° Membantu bebek-bebek menyeberang jalan itu menyenangkan, ya. °
°°°
"Waiting for you Anpanman~ Waiting for you Anpanmaaaannnn~~"
Sembari menggoes sepeda roda empatnya, Jungkook melantunkan lagu yang akhir-akhir ini sering diputar oleh Jimin. Namun, mendadak dirinya mendesis dan memajukan sepasang bibir karena merasa sebal. Kesal karena tidak mendengar suara Jimin yang menyahut, 'Lemme hear ya say, lemme hear ya say!' atau 'Turn it up, turn it up, turn it up!'
Pokoknya pagi kali ini menyebalkan. Banget! Menggoes sepeda adalah kegiatan wajib yang akan Jimin dan Jungkook lakukan di tiap pagi di hari sabtu dan minggu. Tetapi, suasana pagi kali ini hanya Jungkook nikmati sendirian.
Awalnya, Jungkook kira kalau Jimin itu masih marah dan mengambek perihal kejadian di mana Jungkook mengadu pada Hoseok mengenai keadaan kamar Jimin yang luar biasa kacaunya, karena setelahnya Hoseok benar-benar memangkas uang jajan adiknya. Uang jajan dua minggu harus dipakai untuk sebulan. Irit-irit, deh. Jimin bahkan sampai rutin bawa bekal dari rumah, padahal Jungkook tahu—sangat-sangat tahu kalau pamannya itu anti sekali bawa makanan dari rumah. Malu-maluin, katanya.
Aku kan bukan anak perempuan! —Jimin akan memuntahkan kata itu jika dirinya diberi sebuah kotak makan oleh Hoseok. Uh, padahal kan, ya, masakan rumah itu lebih enak dibanding jajanan yang dijual di kantin.
Akhirnya, Jimin kena batunya, deh. Jimin tidak marah atau ngambek, alasan mengapa dia absen dalam kegiatan rutinnya dengan Jungkook adalah karena paman mochinya itu sedang sakit. Bolak-balik kamar mandi, wajahnya pucat seperti vampir, dan sesekali dia mengeluh pusing—di bagian ini, sebelum Jungkook pergi untuk bermain sepeda, anak itu menghampiri Jimin yang sedang tertidur di kamar. Mengusap kepala pemuda itu dengan lembut seraya berkata, "Jiminie ... kalau pusing, kepalanya dilepas dulu saja. Dijamin pusingnya hilang, deh." meski di sekon setelahnya anak itu malah bergidik seraya memegangi kepala seolah benda itu akan menggelinding bila tidak dijaga. Seram, ya, jika dibayangkan. Jungkook jadi merutuki mulutnya sendiri. Punya kepala pusing, tidak punya kepala seram. Duh, serba salah.
Ya, sudah, deh. Jiminie kan hanya manusia biasa, bukan Anpanman apalagi Kookieman. Pamannya itu payah, tidak hebat seperti super hero. Jadi, ya, wajar saja kalau dia tepar karena diserang diare dan demam.
Lupakan sehari mengenai Jiminie yang sekarang tengah mengistirahatkan tubuhnya dari segala aktivitas aktif yang biasanya dilakukan para remaja di akhir pekan, kali ini Jungkook memilih untuk bertandang ke rumah Kim Taehyung. Senang, deh, saat tahu kalau dia punya teman sekolah yang tinggalnya di satu lingkungan yang sama. Jadi, kalau mau apa-apa gampang. Cukup melompati satu blok dan melangkahi tiga rumah, bermodalkan sepasang tungkai atau sepeda roda empat kesayangan, Jungkook bisa sampai di rumah Taehyung hanya dalan hitungan menit.
Jungkook memarkirkan sepedanya di sisi jalan. Anak itu berbicara, "Baik-baik di sini, ya. Jangan pergi meninggalkan Kookie, ya, sepeda kesayangan!" kemudian Jungkook membawa kedua tungkai untuk melangkah di jalan setapak yang di sisi kanan dan kirinya ditumbuhi rumput hijau. Dia menghampiri anak lelaki yang sedang duduk di bangku teras dengan sebuah helm kecil dan satu pedang mainan. Saat sudah hampir sampai, Jungkook memiringkan kepala dan berkata, "Aduh, aduh, masuk deh kepala Kookie!"
Mendadak bocah yang sedang menguap itu mengatupkan bibirnya, kemudian menatap Jungkook sebal. "Memangnya mulut Taetae ini vacum cleaner apa!"
Lantas ada tawa yang meledak. Itu Jungkook yang kini sedang berjongkok seraya memegangi perut sendiri. Menengadahkan kepala seraya terkikik kecil-mencoba untuk berhenti tertawa. "Makanya kalau menguap itu ditutup mulutnya." Meletakkkan telapak tangan kanan di depan mulut, Jungkook sedang dalam usaha memberikan tutorial menguap yang baik dan benar kepada anak lelaki pemilik senyum persegi yang kini tengah bersedekap seraya memajukan bibir. "Seperti ini!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
FanfictionDalam sungai kehidupan yang dialiri kisah berisi air mata dan tawa dari afeksi, serta diiringi konversasi dengan rasa manis dan pahit pada setiap sekon yang terlampaui. Dari hulu sampai hilir. Bermuara pada batas perpisahan-diakhir perjalanan nanti...
