah sayang Kookie, tidak?" -atau barangkali ayah lebih sayang pada uang, ya?
"Ayah sayang sekali pada Kookie. Sayang banyak-banyak. Tapi ayah memang sedang sibuk sekarang, jadi ... maafkan ayah, ya, Nak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
FanfictionDalam sungai kehidupan yang dialiri kisah berisi air mata dan tawa dari afeksi, serta diiringi konversasi dengan rasa manis dan pahit pada setiap sekon yang terlampaui. Dari hulu sampai hilir. Bermuara pada batas perpisahan-diakhir perjalanan nanti...
